NEGARA DATANG, DAPUR DIEVALUASI. Pelajaran Besar Keracunan Massal MBG Mojokerto dan Ujian Sistem Pangan Anak Bangsa
-Baca Juga
AMBULANS DI MALAM GERIMIS
Sabtu malam, gerimis tipis menyelimuti Mojosari. Di halaman RSUD Prof. dr. Soekandar, suara ambulans datang silih berganti. Bukan satu dua, tapi puluhan. Di dalamnya, anak-anak santri, santriwati, siswa SMP hingga SMA terbaring lemah akibat keracunan makanan.
Kasus yang pagi hari tercatat 19 anak, menjelang malam berkembang cepat, dan dalam dua hari melonjak menjadi 261 korban.
Ini bukan lagi insiden kecil. Ini kejadian luar biasa.
Di titik inilah negara akhirnya hadir secara fisik.
WAKIL GUBERNUR TURUN, PESAN MORAL DI KAMAR RAWAT
Minggu (11/1), Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau langsung posko penanganan dan ruang perawatan di Ponpes Maahad Annur, Desa Singowangi, Kutorejo. Didampingi Sekda Teguh Gunarko dan Kepala Dinas Kesehatan Dyan Anggraeni, Emil menyapa satu per satu anak-anak yang masih terbaring lemah.
“Yang terdata terdampak sejauh ini ada 261 orang, berasal dari tujuh lembaga penerima manfaat,” kata Emil kepada awak media.
Kehadiran Wagub bukan sekadar seremoni. Ia mengirimkan pesan penting: anak-anak adalah aset bangsa, bukan angka statistik. Negara tidak boleh menunggu hasil laboratorium baru bergerak.
MBG, NIAT MULIA DAN DAPUR YANG TERUJI
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah kebijakan nasional dengan niat luhur: memastikan gizi anak terpenuhi, terutama bagi kelompok rentan. Di Mojokerto, penyedia MBG adalah SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, yang pada Jumat (9/1) menyalurkan 2.679 porsi ke 20 sekolah.
Menu hari itu: soto ayam.
Di sinilah persoalan bermula. Soto ayam adalah menu berisiko tinggi dalam produksi massal:
Berbasis protein (ayam)
Mengandung kuah
Sangat sensitif suhu dan waktu
Ahli gizi boleh menyusun menu dengan tepat. Kandungan kalori dan protein bisa sesuai standar.
Namun gizi bukan keamanan pangan.
KETIKA AHLI GIZI BISA TAK BERDAYA
Dugaan sementara menunjukkan, kegagalan dalam kasus seperti ini jarang bersumber dari niat buruk atau satu kesalahan tunggal. Ia hampir selalu sistemik.
Beberapa titik rawan yang kami telaah:
Zona Bahaya Suhu
Makanan matang yang berada di rentang 5–60°C menjadi lahan subur bakteri. Tanpa hot holding yang konsisten, soto ayam berubah dari bergizi menjadi berbahaya.
Tekanan Skala Produksi
Memasak ribuan porsi dalam waktu singkat menuntut dapur dengan standar industri. Jika tidak, kelelahan tenaga dan pengawasan longgar sulit dihindari.
Distribusi & Waktu Konsumsi
Selisih jam antara masak, angkut, dan makan adalah faktor krusial. Semakin lama, semakin tinggi risiko kontaminasi.
Food Safety Officer vs Ahli Gizi
Ahli gizi menyusun menu. Keamanan pangan membutuhkan pengawasan khusus disiplin, sanitasi, dan kontrol proses setiap jam.
Dengan kata lain:
Ahli gizi bisa benar, tetapi sistem bisa gagal.
LANGKAH PEMERINTAH: CEPAT, TAPI HARUS TUNTAS
Pemerintah Kabupaten Mojokerto bergerak cepat:
Penanganan medis dipusatkan
Operasional SPPG dihentikan sementara
Biaya perawatan ditanggung pemerintah
Koordinasi lintas instansi diperkuat
Namun, evaluasi tidak boleh berhenti pada penanganan darurat. Kasus ini harus menjadi cermin nasional.
Rekomendasi :
Audit menyeluruh SPPG (bukan hanya administrasi)
Standarisasi menu aman untuk produksi massal
Pengawasan suhu & distribusi real-time
Transparansi hasil laboratorium ke publik
Pelibatan pakar keamanan pangan, bukan hanya ahli gizi
AGAR TIDAK TERULANG
Kasus Mojokerto mengajarkan satu hal penting: Program sebesar apa pun, sebaik apa pun niatnya, harus ditopang sistem yang disiplin dan diawasi ketat.
Anak-anak ini beruntung, negara akhirnya datang.
Tapi tugas sesungguhnya adalah memastikan tak ada sirene ambulans berikutnya yang mengiringi program bernama gizi.
Karena satu kelalaian di dapur, bisa menjatuhkan ratusan masa depan.
