Ady Prasongko, Energi Muda untuk Desa Beloh Membawa Asa Baru dari Sentra Kerajinan Alas Kaki
-Baca Juga
Di tengah menghangatnya kontestasi Pemilihan Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW) Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, nama Ady Prasongko mencuat sebagai salah satu figur yang paling diperbincangkan.
Calon Kepala Desa nomor urut 2 itu hadir bukan sekadar sebagai kandidat, tetapi sebagai representasi harapan baru bagi desa yang selama ini menyimpan potensi besar namun belum sepenuhnya tergarap.
Pilkades PAW Desa Beloh dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 16 April 2026. Agenda ini menjadi bagian dari percepatan pemulihan tata kelola pemerintahan desa, menyusul kekosongan jabatan kepala desa definitif. Desa Beloh sendiri termasuk dalam 10 desa di Kabupaten Mojokerto yang menggelar Pilkades PAW tahun ini, dengan tahapan yang telah dimulai sejak awal 2026 dan ditargetkan rampung paling lambat Juni, sesuai Peraturan Bupati Mojokerto Nomor 3 Tahun 2026.
Meski jumlah pemilih tetap hanya 75 orang, bahkan berkurang menjadi 74 setelah satu pemilih dilaporkan meninggal dunia, kontestasi di Desa Beloh justru terasa panas. Sebab, siapa pun yang terpilih akan memegang peran penting dalam menentukan arah pembangunan desa ke depan.
Bagi Ady Prasongko, Pilkades bukan sekadar perebutan kursi kekuasaan. Ini adalah panggilan untuk membangun kampung halaman.
“Desa Beloh harus maju, mandiri, adil, dan makmur. Pemerintahan desa harus transparan, aman, dan berpihak kepada masyarakat,” demikian visi yang diusungnya.
Visi tersebut diterjemahkan dalam fokus kerja yang cukup jelas, pembenahan infrastruktur, penguatan ekonomi desa, pelayanan publik prima, penguatan kegiatan keagamaan, serta pelestarian budaya lokal.
Namun, perhatian terbesar Ady tampaknya tertuju pada denyut ekonomi warga.
Desa Beloh selama ini dikenal memiliki potensi kerajinan alas kaki. Di tiga dusun, puluhan warga masih menggantungkan hidup dari produksi sandal dan sepatu rumahan. Meski jumlah perajin tak sebanyak dulu, sektor ini tetap menjadi nadi ekonomi lokal yang perlu diselamatkan.
Ady melihat potensi itu bukan sebagai warisan masa lalu, melainkan fondasi masa depan.
“Kerajinan alas kaki warga Beloh punya nilai ekonomi besar. Tinggal bagaimana kita hadir memberi pendampingan, membuka akses pasar, dan membuat usaha mereka naik kelas,” ujarnya.
Di sinilah peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang baru terbentuk tahun lalu menjadi kunci. Menurut Ady, BUMDes tak boleh berhenti sebagai lembaga formalitas administrasi, tetapi harus menjadi mesin penggerak ekonomi warga.
Ia menyiapkan gagasan penguatan unit usaha berbasis potensi lokal, mulai dari pendampingan perajin, peningkatan kualitas produk, pengemasan, hingga strategi pemasaran yang lebih luas.
Dengan model pendampingan yang intensif, Ady meyakini pelaku UMKM desa mampu menghasilkan produk yang lebih inovatif, lebih kompetitif, dan mampu menembus pasar yang lebih besar.
“Kalau usaha warga tumbuh, lapangan kerja terbuka. Kalau lapangan kerja terbuka, kesejahteraan desa ikut naik,” katanya.
Di mata banyak warga, Ady bukan sosok asing. Ia dikenal dekat dengan masyarakat, mudah bergaul, dan memahami denyut persoalan desa dari dekat.
Dalam kontestasi yang hanya diikuti segelintir pemilih tetap ini, pertarungan sesungguhnya bukan hanya soal angka suara, tetapi soal siapa yang paling mampu meyakinkan bahwa Desa Beloh bisa bergerak lebih cepat menuju kemajuan.
Di desa kecil yang menyimpan jejak peradaban Trowulan, harapan itu kini sedang dipertaruhkan.
Dan bagi Ady Prasongko, Pilkades PAW bukan hanya tentang kemenangan pribadi, melainkan tentang kesempatan untuk menyalakan kembali optimisme warga desa dari akar rumput.
Writer: Damar Wijaya
