NEGARA TURUN TANGAN: MENTERI HAM DATANG KE MOJOKERTO
-Baca Juga
Krisis keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto kini resmi naik kelas menjadi perhatian nasional.
Bukan hanya pemerintah daerah dan provinsi Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia, Natalius Pigai, dijadwalkan langsung turun ke RSUD Prof. dr. Soekandar Mojosari, Rabu (14/1).
Kepastian itu disampaikan Bupati Mojokerto Muhammad AlBarra kepada DETAK INSPIRATIF, beberapa menit sebelum dirinya berangkat mendampingi Menteri HAM ke lokasi perawatan pasien.
“Menteri HAM ingin melakukan pengecekan langsung dan investigasi terkait penanganan korban MBG, termasuk peran Dinas Kesehatan,” ujar AlBarra.
Kunjungan ini bukan agenda seremonial. Pigai sebelumnya menyambangi dua lokasi keracunan MBG lain Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah) dan Gunungkidul (DIY) menandakan bahwa insiden Mojokerto bukan kasus lokal, melainkan alarm nasional terhadap pelaksanaan program strategis negara.
NEGARA HADIR MEREDAM PANIK PUBLIK
Di tengah derasnya informasi simpang siur bahkan isu liar korban tembus 800 orang Bupati AlBarra menegaskan pentingnya disiplin data.
“Angka 800 itu belum valid. Banyak asumsi karena panik. Ada yang pusing sedikit langsung mengaku keracunan MBG. Kita sterilkan. Yang kita catat hanya korban yang benar-benar terverifikasi akibat MBG,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi titik penting editorial:
Negara tidak boleh kalah oleh kepanikan
Transparansi harus berjalan beriringan dengan ketepatan data
Kesalahan informasi bisa memperparah trauma sosial
Dengan langkah ini, Pemkab Mojokerto menegaskan posisi: menenangkan publik tanpa menutup fakta.
Masuknya Menteri HAM membuka bab baru:
Kasus ini tidak lagi semata soal teknis kesehatan, tetapi menyentuh hak dasar warga negara, khususnya anak-anak:
Hak atas pangan yang aman
Hak atas perlindungan kesehatan
Hak atas rasa aman dalam program negara
Mayoritas korban adalah anak-anak usia sekolah, bahkan santri di bawah 17 tahun. Dalam perspektif HAM, mereka adalah kelompok rentan yang wajib mendapat perlindungan ekstra, bukan sekadar penanganan reaktif.
MENUNGGU TITIK TERANG: HASIL LABORATORIUM 14 JANUARI
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini Sulistyowati, sebelumnya menegaskan bahwa hasil uji laboratorium sampel MBG akan diumumkan Rabu, 14 Januari 2026.
Hasil ini akan menentukan:
Apakah ada kontaminasi bakteri
Dugaan bahan kedaluwarsa
Kesalahan rantai dingin (cold chain)
Atau kegagalan SOP keamanan pangan SPPG
Di sinilah negara diuji:
berani membuka hasil apa adanya, atau menundanya dengan alasan birokrasi.
Negara Datang, Jangan Setengah Jalan
Kehadiran Bupati, Wagub, hingga Menteri HAM adalah sinyal positif.
Namun publik menunggu lebih dari sekadar kunjungan:
Hasil laboratorium yang transparan
Audit menyeluruh SPPG & SOP MBG
Evaluasi nasional program MBG
Jaminan: kejadian serupa tidak terulang
Jika tidak, maka MBG yang diniatkan mulia bisa berubah menjadi bom waktu sosial.
