Ady Prasongko Menang, Beloh Menyala Lahirnya Energi Baru dari Kecamatan Trowulan ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Ady Prasongko Menang, Beloh Menyala Lahirnya Energi Baru dari Kecamatan Trowulan

-

Baca Juga


Pilkades PAW Desa Beloh Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, Kamis 16 April 2026.



Di sebuah desa yang menyimpan jejak panjang peradaban Majapahit, sebuah babak baru lahir lewat pemungutan suara yang sederhana, namun sarat makna.

Kamis siang, 16 April 2026, halaman Kantor Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, dipenuhi tatapan yang menunggu arah masa depan. Tak ada gegap gempita berlebihan. Hanya kursi-kursi plastik, kertas suara, wajah-wajah tegang, dan harapan yang menggantung di udara.

Di tengah ruang demokrasi desa yang intim itu, seorang pemuda bernama Ady Prasongko berdiri tenang. Jas hitam rapi, peci hitam, sorot mata teduh, dan senyum tipis yang menahan banyak hal, kegugupan, keyakinan, sekaligus tanggung jawab yang sebentar lagi akan jatuh di pundaknya.

Hari itu, Desa Beloh memilih bukan sekadar kepala desa pergantian antar waktu (PAW), melainkan arah baru setelah masa kekosongan kepemimpinan yang cukup lama.

Dan hasilnya tegas.

Ady Prasongko, calon nomor urut 2, meraih 46 suara dari total 72 suara sah. Rivalnya, Idun Marjuki nomor urut 1, memperoleh 26 suara. Dari total 74 daftar pemilih tetap, dua suara dinyatakan tidak sah.

Selisih 20 suara di arena pemilih yang hanya puluhan orang bukan sekadar angka. Itu adalah mandat kuat.

Di desa kecil dengan denyut sosial yang rapat, setiap suara lahir dari kedekatan, pengamatan, dan rekam jejak. Tidak ada ruang besar untuk pencitraan kosong. Warga tahu siapa yang hadir saat mereka butuh, siapa yang sekadar datang saat musim pemilihan.

Maka kemenangan Ady terasa seperti peristiwa yang pelan, tapi dalam.

Bukan ledakan pesta. Melainkan lahirnya keyakinan baru.

Beloh bukan desa biasa. Di Trowulan, wilayah yang menjadi simpul sejarah besar Nusantara, Desa Beloh tumbuh sebagai desa pekerja. Warganya terbiasa hidup dari tangan, bukan dari wacana. Di tiga dusun, kerajinan alas kaki pernah menjadi denyut utama ekonomi rumah tangga.

Sandal, sepatu, dan kerja-kerja rumahan pernah menjadikan desa ini hidup. Bunyi palu, jahit, lem, dan potong bahan pernah menjadi suara harian yang akrab di lorong-lorong kampung.

Namun waktu mengubah banyak hal.

Jumlah perajin berkurang. Pasar makin keras. Anak muda banyak yang memilih pergi. Sementara potensi desa seperti berjalan tanpa kompas.

Di titik itulah nama Ady Prasongko mulai mendapat tempat di hati warga.

Ia bukan tokoh yang datang dari luar. Ia lahir dari ritme desa itu sendiri. Ia tahu jalan-jalan kecil yang rusak, tahu suara ibu-ibu yang mengeluh soal layanan administrasi, tahu keresahan perajin yang makin sulit menjual barang, tahu anak-anak muda yang kehilangan ruang tumbuh.

Ady datang membawa sesuatu yang jarang, gagasan yang terdengar sederhana, tetapi membumi.

Ia berbicara tentang tata kelola pemerintahan yang transparan. Tentang pelayanan yang cepat. Tentang keamanan desa yang tak hanya formalitas ronda malam. Tentang penguatan kegiatan keagamaan yang tak berhenti di seremonial.

Tapi yang paling menarik, ia bicara soal ekonomi dengan bahasa yang dimengerti warga.

Bukan jargon. Bukan janji abstrak.

Ia bicara soal kerja.

Menurutnya, Desa Beloh tidak miskin potensi. Yang kurang selama ini adalah keberanian mengelola dan mendampingi.

Baginya, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang baru terbentuk tahun lalu tidak boleh hanya menjadi papan nama di kantor desa. BUMDes harus menjadi mesin yang hidup.

Mesin yang membantu warga menjual hasil kerja mereka.

Mesin yang membuka akses pasar.

Mesin yang menciptakan lapangan kerja.

Mesin yang membuat anak muda tak harus pergi ke kota hanya untuk mencari peluang.

“Kalau potensi warga dirawat, desa akan hidup. Kalau ekonomi warga bergerak, kesejahteraan datang,” begitu semangat yang lama ia sampaikan kepada warga.

Di tengah banyak kepala desa yang masih terjebak rutinitas administratif, visi Ady terasa berbeda, ia ingin pemerintah desa hadir sebagai fasilitator, bukan penguasa.

Itulah mungkin yang membuat banyak warga menjatuhkan pilihan.

Bagi Beloh, kemenangan Ady bukan hanya soal figur muda menang atas lawan politik. Ini tentang pergantian energi.

Tentang generasi yang mulai mengambil alih kemudi.

Tentang harapan bahwa desa tak lagi dipimpin sekadar untuk menjaga status quo, tetapi untuk bergerak.

Pilkades PAW Beloh sendiri menjadi bagian dari dinamika besar di Kabupaten Mojokerto.




Sugeng Nuryadi Kepala OPD DPMD Pemkab Mojokerto di Dampingi Sekertaris DPMD Jarot Cahyono 


Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Mojokerto, Sugeng Nuryadi, hadir langsung menyaksikan jalannya pemilihan. Kehadiran pejabat daerah itu menegaskan bahwa pemilihan ini bukan sekadar agenda lokal, melainkan bagian dari transisi besar tata kelola desa di Mojokerto.

Data DPMD menunjukkan, sebanyak 258 kepala desa di Mojokerto akan mengakhiri masa jabatan pada 2027. Rinciannya, 251 desa berakhir masa jabatan tahun depan, ditambah tujuh desa lagi yang berakhir November 2026.

Karena itu, Pilkades serentak akan digelar pada 2027.

Sebelum agenda besar itu, Pilkades PAW menjadi jembatan penting agar desa-desa yang kosong kepemimpinan tidak kehilangan arah.

Beloh menjadi satu dari sembilan desa yang benar-benar melaksanakan PAW tahun ini, setelah Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, batal menggelar pemilihan.

Namun, di balik statistik dan regulasi, cerita sesungguhnya tetaplah manusia.

Tentang warga yang ingin desanya lebih baik.

Tentang perajin yang ingin usahanya tetap hidup.

Tentang pemuda yang ingin desanya tak hanya dikenal sebagai jejak sejarah, tetapi juga masa depan.

Sore itu, setelah hasil suara dibacakan, tepuk tangan terdengar tidak meledak-ledak. Tapi cukup untuk menandai satu hal: kepercayaan telah diberikan.

Bagi Ady Prasongko, kemenangan itu bukan garis akhir.

Itu baru pintu masuk.

Karena di desa, kemenangan sejati bukan ditentukan saat kotak suara dibuka.

Melainkan saat jalan-jalan desa mulai diperbaiki, usaha warga mulai tumbuh, pelayanan mulai cepat, dan warga mulai merasa, pemerintah benar-benar hadir.

Di Beloh, babak baru itu akhirnya dimulai.





Writer. : Dion 
Editor.  : Djose 





Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode