BUPATI ALBARRA TURUN KE LOKASI BANJIR & MEMINTA MAAF KE WARGA
-Baca Juga
Malam itu seharusnya dipenuhi gema takbir.
Di Desa Jumeneng, Kecamatan Mojoanyar, suara itu tetap terdengar sayup, berbaur dengan gemuruh air yang datang tanpa permisi. Dari arah Daerah Aliran Sungai Sadar, anak dari Sungai Brantas, air meluap perlahan, lalu pasti. Jalan desa yang biasanya menjadi jalur silaturahmi berubah menjadi arus yang dingin dan tak bersahabat.
Beberapa warga memilih tetap keluar rumah. Bukan untuk merayakan, tapi memastikan tetangganya selamat.
Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, bayangan mereka terpantul di permukaan air yang beriak. Ada yang menggulung celana, ada yang menggendong anak, ada pula yang hanya berdiri menatap genangan yang seperti tak ingin pergi.
Lebaran datang. Tapi tidak semua orang bisa merasakannya dengan utuh.
Di Dusun Balong Cangak, Desa Kedung Gempol, Kecamatan Mojosari, cerita yang sama berulang dengan cara yang lebih keras. Tanggul sepanjang puluhan meter jebol. Air tak lagi sekadar meluap ia masuk, mendesak, mengambil ruang.
Rumah-rumah yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi aroma opor dan ketupat, mendadak berubah menjadi tempat yang harus ditinggalkan.
Seorang lansia duduk di kursi kayu yang sudah setengah terendam. Di sekelilingnya, keluarga sibuk mengangkat barang. Tapi ia tetap diam. Mungkin bukan karena tidak ingin bergerak melainkan karena sudah terlalu sering mengalami hal yang sama.
Di desa ini, banjir bukan lagi kejutan.
Ia adalah siklus.
Sejak awal 2000-an, Desa Jumeneng telah berkali-kali menjadi langganan banjir. Namun yang berubah hanya musim bukan penanganannya. Tanggul masih berupa tanah, rapuh terhadap abrasi dan erosi. Setiap hujan deras di hulu, warga tahu air akan datang lagi.
Dan benar saja ia datang di malam yang seharusnya suci.
Di tengah situasi itu, Muhammad AlBarra turun langsung ke lokasi. Malam takbiran tidak menghentikan langkahnya. Ia menyapa warga, melihat genangan, dan mendengar keluhan yang mungkin sudah terlalu sering diulang.
Permohonan maaf pun disampaikan.
Sebuah gestur yang penting, tapi belum cukup.
Karena bagi warga, yang mereka butuhkan bukan hanya kehadiran saat air datang melainkan kepastian bahwa air itu tidak akan datang lagi dengan cara yang sama.
Di sisi lain, kewenangan pengelolaan sungai berada di tangan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas. Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks antara koordinasi, tanggung jawab, dan realisasi di lapangan.
Rapat koordinasi akan digelar setelah libur nasional.
Sementara itu, warga sudah lebih dulu menghadapi dampaknya.
Seorang ibu muda di pengungsian menggendong bayinya yang belum genap satu tahun. Di sampingnya, seorang balita tertidur di atas tikar darurat. Mereka tidak menangis. Tidak juga mengeluh.
Mereka hanya menunggu.
Menunggu air surut.
Menunggu rumah bisa kembali dihuni.
Menunggu jawaban yang entah kapan benar-benar datang.
Lebaran, bagi sebagian orang, adalah kemenangan.
Namun di Mojokerto, pada malam itu, Lebaran menjadi pengingat bahwa kemenangan tidak selalu hadir dalam bentuk kebahagiaan. Kadang ia hadir dalam bentuk ketabahan bertahan di tengah genangan, menjaga harapan agar tidak ikut hanyut.
“Di antara takbir yang menggema dan air yang mengalir, warga belajar satu hal:
bertahan adalah bentuk paling sunyi dari kemenangan.”
