PERJALANAN MEMBARA Ady Prasongko, Energi Muda untuk Desa Beloh Membela Wong Cilik
-Baca Juga
Di tengah menghangatnya kontestasi Pemilihan Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW) Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, nama Ady Prasongko mencuat sebagai salah satu figur yang paling diperbincangkan.
Pemuda bernomor urut 2 itu hadir bukan sekadar sebagai kandidat, tetapi sebagai representasi harapan baru bagi desa yang selama ini menyimpan potensi besar namun belum sepenuhnya tergarap.
Pilkades PAW Desa Beloh dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 16 April 2026. Agenda ini menjadi bagian dari percepatan pemulihan tata kelola pemerintahan desa, menyusul kekosongan jabatan kepala desa definitif. Desa Beloh sendiri termasuk dalam 10 desa di Kabupaten Mojokerto yang menggelar Pilkades PAW tahun ini, dengan tahapan yang telah dimulai sejak awal 2026 dan ditargetkan rampung paling lambat Juni, sesuai Peraturan Bupati Mojokerto Nomor 3 Tahun 2026.
Meski jumlah pemilih tetap hanya 75 orang, bahkan berkurang menjadi 74 setelah satu pemilih dilaporkan meninggal dunia, kontestasi di Desa Beloh justru terasa panas. Sebab, siapa pun yang terpilih akan memegang peran penting dalam menentukan arah pembangunan desa ke depan.
Bagi Ady Prasongko, Pilkades bukan sekadar perebutan kursi kekuasaan. Ini adalah panggilan untuk membangun kampung halaman.
“Desa Beloh harus maju, mandiri, adil, dan makmur. Pemerintahan desa harus transparan, aman, dan berpihak kepada masyarakat,” demikian visi yang diusungnya.
Visi tersebut diterjemahkan dalam fokus kerja yang cukup jelas, pembenahan infrastruktur, penguatan ekonomi desa, pelayanan publik prima, penguatan kegiatan keagamaan, serta pelestarian budaya lokal.
Namun, perhatian terbesar Ady tampaknya tertuju pada denyut ekonomi warga.
Desa Beloh selama ini dikenal memiliki potensi kerajinan alas kaki. Di tiga dusun, puluhan warga masih menggantungkan hidup dari produksi sandal dan sepatu rumahan. Meski jumlah perajin tak sebanyak dulu, sektor ini tetap menjadi nadi ekonomi lokal yang perlu diselamatkan.
Ady melihat potensi itu bukan sebagai warisan masa lalu, melainkan fondasi masa depan.
“Kerajinan alas kaki warga Beloh punya nilai ekonomi besar. Tinggal bagaimana kita hadir memberi pendampingan, membuka akses pasar, dan membuat usaha mereka naik kelas,” ujarnya.
Di sinilah peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang baru terbentuk tahun lalu menjadi kunci. Menurut Ady, BUMDes tak boleh berhenti sebagai lembaga formalitas administrasi, tetapi harus menjadi mesin penggerak ekonomi warga.
Ia menyiapkan gagasan penguatan unit usaha berbasis potensi lokal, mulai dari pendampingan perajin, peningkatan kualitas produk, pengemasan, hingga strategi pemasaran yang lebih luas.
Dengan model pendampingan yang intensif, Ady meyakini pelaku UMKM desa mampu menghasilkan produk yang lebih inovatif, lebih kompetitif, dan mampu menembus pasar yang lebih besar.
“Kalau usaha warga tumbuh, lapangan kerja terbuka. Kalau lapangan kerja terbuka, kesejahteraan desa ikut naik,” katanya.
Di mata banyak warga, Ady bukan sosok asing. Ia dikenal dekat dengan masyarakat, mudah bergaul, dan memahami denyut persoalan desa dari dekat.
Dalam kontestasi yang hanya diikuti segelintir pemilih tetap ini, pertarungan sesungguhnya bukan hanya soal angka suara, tetapi soal siapa yang paling mampu meyakinkan bahwa Desa Beloh bisa bergerak lebih cepat menuju kemajuan.
Di desa kecil yang menyimpan jejak peradaban Trowulan, harapan itu kini sedang dipertaruhkan.
Dan bagi Ady Prasongko, Pilkades PAW bukan hanya tentang kemenangan pribadi, melainkan tentang kesempatan untuk menyalakan kembali optimisme warga desa dari akar rumput.
PERJALANAN MEMBARA ADY PRASONGKO
Energi Muda untuk Desa Beloh, Membela Wong Cilik
Terik Matahari di Tanah Warisan
Di tengah hamparan tanah yang menyimpan ribuan kisah masa lalu, di jantung Kecamatan Trowulan pusat peradaban besar yang pernah menggetarkan Nusantara, terhampar sebuah desa kecil yang tenang namun menyimpan bara api yang mulai memanas. Desa Beloh, begitulah nama tempat itu. Di balik kesunyiannya, angin seolah membawa bisik-bisik yang tak kasat telinga. Udara terasa kering, namun mengandung muatan listrik yang siap meledak kapan saja. Sebuah pertanda bahwa pertarungan besar sedang menanti di depan mata.
Kontestasi Pemilihan Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (PAW) telah menggema di seantero penjuru desa. Jadwal pertempuran telah ditetapkan, tepatnya pada Kamis, 16 April 2026 mendatang. Ini bukan sekadar agenda administratif belaka, melainkan sebuah pentas besar penentuan nasib rakyat jelata. Sebagai bagian dari 10 desa yang diamanatkan oleh Peraturan Bupati Mojokerto Nomor 3 Tahun 2026, Desa Beloh harus segera bangkit dari tidur panjangnya, menyusul kekosongan pemimpin yang membuat "kapal besar" ini sempat oleng di tengah badai.
Di tengah hiruk-pikuk dan debu yang beterbangan, munculah sosok muda yang memancarkan aura berbeda. Wajahnya cerah namun matanya tajam menatap masa depan, bak elang yang terbang tinggi mengamati lembah di bawahnya. Dialah Ady Prasongko, pemuda dengan nomor urut 2 yang namanya kini menjadi buah bibir di setiap sudut gang dan warung kopi.
Ia hadir bukan dengan pedang terhunus atau baju zirah yang menyilaukan mata, melainkan membawa bekal tekad baja dan semangat membara. Bagi Ady, menjadi calon pemimpin bukanlah takhta untuk ditumpangi, melainkan beban berat yang harus dipikul di atas bahu kekar demi keselamatan kaum lemah.
Jumlah pemilih yang tercatat di buku harapan hanya 75 orang, kini menyusut menjadi 74 jiwa setelah satu nama terpaksa dicoret oleh "Sang Maha Kuasa". Angka yang terlihat kecil, bak biji kacang di tengah ladang luas. Namun, bagi para ahli strategi, bilangan itulah yang menjadi penentu arah angin perubahan. Di tangan 74 pemilih itulah, nasib Desa Beloh tersimpan rapat bagaikan misteri naga yang bersembunyi di dasar samudera.
"Siapa yang memegang kendali, ia yang akan menentukan ke mana arah angin bertiup," bisik para tetua desa dengan nada waspada.
Namun, Ady tidak datang untuk sekadar berebut kendali. Ia datang membawa semangat baru, ibarat embun pagi yang menyejukkan hati yang gersang.
"Desa Beloh harus maju, mandiri, adil, dan makmur. Pemerintahan desa harus transparan, aman, dan berpihak kepada masyarakat," ujar Ady dengan suara tegas namun merdu, seolah-olah gemuruh air terjun yang jatuh ke sungai jernih.
Bagi pemuda ini, kekuasaan hanyalah alat. Visi itulah yang menjadi senjatanya yang paling tajam. Ia berniat merombak tatanan yang sudah lapuk, memperbaiki jalanan yang rusak bagaikan menambal perahu bocor agar bisa berlayar kembali, menguatkan perekonomian yang sempat limbung, mempertajam pelayanan publik hingga setajam pisau bedah yang presisi, menghidupkan kembali nilai-nilai luhur agama yang mulai meredup, serta melestarikan budaya leluhur agar tidak terkikis zaman bagaikan pohon tua yang akarnya terus dijaga agar tetap rindang.
Senandung Alas Kaki di Tanah Pasiran
Di antara berbagai sasaran panah yang ia bidikkan, satu hal yang paling menarik perhatian Ady. Bukan gedung megah atau jalan raya aspal semata, melainkan denyut nadi rakyat kecil yang tersembunyi di balik rumah-rumah sederhana.
Desa Beloh menyimpan rahasia besar. Di tiga dusun yang terhampar, tersebar puluhan perajin yang setiap hari menunduk tekun mengolah bahan menjadi alas kaki. Sandal dan sepatu buatan tangan warga Beloh, meski mungkin tidak sepopuler masa kejayaannya dahulu, tetaplah menjadi tulang punggung yang menopang kehidupan banyak keluarga.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanyalah kerajinan kampungan yang usang. Namun, di mata Ady, ini adalah emas murni yang terpendam di bawah tanah.
"Kerajinan alas kaki ini bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi masa depan yang kokoh bak batu karang di pinggir pantai," ujar Ady dalam satu kesempatan. "Nilai ekonominya besar, Saudara-saudara. Tinggal bagaimana kita hadir menjadi jembatan yang menghubungkan desa ini dengan dunia luar. Memberi panduan agar tangan-tangan terampil ini menghasilkan karya yang mampu menaklukkan pasar."
Di sinilah letak strategi cerdik Ady. Ia tidak ingin Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang baru terbentuk tahun lalu hanya menjadi pajangan atau "boneka administrasi" semata. Bagi Ady, BUMDes haruslah berubah menjadi mesin raksasa yang berputar kencang, menjadi penggerak ekonomi yang menggeliat kuat.
Ia merancang sebuah rencana besar, bak arsitek yang sedang menggambar cetak biru istana megah. Mulai dari memberikan pendampingan kepada para perajin agar makin mahir, meningkatkan mutu barang hingga setara produk istana, memoles kemasan agar terlihat memikat mata, hingga menyusun strategi pemasaran yang luas bagaikan menebar jala di samudera raya.
"Kalau usaha warga tumbuh, maka pintu rezeki akan terbuka selebar-lebarnya. Kalau lapangan kerja terbuka, maka kemakmuran desa akan mengalir deras bagaikan sungai yang meluap membawa kesuburan," ujarnya penuh keyakinan.
Ksatria di Akar Rumput
Ady Prasongko bukanlah pendatang baru yang tiba-tiba jatuh dari langit. Ia adalah buah hati tanah kelahirannya sendiri. Ia tumbuh di tengah masyarakat, bermain di tanah yang sama, dan merasakan debu yang sama yang dihisap oleh warga Desa Beloh sehari-hari.
Ia dikenal sebagai sosok yang luwes, mudah bergaul dengan siapa saja, baik itu orang terpandang maupun rakyat jelata. Baginya, setiap warga adalah saudara. Ia paham betul di mana letak "batu sandungan" yang selama ini menyusahkan warga. Ia mengerti di mana "sumber penyakit" yang membuat desa ini lambat bergerak.
Di arena pertarungan yang hanya melibatkan 74 orang pemilih ini, sesungguhnya pertarungan yang terjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar hitungan angka. Ini adalah pertarungan keyakinan. Siapa yang mampu meyakinkan hati rakyat bahwa ia adalah sosok yang tepat untuk membawa Desa Beloh berlari kencang menuju masa depan?
Di desa kecil yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu Kerajaan Majapahit ini, taruhannya kini sangat besar. Bukan harta, bukan pula tahta, melainkan harapan.
Bagi Ady Prasongko, perjuangan ini bukan sekadar soal menang atau kalah dalam hitungan kertas. Ini adalah tentang kesempatan untuk menyalakan kembali bara api semangat yang sempat padam di mata warga. Ia ingin menjadi obor yang menerangi jalan di tengah kegelapan, menjadi tiang penyangga yang kokoh, dan menjadi tameng bagi "wong cilik" agar tidak lagi terinjak-injak.
Langkah Ady masih panjang. Tanggal 16 April 2026 akan menjadi saksi bisu. Apakah matahari kemajuan akan terbit dari ufuk timur, ataukah awan kelabu masih akan menyelimuti Desa Beloh?
Namun satu hal yang pasti, sosok muda dengan semangat membara ini telah memulai langkah pertamanya. Ia melangkah tegak, menembus debu, menembus terik, dengan satu tujuan luhur di dalam hatinya. Membangun Desa Beloh yang Maju, Membela Wong Cilik.
Dan kisah perjalanan membaranya baru saja dimulai...
PERJALANAN MEMBARA ADY PRASONGKO
Bara Api Persaudaraan Penyuci Jalan
Pertemuan di Balik Tabir Kabut
Di saat debu pertarungan politik di Desa Beloh mulai menebal, bak kabut tipis yang menutupi pandangan mata di pagi hari, Ady Prasongko sadar bahwa kekuatan sendirian bagaikan sebatang lidi yang mudah dipatahkan angin. Ia membutuhkan sandaran, bukan berupa harta atau pasukan bersenjata, melainkan ketenangan batin dan pencerahan agar langkah kakinya tidak melenceng dari jalan yang benar.
Di sanalah, dalam hati sanubarinya, nama itu kembali bergaung. Sebuah nama yang sudah menjadi legenda di lereng Penanggungan hingga pelosok desa di sekitarnya. Gus Makruf. Pendekar Pagar Nusa yang namanya harum mewangi bagaikan bunga melati di kebun yang luas.
Ady dan Gus Makruf terikat oleh satu akar yang sama. Keduanya adalah penerus ajaran luhur dari Gus Maksum Lirboyo, Kediri. Sebuah aliran ilmu yang tidak hanya mengajarkan ketangkasan bela diri, tetapi lebih dari itu: kearifan hidup, pengendalian diri, dan bakti pada sesama. Ikatan primordial inilah yang membuat hubungan keduanya bukan sekadar hubungan biasa, melainkan persaudaraan sejati yang tak terpatahkan oleh besi sekeras apa pun, dan tak tergerus oleh waktu selama apa pun.
Suatu sore, saat matahari mulai beranjak pulang meninggalkan semburat jingga di langit Desa Beloh, Ady meluangkan waktunya untuk menempuh perjalanan menuju Desa Punggul, tempat di mana Gus Makruf berdiam. Ia ingin menumpahkan segala isi hatinya, meminta restu, dan mendengarkan nasihat dari kakak seperguruannya itu.
Sesampainya di sana, ia disambut pemandangan yang menenangkan. Gus Makruf sedang duduk bersila di beranda rumah sederhananya, menatap lembah di bawah sana dengan tatapan yang teduh namun tajam, bak elang yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya dengan penuh tanggung jawab.
Begitu melihat kedatangan Ady, wajah Gus Makruf seketika berubah cerah. Ia bangkit berdiri, menyambut uluran tangan Ady dengan genggaman yang hangat namun bertenaga, persis seperti akar pohon beringin yang mencengkeram tanah dengan kuat.
"Selamat datang, Ady. Angin membawa kabar bahwa kau sedang memikul beban berat di pundakmu," sapa Gus Makruf dengan suara berat namun meneduhkan. "Aku tahu, kau tidak datang untuk sekadar bertamu. Kau datang membawa bara api yang menyala di dadamu."
Ady tersenyum tipis, mengangguk hormat. "Benar, Gus. Seperti yang Gus tahu, aku sedang maju di arena pemilihan desa. Namun, semakin ke sini, semakin aku sadar bahwa tantangannya bukan hanya dari lawan politik, melainkan dari keadaan desa itu sendiri yang membutuhkan banyak perbaikan. Aku ingin membawa Desa Beloh maju, mandiri, adil, dan makmur. Tapi terkadang, rasanya gunung yang harus kudaki ini terlalu tinggi, Gus."
Gus Makruf tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah memecah kesunyian sore itu. Ia menepuk bahu Ady dengan lembut namun berbekas semangat yang membara.
"Wahai Ady Prasongko, ingatlah apa yang pernah diajarkan Mbah Gus Maksum dahulu. Ilmu tinggi itu bukan diukur dari seberapa lompatanmu ke angkasa, tapi seberapa dalam akarmu menyentuh bumi. Begitu pula dengan memimpin rakyat. Desa Beloh itu bagaikan tanah subur yang tertutup ilalang liar. Tugasmu bukan membangun istana di atas awan, tapi membersihkan ilalang itu agar benih-benih kebaikan bisa tumbuh subur."
Gus Makruf berhenti sejenak, menatap lurus ke manik mata Ady, seolah ingin menembus hingga ke dalam sanubarinya.
"Kau membawa senjata yang ampuh, Ady. Potensi kerajinan alas kaki warga desa itu adalah emas murni yang terpendam. Dan semangatmu untuk membangun itu adalah batu pertama pondasi kokoh. Namun, kau butuh satu hal lagi, keteguhan hati bagaikan baja tempaan. Ingat, jalan yang kau pilih ini akan penuh duri dan onak. Akan banyak orang yang tidak suka, akan banyak halangan yang datang bagaikan ombak yang hendak menenggelamkan kapal."
"Tapi Gus, bagaimana caranya agar aku bisa tetap berdiri tegak menghadapi semua itu?" tanya Ady, matanya berbinar mencari petunjuk.
Gus Makruf tersenyum bijak, lalu menunjuk ke arah pegunungan di kejauhan.
"Lihatlah Gunung Penanggungan itu. Ia berdiri kokoh berabad-abad lamanya, diterjang badai, disambar petir, namun tak pernah rubuh. Mengapa? Karena ia menerima apa adanya, menjadi tempat berteduh, dan memberi manfaat bagi siapa saja di sekitarnya. Begitu pula dirimu. Jadilah pemimpin yang tidak hanya pandai bicara, tapi pandai mendengar. Jadilah seperti sungai yang memberi air kehidupan tanpa pernah meminta balasan. Dan ingatlah, kita ini 'Wong Cilik'. Kita berjuang bukan untuk nama besar, tapi untuk kebaikan bersama. Itulah kekuatan terbesarmu, Ady. Kekuatan yang takkan bisa dikalahkan oleh senjata apa pun."
Kata-kata Gus Makruf merasuk hingga ke dalam tulang sumsum Ady. Rasanya, beban berat yang tadi ia pikul seolah menjadi lebih ringan. Bara api semangat di dadanya yang sempat meredup, kini berkobar kembali lebih hebat dari sebelumnya.
"Terima kasih, Gus. Nasihat ini akan menjadi pedang pusaka yang kubawa ke mana-mana," ujar Ady dengan mata berbinar-binar penuh keyakinan baru.
Gus Makruf mengangguk puas. "Pergilah, Ady. Bawa terang itu ke Desa Beloh. Jika kau membutuhkan bantuan, ingatlah bahwa persaudaraan kita bagaikan rantai besi yang tak terputus. Satu rantai tergerak, rantai lainnya ikut bergetar. Kita sama-sama berjuang di tempat yang berbeda, tapi untuk tujuan yang sama: kemaslahatan rakyat."
Sumpah di Tanah Warisan
Keesokan harinya, Ady Prasongko kembali ke Desa Beloh. Namun, sosoknya kini tampak berbeda. Ada aura baru yang terpancar dari dirinya, aura ketenangan yang berpadu dengan semangat juang yang tak tergoyahkan. Ia membawa serta doa dan restu dari Gus Makruf, yang terasa bagaikan tameng sakti yang melindunginya dari segala kejahatan.
Dalam sebuah pertemuan akbar di hadapan warga, Ady menyampaikan isi hatinya dengan lantang, didasari oleh petuah yang ia terima.
"Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air! Hari ini, aku berdiri di hadapan kalian bukan sebagai calon pemimpin yang hebat, tapi sebagai anak desa yang ingin mengabdi. Seperti halnya Pendekar Gus Makruf yang berjuang di lereng sana, aku pun ingin berjuang di sini. Mengangkat harkat martabat kita melalui tangan-tangan terampil para perajin, memperbaiki jalan yang rusak, dan membangun tatanan yang adil!"
Suara Ady menggelegar di tengah lapangan, menembus langit sore. "Kita punya BUMDes, kita punya potensi, kita punya tenaga muda! Mari kita ubah Desa Beloh ini menjadi desa yang maju, mandiri, adil, dan makmur! Mari kita buktikan bahwa 'Wong Cilik' pun bisa menciptakan karya besar!"
Tepuk tangan dan sorak sorai warga seketika memecah keheningan. Dukungan mengalir deras bagaikan air bah yang tak terbendung. Mereka melihat sosok Ady bukan lagi sekadar pemuda biasa, tapi sebagai perpanjangan tangan dari kekuatan besar yang mewakili harapan banyak orang.
Dan di kejauhan, di atas bukit sana, sosok Gus Makruf tersenyum puas melihat asap pembakaran semangat itu mengepul tinggi di Desa Beloh. Ia tahu, perjalanan Ady masih panjang. Akan ada badai, akan ada tantangan. Tapi dengan bekal ilmu, keberanian, dan hati yang tulus, Ady Prasongko telah meletakkan batu pertama dari sebuah perubahan besar.
Dua pendekar dari akar yang sama, kini sedang menorehkan sejarah baru di tanah Majapahit. Dua aliran sungai yang sama, bersatu menjadi lautan harapan untuk rakyat jelata.
Dan perjalanan membara itu masih terus berlanjut, menuju puncak kemenangan sejati...
PERJALANAN MEMBARA ADY PRASONGKO
LAHIRNYA ENERGI BARU DI TANAH BELOH
SAMPAHAN NAGA DARI LIRBOYO
Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan sisa debu jalanan yang hangat. Di antara rimbun pohon-pohon tua peninggalan zaman Majapahit yang tegak kokoh di wilayah Trowulan, seorang pemuda berjalan tegap namun tenang. Ia mengenakan pakaian sederhana namun rapi, sorot matanya tajam namun teduh, seolah menyimpan lautan ketenangan di balik tatapan yang menembus jauh ke masa depan.
Ia adalah Ady Prasongko.
Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan kecil yang tampak kuno namun memancarkan wibawa tersendiri. Di sana, di beranda rumah itu, duduk seorang pria paruh baya berwajah bersahaja namun matanya menyala-nyala bagai bara api yang tak pernah padam. Pria itu mengenakan pakaian putih sederhana dengan peci hitam di kepalanya. Ia adalah Gus Makruf, penerus dari aliran Pagar Nusa ilmu silat dan kearifan yang diwarisi langsung dari Gus Maksum, tokoh besar dari Lirboyo, Kediri.
"Selamat datang, Ady Prasongko," suara Gus Makruf terdengar rendah namun bergetar, menembus kesunyian sore itu. "Aku sudah menunggumu. Kabar tentang niatmu memimpin Desa Beloh telah sampai ke telingaku, dan aku tahu, perjalananmu tidak akan mudah."
Ady menyunggingkan senyum tipis, lalu duduk bersila di hadapan pria tua itu dengan sopan. "Terima kasih, Gus Makruf. Aku datang bukan untuk mencari dukungan kosong, melainkan untuk mencari petunjuk. Desa Beloh sedang terguncang, kepemimpinan kosong telah menimbulkan keresahan, dan aku ingin mengembalikan cahaya di sana."
Gus Makruf mengangguk pelan, lalu menatap jauh ke arah cakrawala. "Beloh bukan tanah biasa. Ia berdiri di atas tanah yang pernah menjadi pusat peradaban besar. Di sana tersimpan energi sejarah yang kuat, namun belakangan ini, energi itu tertutup debu kelesuan. Perajin yang dulu giat bekerja kini banyak yang berhenti, anak-anak muda pergi meninggalkan kampung halaman, dan perekonomian desa seperti kehilangan nyawanya."
"Namun," lanjut Gus Makruf, matanya kembali menatap tajam ke arah Ady, "di tengah kekalutan itu, kau hadir membawa angin segar. Aku dengar kau bicara bukan dengan jargon, melainkan dengan rencana nyata. Tentang BUMDes yang hidup, tentang akses pasar yang terbuka, tentang ruang bagi pemuda untuk berkarya. Itu adalah jalan yang benar, Ady. Tapi ingat, kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan terletak pada kekuatan otot atau kata-kata manis, melainkan pada kejujuran dan ketulusan hati."
Ady menunduk hormat. "Aku sadar, Gus. Aku lahir dan besar di Beloh. Aku tahu jalan-jalan yang rusak, keluh kesah ibu-ibu, kesulitan para pengrajin, dan kerinduan anak-anak muda akan harapan. Aku ingin menjadi fasilitator, bukan penguasa. Aku ingin membangun bersama, bukan memerintah sendiri."
Gus Makruf tersenyum puas. "Itulah semangat ksatria sejati. Warisan ilmu dari Lirboyo mengajarkan bahwa kekuatan fisik hanyalah sarana, namun kekuatan hati adalah tujuan akhir. Kau harus menjadi pendekar yang tidak hanya menguasai jalan politik, tapi juga jalan kebenaran dan kesejahteraan rakyat. Aku akan memberimu restu, Ady Prasongko. Namun ingatlah, tantangan sesungguhnya baru akan dimulai saat kau benar-benar memegang kendali."
Matahari mulai terbenam, menyisakan sisa cahaya keemasan di langit Trowulan. Ady berdiri tegak, hati dan pikirannya kini terasa lebih kuat dan jernih. Dengan restu dari Gus Makruf, langkahnya menuju Desa Beloh terasa semakin mantap.
SUARA HATI DI HALAMAN DESA
Hari itu, Kamis 16 April 2026. Matahari bersinar cerah namun tidak menyengat, seolah ikut menyaksikan momen bersejarah di Desa Beloh. Halaman kantor desa yang sederhana itu kini dipenuhi warga yang datang dengan wajah beragam, ada yang penuh harap, ada yang cemas, ada pula yang bersikap dingin seolah tak peduli.
Namun di balik beragam ekspresi itu, satu hal yang sama terlihat di mata mereka, rasa ingin tahu yang besar. Hari ini adalah hari penentuan. Hari di mana suara rakyat akan menentukan arah masa depan desa mereka.
Di sudut halaman, Ady berdiri tenang mengenakan jas hitam rapi dan peci hitam. Ia tidak sibuk berteriak-teriak atau membagikan janji-janji manis. Ia hanya menyapa setiap warga yang lewat dengan senyum tulus dan sapaan ramah. Di sampingnya, Gus Makruf berdiri diam, mengenakan pakaian sederhana namun tatapannya menyejukkan hati siapa saja yang melihatnya.
"Lihatlah itu," bisik seorang warga kepada temannya. "Ady Prasongko itu orangnya tenang sekali. Tidak seperti calon lainnya yang sibuk menjanjikan ini-itu tanpa bukti."
"Benar," jawab temannya. "Ia anak desa kita sendiri. Ia tahu persis apa yang kita butuhkan. Ia pernah membantu ayahku menjual hasil kerajinan alas kaki saat pasar sedang sulit. Ia bukan orang yang datang hanya saat butuh suara."
Di sisi lain halaman, Idun Marjuki, lawan politik Ady, calon nomor urut satu, terlihat sibuk berbicara dengan pendukungnya, wajahnya terlihat tegang namun berusaha tampil percaya diri. Ia memiliki pendukungnya sendiri, namun dukungan itu terasa dangkal, tidak seerat ikatan yang dimiliki Ady dengan warga.
Siang itu, pemungutan suara berlangsung dalam suasana sederhana namun penuh makna. Tidak ada pesta pora atau uang sogokan. Hanya kertas suara, kotak suara, dan hati nurani warga.
Menjelang sore, hasil penghitungan suara akhirnya dibacakan oleh panitia pemilihan desa. Suasana menjadi hening seketika, seolah napas seluruh warga tertahan di dada.
"Dari total 74 pemilih tetap, terdapat 72 suara sah dan 2 suara tidak sah. Calon nomor urut satu, Idun Marjuki, memperoleh 26 suara. Calon nomor urut dua, Ady Prasongko, memperoleh 46 suara."
Terdengar suara desah napas lega dan tepuk tangan yang tidak meledak-ledak namun hangat. Selisih dua puluh suara itu bukan sekadar angka. Itu adalah mandat kuat dari warga Desa Beloh.
Ady Prasongko menang.
Ia maju ke depan, menyapa warga dengan senyum yang terasa lega namun tetap rendah hati. Gus Makruf di belakangnya mengangguk puas, sorot matanya menyiratkan kebanggaan namun juga peringatan halus.
"Terima kasih, warga Desa Beloh," ucap Ady dengan suara lantang namun tetap santun. "Kemenangan ini bukan milikku sendiri, melainkan milik kita semua. Ini adalah awal dari perjalanan panjang. Kita tidak akan mengubah segalanya dalam semalam, tapi kita akan berjalan bersama, langkah demi langkah, untuk membangun desa ini menjadi tempat yang lebih baik."
Di kejauhan, terlihat mobil dinas yang membawa Sugeng Nuryadi, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Mojokerto. Ia datang untuk menyaksikan langsung jalannya pemilihan, menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar urusan lokal, melainkan bagian dari transformasi besar di Kabupaten Mojokerto.
"Kau melakukan hal yang benar, Ady," ujar Sugeng saat bertemu dengan pemuda itu. "Beloh adalah salah satu dari sembilan desa yang melaksanakan pemilihan tahun ini, dan menjadi contoh bagi desa-desa lain. Namun ingat, tantangan besar menantimu di depan. Tahun 2027 nanti, dua ratusan kepala desa di Mojokerto akan berakhir masa jabatannya, dan Pilkades serentak akan digelar. Kau harus mempersiapkan Beloh sebaik mungkin sebelum saat itu tiba."
Ady mengangguk hormat. "Siap, Pak. Aku akan bekerja sekuat tenaga demi kesejahteraan warga."
ENERGI BARU DARI TROWULAN
Sore itu, setelah suasana di kantor desa mulai mereda, Ady dan Gus Makruf berjalan perlahan menyusuri jalanan desa yang berdebu namun menyimpan kenangan sejarah.
"Kau lihat, Ady?" ujar Gus Makruf sambil menunjuk ke arah rumah-rumah warga yang dulunya menjadi pusat kerajinan alas kaki. "Di sana tersimpan potensi besar. Suatu saat nanti, bunyi palu dan jahitan itu akan terdengar lagi lebih nyaring dari sebelumnya. Tapi kali ini, tidak hanya untuk memenuhi pasar lokal, tapi juga pasar yang lebih luas."
"Itulah tujuanku, Gus," jawab Ady. "Melalui BUMDes yang akan kita bangun menjadi mesin ekonomi yang hidup, kita akan membantu para pengrajin memasarkan barangnya. Kita akan membuka akses pasar, menciptakan lapangan kerja, sehingga anak-anak muda tidak perlu pergi ke kota besar untuk mencari rezeki."
Gus Makruf tersenyum. "Bagus sekali. Ingatlah pesan dari leluhur, tanah ini memberikan kehidupan jika kita merawatnya dengan baik. Energi baru yang kau bawa hari ini bukan sekadar kekuasaan politik, melainkan semangat untuk membangun kembali kejayaan desa ini dengan cara yang baru, namun tetap berakar pada nilai-nilai lama."
Langit sore itu perlahan berubah warna menjadi merah keemasan, memancarkan sinar hangat yang menyinari seluruh pelosok Desa Beloh. Di sana, di tengah wilayah Trowulan yang menjadi saksi bisu kejayaan Majapahit, babak baru sejarah telah ditulis.
Ady Prasongko, sang pemuda yang lahir dari denyut desa itu sendiri, kini memegang kendali. Ia tidak berjanji keajaiban dalam semalam, namun ia membawa sesuatu yang lebih berharga, kejujuran, kerja keras, dan rencana yang matang.
Di Desa Beloh yang menyala kembali itu, energi baru mulai mengalir. Energi yang diharapkan tidak hanya akan menghidupkan desa itu sendiri, tapi juga menjadi contoh bagi desa-desa lain di sekitarnya.
Dan di sanalah, di ujung jalan desa yang mulai bersinar itu, Ady Prasongko tahu: kemenangan ini bukan garis akhir, melainkan awal dari perjalanan membara yang sesungguhnya.
Tamat Seri Ketiga
Writer. : Damar Wijaya Tungga Dewa
Editor. : Bastian Tito
