Cuaca Tak Menentu, Korban Keracunan MBG Terus Bertambah: Orang Tua Santri & Wali Murid Diliputi Cemas
-Baca Juga
Cuaca yang tidak menentu kadang hujan deras, kadang panas menyengat menjadi latar suasana yang menekan di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Di tengah kondisi alam yang labil itu, jumlah korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) justru mengalami peningkatan signifikan.
Hingga Senin, 12 Januari pukul 20.00 WIB, total korban terdampak mencapai 384 orang. Dari jumlah tersebut, 158 orang masih menjalani perawatan rawat inap, sementara 226 orang lainnya menjalani rawat jalan.
Data itu disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini Sulistyowati, usai rapat koordinasi Satgas MBG Pemkab Mojokerto yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Teguh Gunarko di Smart Room SBK, Sekretariat Daerah Pemkab Mojokerto, kepada DETAK INSPIRATIF.
“Kami pastikan sampai saat ini tidak ada korban meninggal dunia,” tegas Dyan.
Klarifikasi Isu Meninggal Dunia
Dyan secara khusus meluruskan informasi yang sempat beredar luas di masyarakat mengenai dua orang dewasa yang disebut meninggal dunia akibat MBG.
“Informasi tersebut tidak benar. Salah satu yang disebut-sebut adalah seorang nenek wali murid. Setelah dilakukan pemeriksaan medis di RSU Prof. Dr. Soekandar Mojosari, diketahui yang bersangkutan memiliki riwayat penyakit jantung kronis dan tidak ada hubungan dengan konsumsi MBG,” jelasnya.
Penegasan serupa juga disampaikan oleh Yo’i Afrida, Satgas sekaligus Plt Dinas Pendidikan Pemkab Mojokerto, usai rapat Satgas MBG.
“Kami bersama Dinas Kesehatan dan seluruh unsur Satgas sepakat menyampaikan ke publik bahwa tidak ada korban meninggal dunia akibat MBG,” ujarnya.
Kecemasan Orang Tua Meningkat
Meski pemerintah daerah menegaskan tidak ada korban jiwa, suasana kebatinan orang tua wali santri dan wali murid di Kutorejo justru kian mencekam. Bertambahnya jumlah korban, ditambah cuaca ekstrem yang berpotensi memperparah kondisi kesehatan anak-anak, membuat banyak orang tua panik dan cemas.
Sejumlah wali murid memilih menarik anaknya sementara dari kegiatan belajar, sementara sebagian lain berjaga penuh di posko dan rumah sakit, menunggu perkembangan kondisi putra-putri mereka.
Kasus ini kini tidak lagi semata soal angka korban. Pertanyaan publik mengarah pada kualitas pengawasan, SOP keamanan pangan, dan respons krisis dari penyelenggara MBG, khususnya SPPG sebagai entitas teknis pemenuhan gizi.
Situasi ini menuntut:
Transparansi hasil uji laboratorium
Penjelasan ilmiah yang mudah dipahami publik
Langkah korektif yang nyata, bukan sekadar administratif
Di tengah kecemasan masyarakat, kehadiran negara tidak cukup hanya meninjau dan menjenguk, tetapi juga memberi kepastian dan rasa aman.
Dari 19 ke 384 Korban: Keracunan Massal Makan Bergizi Gratis di Mojokerto
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah kebijakan strategis pemerintah pusat.
Ia dirancang untuk memastikan anak-anak Indonesia khususnya usia sekolah mendapat asupan gizi layak sebagai fondasi pembangunan manusia.
Namun di Mojokerto, Jawa Timur, program ini justru menjadi titik krisis.
MBG di wilayah Kutorejo disuplai oleh SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, yang pada hari kejadian menyalurkan 2.679 porsi soto ayam ke sekitar 20 sekolah dan lembaga pendidikan, termasuk pesantren.
Alih-alih menyehatkan, makanan itu diduga menjadi pemicu keracunan massal terbesar dalam sejarah implementasi MBG di daerah.
TIMELINE KRONOLOGIS: DARI 19 KE 384 KORBAN
Fase Awal – Sinyal Bahaya
( Jum’at, 9 Januari 2026)
Keluhan awal: mual, muntah, pusing, diare
Korban awal terdata: 19 orang
Belum ada status darurat
Fase Akumulasi
(Jumat–Sabtu, 10–11 Januari 2026)
Korban terus bertambah
Pasien mulai dirujuk ke RSU Prof. dr. Soekandar
Posko kesehatan mulai dibuka
Fase Perhatian Provinsi
(Minggu, 11 Januari 2026)
Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak turun langsung
Data resmi:
261 korban
Dari 7 lembaga penerima MBG
Pemerintah Provinsi masuk mengawal
Fase Krisis Publik
(Senin, 12 Januari 2026 | pukul 20.00 WIB)
Lonjakan signifikan:
384 korban
158 rawat inap
226 rawat jalan
Korban tersebar di 13 fasilitas kesehatan
Fase Konsolidasi Negara
(Selasa, 13 Januari 2026)
Rapat Koordinasi Satgas MBG Pemkab Mojokerto
Dipimpin Sekda Teguh Gunarko
Kadinkes Dyan Anggrahini Sulistyowati menegaskan:
“Hasil laboratorium terkait makanan MBG akan diketahui dan diumumkan Rabu, 14 Januari 2026.”
FASILITAS KESEHATAN BEKERJA TANPA HENTI
Sebaran Faskes Penanganan Korban:
RSUD Prof. dr. Soekandar
RS Sumberglagah
RS Mawaddah
RSI Arofah
RS Kartini
RS Sido Waras
RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo
RS Dian Husada
RSI Sakinah
Puskesmas Pacet
Puskesmas Kutorejo
Puskesmas Bangsal
Puskesmas Dlanggu
Mayoritas pasien adalah anak-anak di bawah 17 tahun (usia SMP dan santri) aset strategis bangsa.
SPPG, SOP, DAN PERTANYAAN BESAR
SPPG adalah entitas teknis.
Mereka bukan sekadar katering, melainkan penanggung jawab kualitas gizi dan keamanan pangan.
Pertanyaannya:
Apakah bumbu soto ayam sudah melewati masa aman?
Apakah terjadi kontaminasi silang?
Apakah SOP suhu, penyimpanan, dan distribusi benar-benar dijalankan?
Apakah faktor cuaca ekstrem (panas–hujan) mempengaruhi stabilitas pangan?
Operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 kini dihentikan sementara.
NEGARA HADIR DAN HARUS TETAP TINGGAL
Bupati Mojokerto Muhammad AlBarra hadir menjenguk pasien.
Wakil Gubernur Jawa Timur turun langsung.
Satgas lintas sektor dibentuk.
Namun sejarah kebijakan publik mencatat:
Negara sering datang saat krisis,
tapi pulang sebelum evaluasi tuntas.
Kasus Mojokerto adalah ujian nasional:
Bukan hanya soal makanan,
tapi soal kepercayaan publik.
KERACUNAN PANGAN MASSAL BISA TERJADI KARENA:
Bahan baku terkontaminasi
Bumbu kedaluwarsa
Suhu masak tidak optimal
Pendinginan & distribusi tak sesuai SOP
Cuaca ekstrem tanpa mitigasi pangan
INFOGRAFIK
Timeline visual: 19 → 261 → 384
Peta sebaran 13 Faskes
Diagram alur MBG: Dapur SPPG → Distribusi → Sekolah → Konsumsi → Dampak
EDITORIAL
Keracunan MBG di Mojokerto bukan sekadar insiden daerah.
Ia adalah alarm nasional.
Jika makan gratis saja belum aman,
bagaimana kita bicara tentang masa depan generasi emas?
Negara sudah datang.
Sekarang, jangan pulang sebelum semua terang
