PACET–CANGAR. KEMBALI MINTA TUMBAL. MOBIL MINIBUS BERISI 16 ORANG DARI SURABAYA TERGULING. JALAN INDAH YANG TIDAK SEHARGA NYAWA ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

PACET–CANGAR. KEMBALI MINTA TUMBAL. MOBIL MINIBUS BERISI 16 ORANG DARI SURABAYA TERGULING. JALAN INDAH YANG TIDAK SEHARGA NYAWA

-

Baca Juga







Pacet–Cangar selalu tampak cantik di brosur pariwisata. Kabut tipis, hutan pinus, udara dingin, dan tanjakan turunan yang menggoda adrenalin.

 Namun di balik estetika itu, jalur ini menyimpan satu tradisi kelam: kecelakaan yang berulang, nyaris ritual tahunan.

Tahun berganti. Kalender pariwisata berubah.
Korban? Terus bertambah.

Awal 2026, sebuah Isuzu Elf berisi 16 wisatawan asal Surabaya terguling di turunan AMD Pacet. Dugaan klasik kembali muncul: rem blong.

 Kata yang terlalu sering kita dengar, sampai terdengar seperti alasan yang dimaklumi.






JALUR TENGKORAK

Pacet–Cangar barangkali satu-satunya jalur wisata yang:

  • Lebih dulu memeluk ambulans sebelum memeluk wisatawan

  • Lebih sering diuji rem kendaraan daripada diuji sistem keselamatan

  • Lebih cepat viral saat kecelakaan daripada saat perbaikan

Ironisnya, setiap kecelakaan selalu disebut “insiden”, seolah ini kejadian tunggal, bukan pola berulang.

Jika jalur ini bisa berbicara, mungkin ia akan berkata:

“Aku sudah memberi tanda. Rambu ada. Turunan panjang. Tikungan tajam. Tapi manusia dan kebijakan sering pura-pura tidak melihat.”






DATA YANG TIDAK PERNAH DIBACA SERIUS

Sejak 2025, jalur Pacet–Cangar mencatat berbagai kejadian serius:

  • Longsor mematikan

  • Kendaraan wisata terguling

  • Mobil keluarga masuk jurang

  • Motor rem blong di musim libur


Polanya sama: 

📉 Tekanan rem tinggi
📉 Turunan panjang
📉 Kendaraan tidak siap
📉 Volume wisata melonjak
📉 Pengawasan longgar


Namun responnya juga sama: 

✔️ Evakuasi cepat
❌ Evaluasi lambat
❌ Pencegahan minim
❌ Tindakan struktural setengah hati







NEGARA HADIR SAAT SIRENE, MENGHILANG SAAT TENANG

Setiap kecelakaan:

  • Polisi datang 

  • Ambulans bergerak 

  • Rumah sakit bekerja 


Tapi setelah itu? Di mana audit kendaraan wisata?

 Di mana pos pemeriksaan rem sebelum turunan ekstrem?

 Di mana manajemen lalu lintas berbasis risiko?

 Di mana rambu peringatan yang benar-benar edukatif, bukan formalitas?


Negara sering hadir setelah korban jatuh, bukan sebelum kecelakaan terjadi.






RAMBU ADA, TAPI APA MAKNANYA?

Di sepanjang Pacet–Cangar, rambu sebenarnya ada: 

🚧 Turunan Curam
⚠️ Hati-Hati
⛔ Kurangi Kecepatan


Masalahnya:

  • Rambu tidak disertai penjelasan teknis

  • Tidak ada zona berhenti wajib untuk pendinginan rem

  • Tidak ada simulasi visual dampak rem blong

  • Tidak ada petugas khusus saat puncak libur


Rambu hanya berdiri.
Manusia yang dibiarkan menafsirkan sendiri risikonya.






EDUKASI BERKENDARA: YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN SERIUS

Panduan Berkendara Jalur Wisata Ekstrem Pacet–Cangar

(yang seharusnya dipampang besar, bukan disimpan di buku ujian SIM)

🔧 SEBELUM MELINTAS

  • Pastikan kampas rem tebal & minyak rem normal

  • Hindari kendaraan penuh muatan

  • Kendaraan wisata WAJIB uji kelayakan

⬇️ SAAT TURUN

  • Gunakan engine brake, bukan rem terus-menerus

  • Jaga gigi rendah

  • Berhenti berkala untuk pendinginan rem

🚫 HINDARI

  • Mengandalkan rem saja

  • Menuruni jalur panjang dengan kecepatan stabil tinggi

  • Mengikuti kendaraan besar terlalu dekat

✍️ INGAT

Rem blong bukan takdir.
Ia hasil dari fisika yang diabaikan.






JALAN PARIWISATA ATAU JALAN UJI NYALI?

Pacet–Cangar sering dipromosikan sebagai: 

🌲 Jalur wisata unggulan
📸 Destinasi favorit
🚗 Akses strategis


Namun jarang diperlakukan sebagai: 

⚠️ Jalur risiko tinggi
⚠️ Jalur dengan SOP khusus
⚠️ Jalur yang perlu pembatasan kendaraan

Seolah keselamatan dianggap mengganggu kelancaran pariwisata.

Padahal tanpa keselamatan, pariwisata hanyalah undangan kecelakaan massal.



YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN (TAPI BELUM)

  1. Pos wajib cek rem & kendaraan wisata

  2. Pembatasan kendaraan besar di jam tertentu

  3. Rambu edukatif berbasis visual & simulasi

  4. Zona pendinginan rem wajib

  5. Manajemen lalu lintas saat musim libur

  6. Audit terbuka kecelakaan tahunan

  7. Koordinasi nyata Pemprov Jatim – Polda – Dishub – Pemda

Bukan wacana.
Tindakan.


EPILOG 

Pacet–Cangar tidak jahat.
Ia hanya jujur menunjukkan hukum alam.

Yang sering lalai adalah: 

🚘 Kendaraan
👤 Pengemudi
🏛️ Kebijakan

Jika kecelakaan terus berulang, maka ini bukan lagi musibah.
Ini peringatan yang diabaikan bersama-sama.

Dan setiap korban adalah tagihan moral yang suatu hari harus dibayar.


PACET–CANGAR DALAM ANGKA

  • Jalur wisata ekstrem pegunungan

  • Puluhan kecelakaan dalam beberapa tahun

  • Dominasi kasus: rem blong & longsor

  • Lonjakan risiko saat libur nasional


Negara yang Datang Setelah Ambulans

Awal tahun 2026 dibuka bukan oleh kembang api, melainkan oleh sirene.
Di Pacet–Cangar, jalur wisata yang elok itu, sebuah kendaraan wisata kembali terguling. Rem blong. Luka-luka. Evakuasi. Rumah sakit bekerja. Polisi mencatat.

Semua berjalan seperti ritual yang terlalu akrab.

Negara, seperti biasa, hadir setelah ambulans.
Bukan sebelum kecelakaan, bukan saat risiko mulai terakumulasi, melainkan setelah tubuh-tubuh terbaring dan jalan kembali ditutup sementara.

Pacet–Cangar bukan jalan biasa. Ia adalah jalur ekstrem, jalur pegunungan, jalur dengan hukum fisika yang tak bisa ditawar. Turunan panjang tidak mengenal kompromi. Rem panas tidak peduli status wisata. Gravitasi tidak tunduk pada kalender libur nasional.

Namun anehnya, kebijakan kita sering bersikap seolah jalan ini jinak.

Rambu dipasang, tetapi tanpa makna.
Peringatan berdiri, tetapi tanpa edukasi.
Kecelakaan terjadi, tetapi selalu disebut “insiden”.

Padahal jika satu pola terjadi berulang, itu bukan insiden.
Itu kegagalan sistemik.

ini bukan menuduh.
Ia hanya bertanya dengan tenang:

Jika kecelakaan di jalur yang sama terus berulang,
siapa yang sebenarnya belum belajar?

Pemerintah Provinsi, Kepolisian, Dinas Perhubungan, dan pemerintah daerah tentu bekerja. Tetapi bekerja saja tidak cukup jika hasilnya tidak mengubah pola.

Keselamatan publik bukan reaksi darurat.
Ia adalah perencanaan yang disiplin.

Dan jika negara terus datang setelah ambulans,
maka setiap kecelakaan berikutnya bukan lagi musibah, melainkan peringatan yang diabaikan bersama.


“MEMBACA JALUR PACET–CANGAR”

  • Turunan panjang & beruntun

  • Tikungan tertutup

  • Jalan sempit dua arah

  • Volume wisata musiman

  • Risiko longsor & rem panas

📝 Catatan: Jalur ini bukan untuk kendaraan lelah.


MENGAPA REM BLO(N)G TERJADI?

  • Rem ditekan terus ➝ panas

  • Kampas aus ➝ daya cengkeram hilang

  • Minyak rem mendidih ➝ pedal kosong

FAKTA:
Rem blong bukan takdir, tapi hasil pengabaian teknik.


RAMBU YANG SERING DIABAIKAN

Ditampilkan ikon: 

⚠️ Turunan Curam
⚠️ Kurangi Kecepatan
⚠️ Hati-Hati

📝 Masalahnya:
Rambu memberi perintah, bukan pemahaman.


CARA AMAN MELINTASI PACET–CANGAR

✔️ Gunakan gigi rendah
✔️ Manfaatkan engine brake
✔️ Berhenti tiap segmen panjang
✔️ Jaga jarak
✔️ Tolak kendaraan over-muatan

🚫 Jangan:

  • Rem terus-menerus

  • Ikut arus cepat

  • Menganggap jalur ini “biasa”


YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN NEGARA

Checklist visual:

 ☐ Pos cek rem wajib
☐ Pembatasan kendaraan wisata
☐ Rambu edukatif visual
☐ Manajemen jam rawan
☐ Audit kecelakaan terbuka

Tanpa ini, kecelakaan hanya menunggu giliran.

“Jalan tidak pernah bersalah.
Yang sering salah adalah cara kita memperlakukannya.”






Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode