GAUN BARU BIROKRASI, LUKA LAMA YANG BELUM KERING. Pelantikan Tiga Pejabat Eselon II di PEMKAB Mojokerto
-Baca Juga
Kadang ia hanya menjadi panggung tempat luka lama ditutupi gaun baru.”
Pelantikan berlangsung khidmat di Pendopo Graha Majatama.
Di luar karpet merah, bendung mangkrak, anak keracunan, dan perpustakaan yang sunyi.
Bendung Wonokerto: Ganti kontraktor, orangnya sama
MBG: Dari makan bergizi ke antre puskesmas
Perpustakaan: Bangunan ada, pembaca entah di mana
Ketika sumpah jabatan lebih cepat dari penyelesaian masalah.
“NEGARA DALAM JAS LICIN”
Di Pemkab Mojokerto, negara tampil rapi pagi itu.
Sepatu mengkilap, jas disetrika, sumpah diucapkan dengan nada serius seolah kata-kata mampu menyembuhkan luka struktural.
Tiga pejabat dilantik.
Masalah lama berdiri di belakang mereka, tak ikut disumpah, tak ikut dipindah.
Birokrasi kita sering percaya satu hal:
jabatan baru bisa menyelesaikan persoalan lama.
Padahal yang sering terjadi justru sebaliknya
persoalan lama hanya diberi bingkai baru.
Pendopo Graha Majatama pagi itu wangi. Wangi bunga, wangi karpet merah, dan wangi janji.
Rabu, 14 Januari 2026, tiga pejabat berdiri rapi jas licin, wajah sumringah, sumpah jabatan dilafalkan dengan khidmat. Kamera mengklik, protokoler tersenyum, dan birokrasi Mojokerto kembali berganti busana.
Tapi seperti kata teater: kostum boleh baru, lakon sering kali itu-itu juga.
Bendung Wonokerto: Ketika Air Tak Pernah Mengalir, Tapi Masalah Terus Menggenang
Yuni Laili Faizah, S.T., M.E. kini resmi mengenakan gaun baru: Kepala Dinas PUPR.
Ironisnya, sebelum gaun itu sempat disetrika, ia sudah disambut air bendung yang tak kunjung mengalir Bendung Wonokerto, Kutorejo, proyek Rp4,1 miliar yang macet sebelum sempat mengalirkan harapan.
Kontraktor lama, CV Cumi Darat, gagal menuntaskan pekerjaan. Target 4 Juli–4 Desember 2025 tinggal angka di papan proyek.
KPK menyarankan satu kata yang sangat tegas: blacklist.
Namun birokrasi punya seni tersendiri.
Kontraktor berganti nama menjadi CV Jaya Abadi.
Orang-orangnya? Sama.
Seperti teater rakyat: ganti kostum, pemeran tetap.
Yang membuat cerita ini semakin teatrikal, Yuni Laili sebelumnya adalah Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa ruang sunyi tempat tender dilahirkan, gugur, lalu… kadang bangkit kembali secara ajaib.
Dalam RDPU DPRD, para kontraktor bahkan mengaku belum berpengalaman mengerjakan proyek sebesar bendung.
Di Mojokerto, pengalaman rupanya bisa menyusul belakangan. Yang penting menang tender dulu.
BENDUNG TANPA AIR, TENDER TANPA MALU
Eselon Baru, Kontraktor Lama
Bendung Wonokerto dibangun bukan untuk menahan air,
melainkan untuk menahan pertanyaan publik.
CV Cumi Darat gagal.
Disarankan blacklist.
Lalu lahirlah CV Jaya Abadi
seperti ular yang berganti kulit, bukan kepala.
Ironi mencapai puncaknya saat kita tahu:
penjaga pintu tender kini menjadi pemegang palu proyek.
Ini bukan soal teknis beton dan debit air.
Ini soal etika kekuasaan yang bocor dari hulu ke hilir.
“Di negeri ini, proyek bisa mangkrak,
asal relasi tidak ikut runtuh.”
MBG: Makan Bergizi Gratis, Pulang dengan Perut Perih
Amsar Azhari Siregar, S.H., M.M. naik panggung sebagai Kepala Dinas Pendidikan.
Sayangnya, panggung itu masih berasap oleh kasus keracunan massal MBG di Kutorejo.
Program yang di atas kertas menjanjikan gizi, di lapangan menyisakan antrean di puskesmas.
Sebagai bagian Satgas MBG, jabatan baru ini bukan hadiah melainkan alarm darurat.
Di sinilah negara diuji:
apakah kehadiran pejabat baru berarti tanggung jawab baru,
atau sekadar wajah baru untuk krisis lama.
Anak-anak sudah menjadi korban.
Tak ada ruang untuk kalimat “akan dievaluasi”.
MBG: MAKAN SIANG YANG BERAKHIR DI IGD
Saat Negara Gagal Mengukur Dapur
Program Makan Bergizi Gratis lahir dari niat baik.
Tapi niat baik tanpa pengawasan adalah resep bencana.
Anak-anak Kutorejo tidak sedang berpolitik.
Mereka hanya makan lalu, sakit.
Di sinilah negara diuji:
apakah cepat meminta maaf,
atau lambat mengakui kesalahan.
Kepala Dinas baru datang.
Masalah lama belum pergi.
“Negara boleh salah,
tapi tak boleh pura-pura lupa.”
Perpustakaan: Bangunan Sunyi di Tengah Banjir Gawai
Nalurita Priswiandini, S.STP., M.Med.Kom. kini memimpin Dinas Perpustakaan dan Kearsipan OPD yang sering dianggap sekadar gudang buku tua dan arsip berdebu.
Di era TikTok, reels, dan kecerdasan buatan, perpustakaan kerap kalah cepat dari notifikasi ponsel.
Namun justru di situlah tantangannya:
mengubah perpustakaan dari bangunan sunyi menjadi ruang hidup pengetahuan.
Jika gagal, ia hanya akan menjadi penjaga rak.
Jika berhasil, ia bisa menjadi arsitek kesadaran literasi Mojokerto.
PERPUSTAKAAN: GEDUNG SUNYI DI TENGAH RIUH DIGITAL
Ketika Buku Kalah Cepat dari Notifikasi
Perpustakaan Mojokerto berdiri.
Rak ada. Buku ada.
Pembaca? Itu soal lain.
Di era algoritma, literasi tak bisa disuruh datang sendiri.
Ia harus dijemput, dirayu, dihidupkan.
Jika gagal, perpustakaan hanya jadi monumen kesalehan administratif.
Jika berhasil, ia bisa menjadi ruang perlawanan terhadap kebodohan massal.
“Bangsa yang malas membaca
akan rajin dipermainkan.”
Sumpah Jabatan dan Pertanyaan yang Menggantung
Pelantikan selesai. Tepuk tangan reda. Foto-foto masuk grup WhatsApp.
Namun publik masih bertanya:
Apakah Bendung Wonokerto akan mengalirkan air, atau hanya laporan?
Apakah MBG akan benar-benar bergizi, atau sekadar jargon?
Apakah perpustakaan akan hidup, atau tetap sunyi?
“Birokrasi sering tampil gagah di depan, tapi rapuh di belakang layar.
Mojokerto hari ini sedang menonton lakon yang sama dengan tiga pemeran utama baru.
Semoga kali ini, ceritanya tidak berakhir dengan tirai ditutup karena skandal,
melainkan tepuk tangan karena perubahan.
.
