Gus Makruf dan Bara Persaudaraan Pagar Nusa Mojokerto ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Gus Makruf dan Bara Persaudaraan Pagar Nusa Mojokerto

-

Baca Juga


Gus Makruf Pimpinan Cabang Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto Jawa Timur.




Di atas panggung sederhana, suara mikrofon itu tak hanya memecah sunyi ruangan, tetapi juga menyatukan denyut hati ratusan pendekar muda dan senior. Di hadapan keluarga besar Pagar Nusa PAC Puri, Gus Makruf duduk tenang. Didampingi Ketua Pelaksana: M. Khabib Alkirom , Ketua PAC Pagar Nusa Puri: Ahmad Fachruddin , Sekertaris: Ahmad Tamyis Zuban. Wajahnya teduh, tutur katanya terukur, tetapi pesannya tega, menjaga silaturahmi, merawat adab, dan menyiapkan diri untuk tantangan yang lebih besar.

Momentum halal bihalal keluarga besar Pagar Nusa di Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, dilaksanakan di gedung KBIHU ASSYARIF Medali Puri, bukan sekadar tradisi tahunan pasca-Lebaran. Ia menjadi ruang batin yang mempertemukan kembali para pendekar lintas generasi, mereka yang pernah berlatih di pelataran pesantren, di lapangan desa, hingga yang kini aktif membina kader-kader muda.

Di forum itulah Gus Makruf, pemimpin cabang Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto, tampil sebagai simpul kebersamaan. Dengan mikrofon di tangan, ia tak hanya membuka acara. Ia menyalakan kembali semangat bahwa pencak silat bukan sekadar urusan fisik, tetapi jalan membentuk watak.

“Pendekar sejati bukan yang paling keras pukulannya, tetapi yang paling kokoh akhlaknya.”

Kalimat semacam itu terasa hidup di ruang tersebut. Para santri, pelatih, dan pendekar senior menyimak dengan khidmat. Ada rasa hormat kepada guru, ada takzim kepada para sesepuh, ada pula semangat muda yang tumbuh dalam diam.




Silaturahmi yang Menjaga Sanad

Pagar Nusa lahir dari rahim tradisi pesantren, memadukan bela diri, adab, dan nilai spiritual. Karena itu, halal bihalal semacam ini punya makna lebih dalam daripada seremoni biasa. Ia adalah ruang untuk memperkuat sanad, hubungan murid dengan guru, junior dengan senior, dan generasi sekarang dengan jejak para pendahulu.

Di Mojokerto, Pagar Nusa bukan nama asing. Perguruan ini telah menjadi bagian dari denyut sosial masyarakat menjaga tradisi, menghidupkan kegiatan kepemudaan, hingga menjadi benteng moral di tengah perubahan zaman.

Melalui forum kebersamaan ini, Gus Makruf menegaskan pentingnya soliditas. Menurutnya, persaudaraan adalah fondasi utama sebelum melangkah ke gelanggang.

Menatap Kejuaraan Piala Bupati 2026

Halal bihalal kali ini juga menjadi titik awal konsolidasi besar. Di balik suasana hangat silaturahmi, tersimpan agenda penting, persiapan menuju Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati Mojokerto yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026 di GOR Gajahmada Mojosari.

Ajang itu bukan sekadar kompetisi. Bagi para atlet muda Pagar Nusa, ini adalah panggung pembuktian hasil latihan bertahun-tahun. Bagi para pelatih, ini adalah ujian kesabaran dan konsistensi. Sementara bagi para senior, ini adalah kesempatan memastikan warisan perguruan tetap hidup dalam prestasi.

Gus Makruf memahami benar arti penting momentum tersebut. Karena itu, forum halal bihalal menjadi lebih dari sekadar temu kangen. Ia berubah menjadi titik nyala semangat kolektif.

Latihan fisik, teknik tanding, mental juara, hingga pembinaan akhlak menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sebab dalam tradisi Pagar Nusa, kemenangan bukan hanya soal medali, melainkan tentang kehormatan, sportivitas, dan nama baik perguruan.

Menjaga Warisan, Menjemput Masa Depan

Di tengah zaman yang terus bergerak cepat, Pagar Nusa Mojokerto memilih tetap berpijak pada akar, adab, disiplin, dan persaudaraan. Dari panggung halal bihalal itu, tampak jelas bahwa warisan tak pernah benar-benar tua selama ada generasi yang mau merawatnya.

Gus Makruf, dengan gaya tenang dan wibawanya, seolah mengingatkan satu hal penting, bahwa pendekar bukan sekadar petarung di arena, melainkan penjaga nilai di tengah masyarakat.

Dan dari Mojokerto, bara itu masih menyala, dalam salam para santri, dalam doa para sesepuh, dan dalam langkah para atlet muda yang kini menatap gelanggang Mei 2026 dengan keyakinan penuh.





Writer.   : Damar Wijaya Tungga Dewa 

Editor.   : Djose 



Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode