Makan Soto Siang di Tempat Belajar, Malam Sampai Siang Di Ruang Perawatan. Ketika Puluhan Santri dan Siswa Kutorejo Tumbang Ditengarai Usai Santap MBG ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Makan Soto Siang di Tempat Belajar, Malam Sampai Siang Di Ruang Perawatan. Ketika Puluhan Santri dan Siswa Kutorejo Tumbang Ditengarai Usai Santap MBG

-

Baca Juga


Salah Satu Santri Ponpes Al Hidayah Kutorejo Terbaring di Puskesmas Bersama Ustadz .


Siswa SMPN 2 Kutorejo Harus Dirawat di Puskesmas Juga Mengalami Hal Serupa.



Gerimis belum sepenuhnya reda siang itu. Langit Mojokerto bagian selatan menggantungkan awan kelabu, seolah menahan sesuatu yang belum ingin dilepaskan. Di salah satu ruang perawatan fasilitas kesehatan, beberapa ranjang berderet. Di atasnya, tubuh-tubuh remaja terbaring lemah, sebagian dengan selang infus menggantung, sebagian lagi menahan perih di perut dan kepala.


Salah satunya adalah santri Pondok Pesantren Al Hidayah, Kutorejo. Selimut hijau menutup separuh tubuhnya. Napasnya mulai teratur, namun wajahnya masih menyisakan pucat. Beberapa jam sebelumnya, ia mengalami mual hebat, muntah, dan diare gejala yang juga dialami belasan santri lain dari pesantren yang sama.


Tak jauh dari sana, seorang siswa SMP Negeri 2 Kutorejo berdiri didampingi ayahnya. Selang infus masih melekat di tangannya. Tubuhnya terlihat lebih tegap, tapi sorot matanya menyimpan kelelahan. Ia adalah satu dari belasan korban lain yang mengalami gangguan kesehatan dengan pola keluhan serupa.


Dua lokasi berbeda. Dua latar belakang berbeda. Namun satu benang merah yang kini sedang diselidiki.


Gejala Datang Hampir Bersamaan

Peristiwa itu bermula sejak Jumat (9/1/2026) sore. Beberapa santri mulai mengeluhkan pusing. Tak lama kemudian, keluhan berkembang menjadi sakit perut, mual, dan muntah. Menjelang malam, jumlah yang merasakan gejala serupa terus bertambah.


Puncaknya terjadi Sabtu pagi (10/1). Puskesmas Gondang menerima lonjakan pasien hampir bersamaan.
“Sekitar pukul 09.30 WIB kami menerima 17 pasien dari satu lokasi yang sama,” ujar Kepala Puskesmas Gondang, dr. Rokhmatun Naja.

Keluhannya nyaris identik:
mual, muntah, diare, dan pusing hebat.


Penanganan medis darurat segera dilakukan. Infus dipasang. Obat antiemetik dan analgesik diberikan. Hasilnya cukup melegakan kondisi pasien berangsur stabil. Namun penyebabnya belum bisa disimpulkan.


Pengakuan yang Menjadi Petunjuk Awal

Salah satu santriwati, berusia 17 tahun asal Sidoarjo, mengingat dengan jelas awal keluhan yang ia rasakan.

“Saya mulai mual dan muntah sekitar jam enam sore,” tuturnya lirih.


Ketika ditanya soal makanan, ia mengaku tidak mengonsumsi apa pun selain makan siang di sekolah.
“Saya tidak makan sore. Hanya makan makanan bergizi gratis di sekolah siang itu.”


Menu yang ia ingat: soto ayam dengan ayam bumbu kecap, menyerupai ayam yang biasa digunakan dalam sajian mi ayam.


Keterangan serupa juga datang dari siswa SMP Negeri 2 Kutorejo. Ia mulai merasakan sakit perut pada malam hari, lalu muntah keesokan paginya. Ia mengonsumsi makanan dari dapur yang sama.


Total korban yang tercatat hingga Sabtu siang mencapai 19 orang:
17 santri, satu ustadzah, dan satu siswa SMP.


Fokus Penyelidikan Mengarah ke Satu Dapur

Kepala Puskesmas Pesanggrahan Kutorejo, dr. Mustakim, menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan penelusuran.


“Indikasi waktu kejadian tidak mengarah ke makanan pondok,” ujarnya.
“Di pondok makannya sore, sementara keluhan sudah muncul sejak sore hari setelah makan siang.”


Namun ia menegaskan, kesimpulan resmi belum dapat disampaikan. Sampel makanan, air, serta proses pengolahan dan distribusi masih dalam pemeriksaan. Kepolisian dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto turut turun tangan.


Musim Hujan dan Risiko yang Tak Terlihat

Kasus ini terjadi di tengah musim hujan, saat kelembapan tinggi dan suhu lingkungan tidak stabil. Dalam kondisi seperti ini, makanan berbahan dasar protein terutama ayam dan kuah menjadi lebih rentan jika pengolahan, penyimpanan, atau distribusinya tidak memenuhi standar keamanan pangan.


Secara medis, pola gejala yang muncul dalam rentang waktu beberapa jam setelah konsumsi makanan merupakan ciri gangguan saluran cerna akut akibat satu sumber yang sama. Namun sekali lagi, itu masih berada pada wilayah indikasi, bukan vonis.


Catatan Redaksi

Program Makanan Bergizi Gratis adalah kebijakan strategis nasional dengan tujuan mulia: meningkatkan kualitas gizi anak dan remaja. Justru karena itu, pengawasan mutu, higienitas, dan rantai distribusi harus berjalan tanpa kompromi terutama di musim hujan, ketika risiko kontaminasi meningkat.


Peristiwa di Kutorejo menjadi alarm dini, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk memastikan keselamatan anak-anak tetap menjadi prioritas utama.


Hingga penyelidikan rampung, satu hal yang pasti:
di balik angka dan data, ada tubuh-tubuh muda yang sempat terbaring lemah, dan ada orang tua yang menunggu dengan cemas di depan ruang perawatan.


Dan di luar sana, gerimis masih turun pelan seolah mengingatkan bahwa kehati-hatian adalah gizi paling penting dalam setiap kebijakan publik.










Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode