Petaka Soto Ayam Makan Bergizi, Berubah Beracun ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Petaka Soto Ayam Makan Bergizi, Berubah Beracun

-

Baca Juga






MOJOKERTO – Ambisi besar menyediakan asupan gizi bagi ribuan siswa di Jawa Timur berujung pada meja perawatan medis. Apa yang seharusnya menjadi program unggulan penuntasan tengkes (stunting), justru berubah menjadi mimpi buruk bagi ratusan pelajar di Kecamatan Kutorejo.


Dapur Raksasa di Dusun Rejeni

Di sebuah bangunan di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, deru aktivitas Dapur MBG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 biasanya menjadi simbol harapan. Setiap pagi, dapur ini berjibaku menyiapkan 2.679 porsi makanan gratis yang didistribusikan ke puluhan sekolah, mulai dari jenjang TK hingga sekolah menengah.

Namun, pada hari yang nahas itu, menu Soto Ayam yang keluar dari dapur tersebut diduga membawa petaka. Data yang dihimpun menunjukkan distribusi masakan ini menjangkau wilayah yang sangat luas, termasuk:

 * SDN Singowangi dengan 257 siswa.
 * SMPN 2 Kutorejo Singowangi yang memiliki 666 siswa.
 * Hingga TK Plus Al Hidayah Kauman dengan 234 siswa.




261 Nyawa dalam Pertaruhan

"Petaka" itu mulai terlihat ketika satu per satu siswa melaporkan gejala yang serupa: pusing yang menusuk, mual hebat, hingga diare yang menguras raga. Tak tanggung-tanggung, tercatat 261 santri dan pelajar menjadi korban keracunan massal ini.

Rosidian Prasetyo, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Mojokerto, mengonfirmasi bahwa tim investigasi gabungan telah diterjunkan ke lapangan. Fokus utama mereka saat ini adalah membedah apa yang salah di balik "dapur raksasa" tersebut. Apakah ini masalah kontaminasi bahan baku ayam, ataukah ada rantai suhu distribusi yang terputus sehingga bakteri berpesta di dalam kuah soto sebelum sampai ke tangan siswa?








Ironi Gizi di Balik Angka
Secara statistik, meski tingkat serangan (attack rate) berada di kisaran 10% dari total produksi harian, dampak psikologis dan medisnya tidak bisa dianggap remeh. Investigasi ini bukan sekadar mencari siapa yang lalai, melainkan menagih janji keamanan pangan dalam program nasional yang menyentuh rakyat kecil.

Kini, Dapur MBG di Dusun Rejeni itu harus menghadapi ujian berat: membuktikan bahwa mereka mampu menyediakan gizi, bukan sekadar mengisi perut dengan risiko nyawa.

Berikut adalah daftar sekolah yang masuk dalam radar distribusi dan terdampak dalam insiden ini:

* Sektor Pendidikan Dasar & Menengah: 
 * SDN Singowangi: Menjadi salah satu titik terbesar dengan 257 siswa penerima. 
 * SMPN 2 Kutorejo Singowangi: Titik distribusi masif yang menaungi 666 siswa.
  * SDN Windurejo 1 & 2: Total 237 siswa yang menggantungkan makan siangnya di sini.
* SMP TI Al Hidayah Wonodadi: 188 siswa yang ikut masuk dalam daftar distribusi harian.
* Sektor Pendidikan Anak Usia Dini (TK/RA):
* TK Plus Al Hidayah Kauman: Sebuah institusi dengan 234 siswa yang rentan.
* TK Dharma Wanita (Singowangi, Wonodadi, Windurejo): Puluhan balita yang seharusnya mendapat asupan pertumbuhan justru terpapar risiko.
* Sektor Pesantren & Madrasah:
* MI Nurul Hidayah (Wonodadi & Kutorejo): Ratusan santri yang kini dalam pemantauan investigasi.
* MTs Mahad An Nur Singowangi: 149 siswa yang turut menjadi bagian dari penerima manfaat.
 * MA Teknologi Informasi Berlian & SMKS Muhammadiyah 2: Menunjukkan bahwa risiko ini menembus hingga jenjang sekolah menengah kejuruan.


Simpul Lemah di Rantai Distribusi

Ketika 261 santri dan pelajar mulai tumbang dengan keluhan mual dan diare, mata langsung tertuju pada menu soto ayam yang disajikan hari itu. Investigasi gabungan kini tengah membongkar setiap inci prosedur di dapur Dusun Rejeni.

Secara teknis, mengelola masakan berkuah untuk 2.679 porsi setiap hari adalah pekerjaan logistik yang berat. Jika suhu kuah melandai atau suwiran ayam terpapar udara terlalu lama, ia bukan lagi sumber protein, melainkan media bagi bakteri untuk berpesta. Di sinilah letak pertaruhannya: antara efisiensi biaya dan nyawa anak bangsa.


Menagih Janji di Balik Bakteri

Kini, bola panas ada di tangan penyelenggara dan otoritas terkait. Skandal di Kutorejo ini menjadi pengingat pahit bahwa program nasional sebesar Makan Bergizi Gratis tidak boleh hanya berhenti pada angka-angka statistik di atas kertas.

Membangun generasi emas tidak bisa dilakukan dengan "perjudian" sanitasi di dapur-dapur masal. Tanpa standar keamanan pangan yang kedap dari kelalaian, piring-piring gratis ini justru akan menjadi beban baru bagi sistem kesehatan nasional. Publik kini menanti hasil investigasi gabungan: apakah ini murni kecelakaan teknis, atau sebuah kelalaian sistemis yang lahir dari ambisi mengejar kuantitas tanpa peduli pada kualitas.

Karena pada akhirnya, gizi yang baik tidak pernah datang dari dapur yang berantakan.

 * Lokasi Dapur: Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kec. Kutorejo.
 * Kapasitas: 2.679 siswa per hari.
 * Korban: 261 pelajar/santri.
 * Dugaan Penyebab: Soto Ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03.
 * Narasumber: Rosidian Prasetyo (Korwil BGN Mojokerto).





Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode