Penolong Kelahiran yang Dikejar Absensi. ASPIRASI BIDAN MOJOKERTO
-Baca Juga
Di Mojokerto, para bidan berjaga sepanjang malam untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. Namun setelah itu, mereka masih harus mengejar mesin absensi. Dua nyawa melayang di jalan pulang.
Fajar baru saja merekah di Mojokerto. Jalan desa masih lengang ketika seorang bidan menyalakan sepeda motornya. Matanya berat setelah berjaga sepanjang malam di ruang bersalin puskesmas pembantu.
Beberapa jam sebelumnya, seorang bayi lahir dengan selamat di tangannya.
Ia seharusnya pulang untuk beristirahat.
Namun sebelum itu, ada satu kewajiban lain yang menunggu absensi di kantor induk.
Bagi banyak bidan di Kabupaten Mojokerto, rutinitas ini bukan pengecualian. Ini adalah bagian dari sistem kerja yang mereka jalani setiap hari sebuah sistem yang mempertemukan dua dunia yang berbeda, pelayanan kesehatan yang tidak mengenal waktu dan birokrasi yang menuntut kepatuhan administratif.
Benturan itu kini mulai memperlihatkan dampaknya.
Dalam beberapa tahun terakhir, dua bidan dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas setelah menjalani shift malam yang panjang.
Bagi rekan-rekan mereka, tragedi itu meninggalkan pertanyaan yang sulit diabaikan: apakah sistem kerja birokrasi telah gagal melindungi para penjaga kehidupan?
Mesin Absensi dan Sistem yang Kaku
Di atas kertas, aturan absensi adalah bagian dari disiplin aparatur sipil negara.
Namun di lapangan, realitas kerja tenaga kesehatan jauh lebih kompleks.
Persalinan tidak mengikuti jam kantor. Bayi bisa lahir tengah malam, saat hujan deras, atau ketika sebagian besar orang masih terlelap.
Bidan yang berjaga sepanjang malam tetap harus memenuhi kewajiban administratif di kantor induk.
Bagi mereka yang bekerja di wilayah desa, perjalanan menuju kantor bisa memakan waktu cukup lama.
Dalam ilmu kesehatan kerja, kondisi seperti ini dikenal sebagai fatigue risk, risiko kecelakaan akibat kelelahan kerja.
Risiko yang dalam beberapa kasus telah berubah menjadi tragedi.
Ketika Jalan Pulang Menjadi Terakhir
Dua bidan di Kabupaten Mojokerto meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas sepulang dari tugas malam.
Peristiwa itu mengguncang komunitas tenaga kesehatan setempat.
Di ruang-ruang puskesmas dan klinik desa, cerita tentang kelelahan kerja bukan lagi sekadar keluhan biasa. Ia menjadi percakapan sehari-hari.
Bidan adalah garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Namun di balik peran vital itu, mereka bekerja dalam sistem yang sering kali tidak memberi ruang cukup untuk istirahat.
Kesejahteraan yang Belum Seimbang
Keluhan para bidan tidak berhenti pada pola kerja.
Sebagian dari mereka juga mempertanyakan kebijakan tunjangan kinerja yang dianggap belum mencerminkan beban kerja mereka.
Dalam kerangka hukum nasional, manajemen aparatur sipil negara diatur melalui.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
Namun pelaksanaan tunjangan kinerja di daerah sangat bergantung pada kebijakan pemerintah daerah.
Akibatnya, kesejahteraan tenaga kesehatan sering kali berbeda jauh antara satu daerah dengan daerah lain.
Karier yang Tersendat
Persoalan lain yang muncul adalah terbatasnya ruang karier bagi bidan.
Sebagai jabatan fungsional, peluang untuk menduduki posisi struktural sangat terbatas.
Banyak tenaga kesehatan akhirnya menghabiskan puluhan tahun karier mereka di posisi yang sama, tanpa jalur pengembangan yang jelas.
Padahal mereka adalah tenaga profesional yang menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan primer.
Sistem yang Belum Berubah
Kasus para bidan di Kabupaten Mojokerto menggambarkan persoalan yang lebih luas dalam birokrasi kesehatan daerah.
Sistem administrasi aparatur sipil negara dirancang dengan asumsi jam kerja tetap.
Sementara pelayanan kesehatan berjalan sepanjang waktu.
Ketika dua sistem ini dipertemukan tanpa penyesuaian, tekanan kerja menjadi tidak terhindarkan.
Para pakar manajemen kesehatan publik menyebut ada beberapa langkah yang bisa diambil.
Pertama, sistem absensi tenaga kesehatan perlu disesuaikan dengan pola kerja shift.
Kedua, kebijakan tunjangan kinerja harus mempertimbangkan beban kerja lapangan.
Ketiga, jalur karier tenaga kesehatan fungsional perlu diperluas.
Keempat, standar keselamatan kerja harus diterapkan secara serius untuk mencegah kelelahan ekstrem.
Langkah-langkah tersebut bukan hanya soal kesejahteraan tenaga kesehatan.
Ia juga menentukan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Penjaga Kehidupan
Setiap hari para bidan membantu kelahiran kehidupan baru.
Di ruang bersalin kecil di desa-desa, mereka memastikan seorang ibu dan bayi dapat melewati momen paling genting dalam hidup mereka.
Namun di balik tugas itu, mereka juga manusia dengan batas tenaga.
Dan ketika sistem kerja justru membuat mereka bekerja di ambang kelelahan, pertanyaannya menjadi semakin mendesak,
apakah birokrasi kesehatan telah benar-benar menjaga para penjaga kehidupan itu?
Ini bagian dari tugas negara, KOMISI IV DPRD Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, ASPIRASI BIDAN harus di akomodasi. Agar jelas trowelo welo Mr. Agus Fauzan dkk
