BOM RAMADHAN. Jejak Industri Mercon Bawah Tanah di Jawa Timur ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

BOM RAMADHAN. Jejak Industri Mercon Bawah Tanah di Jawa Timur

-

Baca Juga







Malam itu adalah malam yang seharusnya dipenuhi doa.

Ramadhan hampir mencapai ujungnya. Hanya tinggal beberapa hari lagi umat Islam di seluruh Indonesia menyambut Idul Fitri.

Di desa-desa Jawa Timur, suasana menjelang Lebaran biasanya terasa hangat. Lampu rumah menyala lebih lama, anak-anak bermain di halaman, dan warga mulai berbicara tentang malam takbiran.

Namun pada Minggu malam 15 Maret 2026 sekitar pukul 23.00 WIB, suasana tenang di Dusun Plumpungrejo Desa Karangtengah Kecamatan Kandangan, Kediri berubah menjadi kepanikan.

Sebuah ledakan keras memecah keheningan.

BLARRR!

Dentuman pertama membuat warga berhamburan keluar rumah.

Beberapa detik kemudian dentuman kedua menyusul. Lebih keras. Lebih mengguncang.

Tanah seperti bergetar.

Ketika warga berlari menuju sumber suara, mereka menemukan satu rumah yang sudah berubah menjadi reruntuhan.


Rumah yang Hancur dalam Sekejap

Pemandangan di lokasi membuat warga terdiam.

Atap rumah ambruk.
Rangka kayu terpental keluar.
Genteng berserakan hingga ke halaman.

Ledakan itu datang dari dalam rumah.

Beberapa warga mengira terjadi ledakan tabung gas. Namun pola kerusakan bangunan menunjukkan sesuatu yang jauh lebih serius.

Ledakan itu berasal dari tekanan tinggi di ruang tertutup.


Tim Penjinak Bom Turun Tangan

Pagi harinya situasi desa berubah tegang.

Sekitar pukul 09.00 WIB kendaraan taktis berhenti di depan lokasi. Personel Korps Brimob Polri turun dengan perlengkapan lengkap.

Mereka adalah tim Gegana dari Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Area langsung disterilkan.

Petugas menyisir puing-puing rumah, mencari serpihan bahan yang mungkin menjadi sumber ledakan.

Kehadiran Gegana mengindikasikan satu hal:

ledakan itu diduga melibatkan bahan peledak.


Bubuk Mercon Bom Tradisi

Hasil penyelidikan awal mengarah pada satu bahan yang sering muncul dalam berbagai kasus serupa di Jawa Timur.

bubuk mercon.

Campuran sederhana dari, kalium nitrat, belerang, arang.

Dalam dunia kimia, campuran ini adalah bentuk mesiu sederhana.

Namun jika disimpan dalam jumlah besar, bahan ini dapat berubah menjadi bom berdaya ledak tinggi.

Satu percikan kecil saja dapat memicu ledakan yang menghancurkan bangunan.


Industri Mercon Desa

Fenomena ini tidak berdiri sendiri.

Di banyak desa di Jawa Timur, produksi mercon telah berkembang menjadi industri rumahan bawah tanah.

Prosesnya sederhana:

bahan kimia dibeli dari pasar
diracik di rumah
kemudian dijual menjelang malam takbiran.

Permintaan mercon selalu melonjak menjelang Lebaran.

Pasarnya luas. Dari desa hingga kota.

Namun aktivitas ini sering dilakukan tanpa standar keamanan.


Tragedi yang Berulang

Ledakan di Kandangan Kediri hanyalah satu dari banyak peristiwa serupa.

Kasus paling tragis terjadi dalam Ledakan petasan Blitar 2023, ketika sebuah rumah hancur akibat racikan mercon dalam jumlah besar.

Ledakan itu merusak beberapa rumah di sekitarnya dan menewaskan korban jiwa.

Di Mojokerto, kasus penyimpanan bubuk mercon juga pernah terjadi di wilayah Sumolawang Puri.

Polanya selalu sama.

Rumah warga.
Bahan petasan.
Ledakan mendadak.


Ancaman Hukum yang Sering Diabaikan

Aktivitas meracik mercon sebenarnya bukan sekadar pelanggaran ringan.

Dalam hukum Indonesia, kepemilikan bahan peledak tanpa izin dapat dijerat dengan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Ancaman hukumnya sangat berat.

Pelaku bisa dijatuhi hukuman hingga 20 tahun penjara.

Namun di tingkat desa, banyak warga yang tidak menyadari bahwa bubuk mercon yang mereka simpan sebenarnya masuk kategori bahan peledak berbahaya.







Dentuman yang Menjadi Peringatan

Kini Dusun Plumpungrejo masih diliputi rasa cemas.

Ledakan yang hanya berlangsung beberapa detik itu meninggalkan trauma bagi warga.

Rumah mungkin bisa dibangun kembali.

Namun rasa aman warga tidak mudah dipulihkan.

Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan penuh kedamaian berubah menjadi malam penuh ketegangan.

Dentuman itu menjadi pengingat bahwa di balik tradisi mercon yang dianggap hiburan, tersimpan bahaya besar yang bisa menghancurkan rumah, bahkan merenggut nyawa.

Selama industri mercon rumahan masih terus berlangsung di desa-desa, dentuman seperti itu bisa kembali terjadi di tempat lain, pada malam yang lain.










Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode