DARI DAPUR SEKOLAH KE RUMAH WARGA. Eskalasi Keracunan Massal MBG Mojokerto Bertambah, Ujian Serius Sistem Pangan Negara
-Baca Juga
ANGKA YANG TERUS BERTAMBAH
Senin, 12 Januari 2026, angka itu kembali bergerak naik.
Bukan lagi ratusan kecil, tapi 349 orang.
Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko, menyampaikan data terbaru kepada wartawan:
190 orang telah dipulangkan, sementara 159 lainnya masih menjalani perawatan intensif di berbagai fasilitas kesehatan.
Para korban tersebar di 13 rumah sakit dan puskesmas, baik milik pemerintah maupun swasta. Situasi ini menjadikan kasus Mojokerto sebagai salah satu insiden keracunan pangan massal terbesar yang pernah terkait program sosial di Jawa Timur.
KORBAN BUKAN HANYA ANAK SEKOLAH
Awalnya, ini disebut sebagai keracunan siswa dan santri. Namun temuan lapangan mengubah narasi.
Direktur RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari, dr. Gigih Setijawan, mengonfirmasi bahwa pasien dewasa ikut dirawat.
“Beberapa pasien dewasa ikut mencicipi, karena MBG dibawa pulang,” ujarnya.
Di sinilah batas pengawasan runtuh.
Makanan yang dirancang untuk dikonsumsi di sekolah, berpindah ke ruang privat: rumah warga.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pun tak lagi berdampak terbatas pada peserta didik, melainkan meluas ke keluarga penerima manfaat.
Ketua DPRD KABUPATEN MOJOKERTO AINI ZUROH DI SELA DONOR DARAH DI KANTOR DPRD SETEMPAT, SENIN 12 JANUARI 2026.
DUA INFORMASI KEMATIAN, SATU KEHATI-HATIAN
Di tengah eskalasi korban, muncul kabar paling sensitif: informasi dugaan korban meninggal dunia dari kalangan orang dewasa.
Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto, Aini Zuroh, menyampaikan informasi awal di sela kegiatan donor darah di kantor DPRD.
Disebutkan, ada dua orang dewasa wali murid yang diduga meninggal setelah mengonsumsi MBG yang dibawa pulang anaknya.
Namun hingga Senin siang:
Belum ada pernyataan medis resmi
Belum ada hasil laboratorium
Belum ada kesimpulan kepolisian
Redaksi mencatat ini sebagai informasi awal yang masih diverifikasi, bukan kesimpulan sebab kematian.
2.679 PORSI, SATU DAPUR
Program MBG yang diduga menjadi sumber keracunan diselenggarakan oleh SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, berlokasi di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo.
Pada Jumat, 9 Januari 2026:
2.679 porsi soto ayam
Didistribusikan ke 20 sekolah
7 lembaga pendidikan dan pesantren melaporkan dampak
Menu yang tampak sederhana itu soto ayam justru dikenal dalam dunia keamanan pangan sebagai menu berisiko tinggi:
Berbasis protein
Berkuah
Sangat sensitif terhadap suhu dan waktu distribusi
Di sinilah dapur diuji, bukan oleh niat baik, tetapi oleh disiplin sistem.
AHLI GIZI, SISTEM, DAN TITIK GAGAL
SPPG dikenal memiliki tenaga dengan latar belakang gizi. Namun investigasi menunjukkan satu fakta penting:
keahlian gizi tidak identik dengan keamanan pangan massal.
Dalam produksi ribuan porsi, kegagalan bisa muncul di:
Pengendalian suhu
Waktu tunggu distribusi
Sanitasi alat
Kelelahan tenaga dapur
Ketiadaan pengawasan keamanan pangan real-time
Satu kesalahan kecil di dapur berskala besar tak menghasilkan satu korban tetapi ratusan.
Bupati Mojokerto Muhammad AlBarra (jaket Hijau) Koordinasi dan Komunikasi dengan Tenaga Medis RSU PROF. SOEKANDAR MOJOSARI
NEGARA DATANG, KOORDINASI DIPERLUAS
Negara akhirnya hadir secara fisik dan struktural.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak turun langsung
Didampingi Sekda Teguh Gunarko dan Kepala Dinas Kesehatan Dyan Anggraeni
Kodim 0815, Polres Mojokerto, dan Dinkes membentuk tim investigasi gabungan
Operasional SPPG dihentikan sementara
Penanganan medis dipastikan tanpa memikirkan biaya
Langkah ini penting, tetapi publik menunggu lebih dari sekadar penanganan darurat.
DPRD, RDPU, DAN AKUNTABILITAS PUBLIK
DPRD Kabupaten Mojokerto menyatakan akan:
Memanggil SPPG
Memanggil Satgas MBG
Menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU)
RDPU ini krusial. Bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi mencegah pengulangan.
Program nasional tak boleh runtuh oleh kegagalan lokal yang tidak dievaluasi secara terbuka.
PEL AJARAN NASIONAL DARI MOJOKERTO
Kasus Mojokerto adalah cermin.
Bahwa niat baik negara harus berjalan seiring dengan sistem yang disiplin, pengawasan ketat, dan transparansi publik.
Ketika makanan sekolah berpindah ke rumah warga dan menumbangkan orang dewasa, maka persoalannya bukan lagi menu, melainkan arsitektur keamanan pangan negara.
Anak-anak ini adalah masa depan.
Dan setiap porsi makanan yang negara sajikan, membawa tanggung jawab yang sama besarnya.
KERACUNAN MASSAL MBG MOJOKERTO
Per 12 Januari 2026
Total Korban: 349 orang
Sudah Pulang: 190 orang
Masih Dirawat: 159 orang
Menu MBG: Soto Ayam
Total Porsi Didistribusikan: 2.679 porsi
Sekolah/Ponpes Terdampak: 7 lembaga
SPPG: Yayasan Bina Bangsa Semarang 03
SEBARAN 13 FASILITAS KESEHATAN
Rumah Sakit:
RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari
RS Sumberglagah
RS Mawaddah
RSI Arofah
RS Kartini
RS Sido Waras
RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo
RS Dian Husada
RSI Sakinah
Puskesmas:
10. Puskesmas Pacet
11. Puskesmas Kutorejo
12. Puskesmas Bangsal
13. Puskesmas Dlanggu
Ini bukan kasus lokal satu sekolah, tetapi beban sistem kesehatan daerah secara kolektif.
GIZI ≠ KEAMANAN PANGAN
Mengapa makanan bergizi bisa berbahaya?
Gizi mengatur:
Kalori
Protein
Vitamin & mineral
Keamanan pangan mengatur:
Suhu masak & simpan
Waktu distribusi
Sanitasi alat
Risiko bakteri
KENAPA SOTO AYAM BERISIKO TINGGI?
Berbasis protein (ayam)
Berkuah (cepat rusak)
Sensitif suhu 5–60°C (zona bahaya)
RISIKO MBG DIBAWA PULANG
Tidak terkontrol suhu
Dikonsumsi di luar pengawasan
Berpotensi menular ke anggota keluarga
Pelajaran Penting:
Program pangan massal butuh disiplin industri, bukan sekadar niat baik.
Dari 19 Korban hingga 349 Warga Terdampak
Jumat, 9 Januari 2026 | Siang
Distribusi MBG
SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03
Menu: Soto Ayam
2.679 porsi didistribusikan
Menjangkau ±20 sekolah
Konsumsi di sekolah & sebagian dibawa pulang
Sabtu, 10 Januari 2026 | Pagi
Data Awal
19 anak mengalami gejala:
Mual
Muntah
Pusing
Diare
Penanganan awal di lingkungan sekolah/ponpes
Sabtu, 10 Januari 2026 Siang–Sore
Lonjakan Kasus
Korban meningkat cepat
Puluhan santri & siswa dilarikan ke faskes
Ambulans hilir mudik
Kasus mulai dikategorikan luar biasa
Sabtu, 10 Januari 2026 | Malam
Negara Hadir (Pemkab)
Bupati Mojokerto Muhammad AlBarra
Wakil Bupati Muhammad Rizal Octavian
Kadinkes Dyan Anggraeni
Dandim 0815 Letkol Inf Abi Swanjoyo
Data sementara: ±152 korban
SPPG dihentikan sementara
Minggu, 11 Januari 2026 | Siang
Intervensi Provinsi
Wagub Jatim Emil Dardak turun langsung
Peninjauan posko & RS
Data terbaru:
261 korban
Dari 7 lembaga pendidikan
Dikonfirmasi: ada korban dewasa
Mengonsumsi MBG yang dibawa pulang
Senin, 12 Januari 2026 | Siang
Eskalasi Besar
Total korban: 349 orang
Anak-anak & dewasa
Disampaikan Sekda Mojokerto Teguh Gunarko
Rincian:
190 orang sudah pulang
159 orang masih dirawat
Dirawat di 13 fasilitas kesehatan
Muncul informasi awal dugaan 2 korban meninggal (dewasa)
Masih diverifikasi, belum ada pernyataan medis resmi
Eskalasi terjadi sangat cepat (≤72 jam)
Perluasan korban dari anak → dewasa
Distribusi makanan melampaui kontrol sekolah
Beban sistem kesehatan daerah meningkat tajam
Dari 19 anak ke 349 warga,
inilah gambaran bagaimana satu dapur bisa mengguncang satu kabupaten.
EDITORIAL
JIKA ADA NYAWA, NEGARA TAK BOLEH MENUNGGU LAB
Awalnya 19 anak.
Lalu 152.
Kemudian 261.
Kini 349 warga Mojokerto anak-anak dan orang dewasa terdampak keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah alarm keras bagi negara.
Kehadiran Wakil Gubernur Jawa Timur, pemerintah daerah, dan aparat adalah langkah penting. Negara akhirnya datang. Namun kehadiran fisik harus diikuti kehadiran sistemik: evaluasi menyeluruh, transparansi, dan keberanian memperbaiki desain program.
Kasus Mojokerto mengajarkan satu hal mendasar:
makanan sekolah tidak berhenti di pagar sekolah.
Ketika MBG dibawa pulang dan dikonsumsi keluarga, maka dampaknya berubah dari isu pendidikan menjadi isu keamanan pangan publik.
Di sinilah negara diuji.
Bukan pada niat baiknya, tetapi pada ketepatan sistemnya.
Tidak cukup menyebut ini sebagai “dugaan”.
Tidak cukup menunggu hasil laboratorium.
Ketika ratusan warga tumbang, evaluasi harus berjalan seiring dengan penyelidikan.
Program nasional harus berani belajar dari kegagalan lokal.
Jika tidak, risiko yang sama akan berpindah dari Mojokerto ke daerah lain diam-diam, melalui dapur.
Setiap porsi yang negara sajikan, membawa tanggung jawab yang tak boleh ditawar.
Dan ketika ada nyawa yang terancam, negara tak boleh menunggu lab.
