EDISI KHUSUS BENCANA. AIR DATANG SAAT TARAWIH. Peringatan Banjir Mojokerto di Tengah Arus Mudik
-Baca Juga
Hujan turun tanpa jeda sejak Minggu sore.
Langit gelap menggantung di atas Kabupaten Mojokerto. Awan tebal menutup matahari sejak siang. Sekitar pukul 14.15 WIB, hujan mulai mengguyur wilayah Mojosari dan sekitarnya.
Awalnya seperti hujan biasa.
Namun menjelang malam, air dari hulu sungai mulai bergerak turun dengan cepat.
Debit di Sungai Pikatan dan Sungai Kromong meningkat drastis.
Tidak lama kemudian, sungai meluap.
Air mengalir deras menuju permukiman warga.
Wilayah yang paling merasakan dampaknya adalah Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar.
Di Dusun Tambakrejo, warga awalnya masih menjalankan aktivitas seperti biasa.
Sebagian menyiapkan buka puasa.
Sebagian lainnya bersiap menuju masjid untuk Tarawih.
Namun setelah Maghrib, air mulai merayap masuk halaman rumah.
Pelan.
Lalu tiba-tiba cepat.
SAAT TARAWIH USAI, AIR SUDAH SETINGGI DADA
Ketika warga pulang dari masjid, genangan sudah berubah menjadi banjir.
Air setinggi dada orang dewasa menggenangi jalan kampung.
Sebagian warga berusaha menyelamatkan barang-barang rumah tangga.
Motor didorong ke tempat lebih tinggi.
Kasur diangkat ke atas lemari.
Namun air terus naik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Kabupaten Mojokerto) mencatat sedikitnya 125 rumah warga terdampak banjir di Dusun Tambakrejo.
Kalaksa BPBD Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan tim gabungan segera turun ke lokasi.
Sebanyak 11 warga dievakuasi, terutama anak-anak dan lansia.
Mereka dibawa ke posko pengungsian di Balai Dusun Tambakrejo.
Sementara sebagian besar warga lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing menunggu air surut.
DRAMA BYPASS KENANTEN
Ketika Jalur Utama Mojokerto Lumpuh
Jika Gayaman adalah wajah bencana di permukiman warga, maka drama lain terjadi di jalur utama transportasi Mojokerto.
Di kawasan Simpang Lima By Pass Kenanten, Kecamatan Puri, banjir merendam badan jalan.
Jalur strategis penghubung Surabaya–Jombang itu berubah menjadi lautan kendaraan.
Air menggenangi jalan hingga menyebabkan arus lalu lintas tersendat.
Situasi menjadi semakin rumit karena momen arus mudik mulai meningkat.
Kendaraan dari arah Surabaya menuju Jombang memadati jalur bypass.
Di saat bersamaan, kendaraan dari Kota Mojokerto menuju Mojosari juga menumpuk di simpang tersebut.
Kemacetan tidak terhindarkan.
Lampu traffic light di simpang lima Kenanten bahkan tidak lagi bisa dijalankan secara normal.
Air yang menggenangi kawasan membuat sistem pengaturan lalu lintas otomatis tidak efektif.
Akhirnya petugas kepolisian turun langsung ke tengah jalan.
Dengan rompi reflektor dan peluit di tangan, mereka mengatur arus kendaraan secara manual di tengah hujan dan genangan air.
Lampu kendaraan menyala panjang di sepanjang jalan.
Klakson terdengar bersahutan.
Malam itu, bypass Kenanten menjadi salah satu titik kemacetan terparah di Mojokerto.
SAHUR DI PENGUNGSIAN
Di sisi lain Desa, malam panjang dilalui warga Gayaman dengan cara berbeda.
Di Balai Dusun Tambakrejo, puluhan warga berkumpul di posko pengungsian.
Sebagian membawa tas kecil berisi pakaian.
Sebagian lainnya hanya membawa selimut.
Relawan dari BPBD Kabupaten Mojokerto menyiapkan bantuan darurat termasuk makanan.
Menjelang dini hari, makanan sahur dibagikan kepada para pengungsi.
Tidak ada meja makan.
Tidak ada dapur rumah.
Hanya tikar sederhana di lantai balai dusun.
Namun sahur itu terasa sangat berarti.
Karena rumah mereka masih digenangi air.
Mengapa Mojokerto Semakin Rentan Banjir?
Banjir Gayaman bukan sekadar peristiwa alam.
Ia membuka persoalan yang lebih besar.
Sungai yang Menyempit
Pendangkalan di Sungai Pikatan dan Sungai Kromong membuat kapasitas sungai semakin berkurang.
Perubahan Tata Ruang
Perkembangan kawasan perumahan di wilayah Mojoanyar hingga Puri mengurangi daerah resapan air.
Drainase Sungai
Genangan di Simpang Lima By Pass Kenanten menunjukkan sistem drainase di jalur strategis tersebut belum mampu menampung debit air besar.
Malam yang Mengingatkan Mojokerto
Malam itu Mojokerto belajar satu hal.
Banjir bukan sekadar air yang meluap.
Ia adalah pesan dari alam dan tata kota.
Di Gayaman, warga mengungsi.
Di Kenanten, kendaraan terjebak kemacetan panjang.
Dan di antara dua peristiwa itu, satu pertanyaan muncul.
Apakah Mojokerto sudah siap menghadapi musim hujan yang semakin ekstrem?
