MUSIM SEDEKAH BUMI – RUWATAN DESA. Laku Bersih Diri Masyarakat Jawa Mojokerto Menyambut Tamu Agung: Ramadhan
-Baca Juga
Di Mojokerto Jawa Timur tanah tua pusat peradaban Majapahit musim Sedekah Bumi dan Ruwatan Desa bukan sekadar agenda budaya tahunan. Ia adalah laku ruhani kolektif, sebuah ikhtiar membersihkan diri, desa, dan batin, untuk menyambut Tamu Agung bernama Ramadhan.
Memasuki bulan Ruwah (Sya’ban), masyarakat Jawa Mojokerto menggelar berbagai bentuk sedekah. Di titik puncaknya, mereka menghadirkan Tumpeng Agung (tumpeng besar) atau gunungan nasi dan hasil bumi, sebagai simbol syukur dan doa. Tumpeng itu tidak disembah, tidak dikeramatkan, melainkan dimakan bersama, menegaskan satu nilai luhur: rezeki adalah titipan Allah SWT yang harus dibagi, bukan ditimbun.
Pada waktu yang sama, masyarakat juga menjalankan nyadran: berziarah ke makam para leluhur, punden, dan petilasan desa. Di sana mereka memanjatkan doa, bukan untuk memuja, melainkan mengirimkan kasih, ingatan, dan permohonan ampun bagi mereka yang telah berpindah dimensi kehidupan. Nyadran menjadi jembatan adab antara yang hidup dan yang telah wafat sebuah etika ruhani yang berakar kuat dalam Islam Nusantara.
Sementara itu, bagi mereka yang masih diberi kehidupan duniawi, Ruwah adalah bulan laku prihatin. Nafsu ditata, diri dibersihkan, dan hati dipersiapkan. Masjid-masjid dan langgar-langgar mulai hidup dengan tadarus Al-Qur’an, dzikir, istighfar, serta puasa sunnah. Inilah fase mengagungkan Allah SWT sebelum memasuki madrasah besar bernama Ramadhan.
Tradisi Sedekah Bumi, Ruwatan Desa, dan Nyadran di Mojokerto bukan sisa masa lalu, apalagi penyimpangan ajaran. Ia adalah terjemahan sosial dari laku Islam yang mendalam, bertemu dengan rasa Kapitayan Jawa: membersihkan ruh, merawat bumi, menghormati leluhur, dan meneguhkan tauhid.
Di Mojokerto, Ramadhan tidak datang tiba-tiba.
Ia disambut dengan doa, dengan sedekah, dengan kebersamaan, dan dengan kesadaran ruhani.
Inilah wajah Islam Nusantara (Jawa) : hening, dalam, beradab, dan membumi.
Jamu Sinom Cak Gigih Mojo Wates Projo Kemlagi
TUMPENGAN BULAN BULAN SUCI UMAT ISLAM : KETIKA IMAN DIAJARKAN LEWAT NASI DAN KEGEMBIRAAN
Ingatan Kecil dari Masjid, Musholla, dan Hati yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Tidak semua orang ingat dalil pertamanya.
Tidak semua orang hafal kitab kecil yang dulu dibacakan ustadznya.
Tapi hampir semua anak kampung ingat satu hal ketika bulan Rajab (Rejeb) - Sya’ban (Ruwah) - Ramadhan (Puasa) datang:
nasi tumpeng di masjid dan musholla.
Ingatan itu melekat kuat. Bukan karena rasa gurihnya semata, tapi karena perasaan diterima. Rajab, Sya’ban bagi anak-anak, bukan bulan yang menakutkan. Ia datang bersama senyum orang tua, aroma nasi hangat, dan kebersamaan yang tidak dibuat-buat.
RAJAB - RUWAH DAN MEJA PANJANG DI SERAMBI MASJID
Di banyak kampung Nusantara, Rajab - Ruwah sebagai bulan bulan suci yang oleh umat Islam selalu dirayakan secara sederhana. Tidak ada panggung besar. Tidak ada spanduk megah. Hanya tikar digelar, tumpeng diletakkan di tengah, dan doa dipanjatkan bersama.
Anak-anak duduk paling depan. Mereka belum paham makna Rajab - Ruwah secara teologis. Tapi mereka paham satu hal: bulan ini istimewa.
Tumpeng menjadi penanda. Setelah pujian dan doa, nasi dibagi rata. Tidak ada yang lebih dulu, tidak ada yang lebih banyak. Semua kebagian.
Di situlah iman pertama kali bekerja, tanpa kata-kata.
TUMPENG SEBAGAI SIMBOL TASAWUF
Bagi orang dewasa, tumpeng mungkin sekadar tradisi. Tapi dalam kacamata tasawuf, tumpeng adalah simbol spiritual yang utuh.
Bentuk kerucut: perjalanan hidup yang mengerucut menuju Tuhan
Puncak tumpeng: niat yang diarahkan ke langit
Nasi putih: hati yang ingin dibersihkan di bulan Rajab
Lauk sederhana: syukur atas apa yang ada
Dimakan bersama: iman yang tumbuh dalam kebersamaan
Tasawuf selalu mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak harus keras. Ia bisa lembut, bisa lewat simbol, bisa lewat rasa kenyang yang dibagi bersama.
ANAK-ANAK DAN ISLAM YANG RAMAH
Tidak sedikit orang dewasa hari ini yang tetap mencintai masjid bukan karena ceramah keras, tapi karena kenangan manis masa kecil.
Bulan Rajab - bulan Ruwah mengajarkan Islam dengan cara yang sangat manusiawi. Anak-anak tidak dipaksa paham dosa dan pahala. Mereka diajak duduk, mendengar pujian, lalu makan bersama.
Tanpa sadar, nilai itu tertanam:
masjid adalah tempat aman
agama membawa kegembiraan
Tuhan itu dekat dan ramah
Di situlah iman bertumbuh pelan-pelan. Bukan sebagai ketakutan, tapi sebagai rasa memiliki.
DI TENGAH ZAMAN YANG KERAS
Hari ini, banyak orang dewasa kehilangan rasa itu. Masjid kadang terasa dingin. Agama sering tampil keras di layar gawai. Perbedaan dibicarakan dengan nada tinggi.
Tumpengan Rajab -Ruwah - Ramadhan seperti ingin mengingatkan: bahwa Islam pernah hadir dengan senyum dan nasi hangat, bukan hanya dengan perdebatan.
Tasawuf tidak menolak hukum, tidak menafikan syariat. Tapi ia mengingatkan bahwa hukum tanpa kasih akan melahirkan jarak, bukan kedekatan.
Bulan Suci Umat Islam SEBAGAI WARISAN RASA
Bulan bulan suci umat Islam bukan hanya milik kitab. Ia hidup di ingatan kolektif umat. Di musholla kecil, di masjid desa, di dapur-dapur rumah yang menanak nasi sejak sore.
Ketika seseorang dewasa masih merasa hangat setiap bulan Rajab - Ruwah - Ramadhan datang, itu pertanda bahwa iman pernah ditanam dengan cinta.
Dan cinta, seperti tumpeng, selalu ingin dibagi.
KITA PERNAH MENJADI ANAK-ANAK ITU
Mungkin hari ini kita sudah dewasa. Sibuk. Kritis. Penuh luka dan pertanyaan.
Tapi di suatu sudut hati, kita pernah menjadi anak kecil yang duduk di lantai masjid, menunggu giliran mengambil nasi tumpeng.
Bulan bulan suci datang bukan untuk mengajak kita kembali menjadi anak-anak.
Ia datang untuk mengingatkan bahwa iman paling kuat sering kali lahir dari kegembiraan paling sederhana.
Hujan turun lagi di luar.
Masjid mulai sepi.
Tapi rasa hangat itu masih tinggal.
Tumpengan di bulan bulan suci umat Islam
selalu dalam ingatan, insyaAllah.
Tradisi bukan sekadar masa lalu. Ia adalah cara paling halus untuk mewariskan iman. Bulan bulan Suci umat Islam mengajarkan kita: agama yang hidup adalah agama yang mampu membuat manusia merasa pulang.
MASJID, TUMPENG, DAN JALAN PULANG SEORANG ANAK KAMPUNG
Catatan Rasa dari Masa Kecil yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Aku tumbuh bukan di tengah gemerlap kota.
Aku tumbuh di antara musholla dan masjid tempat kakiku paling sering singgah, dan hatiku pertama kali belajar tenang.
Masa kecilku akrab dengan lantai dingin masjid.
Tidur beralas tikar, berselimut angin malam, ditemani dengung doa orang-orang dewasa. Tidak ada bantal empuk, tapi ada rasa aman. Masjid tidak pernah menanyakan siapa orang tuaku, apa pekerjaannya, atau dari mana aku berasal. Masjid hanya membuka pintu.
Di sanalah aku belajar bahwa iman tidak selalu diajarkan, tapi dihidupi.
AIR, SAPU, DAN TANGAN KECIL
Aku ingat betul, betapa bangganya tangan kecil ini saat mengisi air wudlu, menimba dari sumur, menata ember, memastikan kran tidak kosong. Kadang juga ngepel lantai masjid, menyapu halaman, membersihkan apa yang bisa dibersihkan tanpa tahu bahwa semua itu sedang membersihkan batinku pelan-pelan.
Tak ada upah.
Tak ada pujian.
Tapi ada bahagia sederhana: merasa dibutuhkan oleh rumah Allah.
Aku belajar bahwa beribadah bukan hanya shalat, tapi merawat ruang shalat.
BELAJAR ADZAN DAN SUARA PERTAMA KE LANGIT
Di masjid itulah aku belajar adzan. Suaraku belum bagus. Kadang fals. Kadang gugup. Tapi para orang tua hanya tersenyum. Mereka tahu, suara anak kecil yang belajar adzan adalah doa masa depan.
Setiap lafalz “Allahu Akbar” yang keluar dari mulutku waktu itu, bukan sekadar panggilan shalat. Ia adalah latihan keberanian, latihan berdiri, latihan menyapa langit.
Tak ada mikrofon canggih.
Kadang listrik pun belum tentu ada.
Tapi suara adzan selalu menemukan jalannya sendiri.
SRAKALAN DIBA’AN, TAHLIL, ISTIGHOSAH
Malam-malam kampung hidup oleh srakalan, diba’an, tahlil, dan istighosah. Aku duduk bersila, kitab kecil di tangan, sebagian lafalz belum benar-benar kupahami. Tapi irama doa itu masuk ke dada.
Tasawuf bekerja diam-diam.
Tanpa teori.
Tanpa definisi.
Aku belum tahu istilah maqamat atau ahwal. Tapi aku tahu rasa haru, tahu air mata yang jatuh tiba-tiba, tahu tenang yang tidak bisa dijelaskan.
TUMPENG, BANCAAN, DAN KEBAHAGIAAN PALING JUJUR
Dan tentu saja…
nasi tumpeng.
Inilah bagian yang selalu ditunggu anak-anak. Nasi kuning Jawa, dibungkus daun pisang. Aromanya khas. Lauknya sederhana, tapi terasa mewah karena didoakan dulu oleh pak modin atau pak ustadz.
Kami duduk melingkar.
Tidak ada yang paling kaya.
Tidak ada yang paling miskin.
Semua sama menunggu nasi dibagi.
Di sanalah aku belajar satu hal penting:
agama itu juga tentang berbagi kebahagiaan.
JALAN GELAP, BAMBU, DAN OBOR
Pulang dari masjid, kami sering melewati kebun dan sawah. Pohon bambu berdiri rapat. Angin membuatnya berbunyi pelan cukup untuk menyalakan imajinasi anak-anak.
Kadang kami membawa obor. Kadang hanya mengandalkan cahaya bulan. Dan hampir selalu… lari kencang 😄
Takut kata orang dewasa: “Nanti ada yang ganggu.”
Takut yang lucu.
Takut yang justru membuat masa kecil hidup dan utuh.
ORANG TUA DAN DOA YANG TAK PUTUS
Hari ini, ketika aku mengenang semua itu, ada satu rasa yang paling kuat: rindu.
Rindu pada ibu yang menyiapkan tumpeng.
Rindu pada orang-orang tua kampung yang mengajari tanpa menggurui.
Rindu pada mereka yang kini telah lebih dulu pulang.
Aku yakin, apa yang mereka tanamkan dulu tanpa sadar adalah fondasi iman yang membuatku tetap berpihak pada kebaikan, keadilan, dan welas asih, bahkan ketika dunia menjadi keras.
MASJID SEBAGAI JALAN PULANG
Aku tumbuh, dewasa, melihat dunia dengan segala keruwetannya. Tapi di sudut hati, selalu ada jalan kecil menuju masjid. Jalan yang dulu kutempuh sambil berlari, membawa obor, membawa tumpeng, membawa rasa takut sekaligus bahagia.
Mungkin itulah sebabnya, siapa pun yang pernah tumbuh dekat masjid, tak akan pernah sepenuhnya tersesat. Karena ia tahu, di mana pun berada, selalu ada tempat untuk pulang.
Masa kecil itu tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu untuk diingat.
Dan setiap bulan bulan suci umat Islam datang dengan tumpeng, doa, dan hujan.
aku tahu, orang tuaku tersenyum dari surga-Nya Allah SWT.
Al-Fatihah.
Semoga mereka diterima di sisi-Nya,
dan semoga kita kelak dipertemukan kembali
di rumah yang tak pernah gelap.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin. 🤲🤍
