PERJALANAN MEMBARA GUS MAKRUF (Dendam, Cinta, dan Lembu Sekilan) ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

PERJALANAN MEMBARA GUS MAKRUF (Dendam, Cinta, dan Lembu Sekilan)

-

Baca Juga


GUS MAKRUF PIMPINAN CABANG PAGAR NUSA : Baiat Siswa Baru Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto 



Angin Murka dari Penanggungan

 

Gunung Penanggungan yang menjulang gagah di ujung timur tanah Mojokerto, bagaikan raksasa tidur yang menyimpan sejuta misteri rahasia langit dan bumi. Kabut tipis berwarna kelabu senantiasa menyelimuti Desa Punggul, seolah kain kafan yang menutupi rahasia kelam masa silam. Di tengah desa yang asri itu, berdiri sebuah padepokan sederhana namun memancarkan aura kewibawaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

 

Di sanalah, sosok pemuda perkasa itu berada. Gus Makruf.

 

Meskipun usianya masih muda, aura yang memancar dari sekujur tubuhnya ibarat Gunung Tangkuban Perahu yang tak mudah digoyahkan badai, namun hatinya seluas samudera Pasifik yang menampung segala air kotor namun tetap jernih. Sebagai salah satu pimpinan cabang perguruan Pagar Nusa, ilmu kejawen dan kanuragan yang dimilikinya bukan didapat dari angin lalu. Ia menempa dirinya bagaikan besi tua yang ditempa berkali-kali oleh palu kemarahan dan kesabaran, hingga berubah menjadi keris pusaka yang tajam namun terbungkus sarung kayu cendana.

 

Pagi itu, matahari baru saja mengintip malu-malu dari ufuk timur, memancarkan sinar keemasan yang menyinari pucuk-pucuk pohon jati. Namun, di hati Gus Makruf, perasaannya sedang bergemuruh tak karuan. Ia tahu, perjalanan yang akan ia tempuh menuju Desa Medali, Kecamatan Puri, bukanlah perjalanan wisata biasa. Itu adalah sebuah perjalanan suci menabur benih kebaikan di ladang yang penuh ilalang liar dan duri onak.

 

"Angin membawa kabar buruk, Gus..." ujar seorang tetua desa dengan nada cemas, matanya menyipit memandang arah barat. "Konon, di jalanan sana banyak berkeliaran 'Serigala Berbulu Domba' yang ingin mencoreng nama baik perguruan kita."

 

Gus Makruf hanya tersenyum tipis. Senyum yang meneduhkan namun menyimpan ribuan ketegasan.

 

"Biarlah badai datang mengamuk, Kiai. Biarlah halilintar menyambar bumi. Bintang kejora takkan pernah bergeser dari jalannya hanya karena burung pipit berkicau riuh. Langkah kaki ini sudah tertanam kuat di bumi pertiwi, bagaikan akar pohon beringin tua yang takkan rubuh meski diterjang badai topan sekalipun. Tujuanku satu: mendedikasikan sisa hidup ini untuk kemaslahatan rakyat. Itulah sumpah setiaku pada Gus Maksum Lirboyo, pendiri perguruan ini."

 

Tanpa menunggu lebih lama lagi, dengan busana sederhana namun rapi, Gus Makruf melangkah meninggalkan padepokan. Ia berjalan kaki menyusuri jalanan berbatu dan tanah merah yang panas. Di sepanjang perjalanan, dedaunan berguguran seolah memberi penghormatan, namun di balik semak-semak, mata-mata tajam mengintip bagaikan harimau lapar yang menanti mangsa lengah.

 

Benar saja, belum jauh ia melangkah, sekelompok orang berwajah sangar menghadangnya di sebuah tikungan curam. Mereka adalah anak buah perguruan silat liar yang terkenal kejam di daerah tersebut.

 

"Hei, pemuda! Mau ke mana kau? Masa iya anak buah Pagar Nusa hanya bisa lari bersembunyi di balik sarang tikus?" teriak salah seorang di antara mereka dengan suara parau, matanya melotot nyalang bagaikan mata kucing yang melihat ikan segar.

 

Gus Makruf berhenti, menatap mereka dengan tatapan teduh namun menusuk ke dalam sanubari. "Saudara-saudara, jalan ini adalah jalan milik umum. Aku hanya ingin lewat dengan damai. Mengapa kalian menghadang bagaikan penyamun di persimpangan jalan?"

 

"Damai katamu? Hah! Kami tidak kenal damai! Kami hanya kenal besi yang panas dan darah yang merah! Kalau kau ingin lewat, kalahkan kami dulu, atau bersiaplah menjadi bangkai yang dimakan belatung di tengah jalan!"

 

Suasana seketika menjadi panas. Angin bertiup makin kencang, meniup debu-debu tanah hingga menyesakkan napas. Namun, Gus Makruf tidak gentar sedikitpun. Ia berdiri tegak bagaikan Tugu Pancasila yang kokoh menantang ganasnya zaman.

 

"Ilmu silat itu bukan untuk menyakiti sesama anak manusia, melainkan untuk menjaga kehormatan dan melindungi yang lemah," ujar Gus Makruf dengan suara berwibawa yang terdengar menggelegar, menembus suara gemerisik dedaunan. "Jika kalian tetap memaksakan kehendak, terpaksa aku harus mengajarkan kalian arti dari bunga yang mekar di tengah badai."

 

Pertarungan tak terelakkan lagi. Sekumpulan orang itu menyerang serentak, pukulan dan tendangan mereka menyambar udara menciptakan bunyi wush-wush yang mengerikan. Namun, di mata Gus Makruf, gerakan mereka bagaikan kura-kura yang berjalan di lumpur. Dengan tenang dan anggun, ia mengelak dan menangkis serangan-serangan itu. Setiap langkah kakinya ringan bagaikan daun kering yang terbawa angin, namun setiap tangannya bergerak secepat kilat menyambar bumi.

 

Brak! Plak! Duk!

 

Hanya dalam hitungan detik, tubuh-tubuh kekar itu berjatuhan di tanah, mengerang kesakitan. Mereka tertegun, tak menyangka bahwa pemuda yang tampak sederhana itu memiliki ilmu kepandaian setinggi langit.

 

"Terima pelajaran ini sebagai tanda persaudaraan, bukan kebencian," ujar Gus Makruf singkat, lalu melanjutkan langkah kakinya yang tegap, meninggalkan mereka yang diam terpaku penuh kekaguman.

 

Ia sadar, tantangan ini hanyalah permulaan. Di depannya, rintangan yang lebih besar, lebih gelap, dan lebih berbahaya sedang menanti bagaikan naga purba yang bangun dari tidur panjangnya. Namun, hati Gus Makruf tetap teguh, bak batu karang di tengah samudera raya yang takkan pernah runtuh meski diterjang ombak raksasa.

 






Berkah dari Langit di Tanah Majapahit

 

Setelah melewati rintangan demi rintangan, menempuh perjalanan bagaikan menusuk duri berduri tajam, akhirnya sosok Gus Makruf terlihat memasuki gerbang Desa Medali, Kecamatan Puri. Matahari sore mulai condong ke barat, menyisakan semburat warna merah keunguan di langit, seolah lukisan tuhan yang tak ternilai harganya.

 

Kedatangannya disambut dengan gegap gempita yang luar biasa. Para pemuda dan pemudi serta warga desa sudah menunggu di sana. Bagi mereka, kehadiran Gus Makruf bagaikan mendung yang menanti hujan di musim kemarau panjang. Wajah mereka memancarkan harap dan suka cita. Sebab, selain dikenal sebagai pendekar tangguh, Gus Makruf juga dihormati sebagai tokoh spiritual yang bijaksana, ibarat pelita di tengah kegelapan malam yang pekat.

 

"Selamat datang, Gus! Kehadiran Tuan bagaikan angin sejuk yang menyapa jiwa yang gersang," ujar salah satu tokoh masyarakat setempat dengan nada hormat.

 

Gus Makruf tersenyum ramah, tangannya yang besar dan hangat menyapa tangan-tangan mereka dengan rendah hati. "Terima kasih, Saudara-saudara. Aku datang bukan untuk memimpin dengan angkuh, melainkan untuk mengabdi dan berbagi ilmu, bagaikan mata air yang memberi kehidupan tanpa meminta balasan."

 

Di lokasi pendadaran yang sudah disiapkan, Gus Makruf segera bertemu dengan para sesepuh dan tokoh penting dari jajaran Pagar Nusa lainnya. Di sana, kelihatan sosok gagah Gus Ahmad Fachruddin yang wajahnya selalu bersinar teduh, Ahmad Tamyis Zuban yang matanya tajam namun menyimpan senyum jenaka, serta M. Khabib Alkirom yang pembawaannya tenang bak danau yang tak bergelombang. Pertemuan keempat sosok ini seolah menyatukan empat penjuru mata angin, melengkapi kekuatan yang selama ini terpisah-pisah.

 

"Melihat kalian semua, rasanya gunung Penanggungan saja kalah tingginya," canda Gus Makruf yang disambut gelak tawa hangat.

 

Namun, kegembiraan itu segera berubah menjadi suasana khidmat saat prosesi pendadaran dan baiat murid baru dimulai. Di bawah naungan pohon beringin tua yang daunnya rindang meneduhkan, para calon murid berbaris rapi bagaikan barisan prajurit yang siap berangkat ke medan juang.

 

Gus Makruf berdiri di depan mereka, memegang kendi berisi air kembang yang telah disucikan. Ia membacakan doa-doa dan mantra-mantra sakral dengan suara rendah namun menggetarkan hati, bagaikan bisikan semesta alam yang sedang berbicara kepada jiwa-jiwa yang suci. Satu per satu murid baru dipersilakan maju, lalu dibasuh kepala dan wajahnya dengan air itu.

 

"Air ini bukan sekadar air," ujar Gus Makruf dengan suara berat yang penuh makna. "Air ini adalah simbol pembersihan hati. Seperti lautan yang membersihkan pantai dari sampah, semoga air ini bisa menyucikan hati kalian dari sifat angkuh, iri, dengki, dan niat jahat lainnya. Jadilah murid yang tawadhu’, rendah hati bagaikan padi yang makin berisi makin merunduk. Jangan pernah gunakan ilmu silat ini untuk menyakiti atau menindas sesama, karena pedang yang tajam jika salah tangan akan membunuh tuannya sendiri."

 

Para murid mengangguk hormat, mata mereka berkaca-kaca menahan haru.

 

Namun, baru saja prosesi itu selesai separuh, tiba-tiba alam seolah tidak bersahabat. Langit yang tadinya cerah ceria berubah drastis seketika. Awan hitam pekat bergulung-gulung dari segala penjuru, menutupi sinar mentari hingga suasana menjadi gelap gulita, bagaikan hari kiamat yang akan segera tiba.

 

Byar!... Byur!... Blar!...

 

Kilatan petir menyambar-nyambar di angkasa, membelah langit hitam itu menjadi dua bagian, disusul suara guntur yang menggelegar membelah bumi Majapahit, hingga membuat tanah di bawah kaki seolah bergetar hebat. Suasana menjadi sangat menakutkan. Para murid baru ada yang mulai gemetar ketakutan, mengira ini adalah pertanda buruk atau kutukan.

 

"Jangan takut, Saudara-saudara!" teriak Gus Makruf di tengah gemuruh suara petir agar didengar semua orang. Wajahnya tidak tampak ketakutan sedikitpun, malah ia mendongak menatap langit yang sedang murka itu dengan tatapan berbinar-binar. "Ini bukan kemarahan alam semesta! Ini adalah berkah langit yang turun ke bumi! Alam sedang ikut merayakan pembersihan jiwa kalian! Ini adalah tanda bahwa langit dan bumi sedang menyaksikan sumpah setia kalian!"

 

Benar saja, hujan deras turun membasahi bumi, menyiram setiap inci tanah di lokasi itu. Namun, bagi Gus Makruf dan para sesepuh lainnya, air hujan itu bagaikan air kehidupan yang membawa berkah dan keselamatan. Hujan itu turun terus selama kurang lebih dua jam lamanya, seolah ingin membasuh segala debu dan dosa yang menempel di bumi.

 

Dan keajaiban pun terjadi. Begitu tetes hujan terakhir menyentuh tanah, awan hitam itu perlahan menipis dan hilang berganti dengan langit biru yang cerah bersih. Matahari sore yang lembut kembali bersinar, memancarkan pelangi indah yang melengkung di angkasa, bagaikan jembatan antara dunia dan surga. Udara di sekitar terasa sangat sejuk, wangi tanah basah bercampur bunga kemboja menguar ke udara, menciptakan ketenangan yang tiada duanya.

 

Para murid dan warga yang tadinya ketakutan kini bersorak gembira, menyadari bahwa apa yang dikatakan Gus Makruf adalah benar. Alam sedang memberkati langkah mereka.

 

Setelah seluruh rangkaian acara selesai dengan sukses dan lancar, Gus Makruf tidak berlama-lama bersantai. Tugasnya belum selesai. Masih banyak tempat yang harus ia sambangi, masih banyak orang yang membutuhkan bantuannya.

 

Dengan semangat yang kembali membara di dada, Gus Makruf berpamitan. Langkah kakinya tegap meninggalkan Desa Medali, menuju tujuan yang belum diketahui orang banyak. Sepak terjangnya, keberaniannya, serta kebijaksanaannya, kini menjadi buah bibir di kalangan rakyat jelata. Namanya mulai dikenal luas, bukan hanya sebagai pendekar tangguh, tapi sebagai ksatria yang lahir dari rahim rakyat, untuk kembali mengabdi pada rakyat.

 

Dan kisah perjalanan membaranya belum berakhir. Ia masih terus menulis lembaran baru di buku sejarah persilatan tanah air, bagaikan bintang utara yang tak pernah padam sinarnya di tengah malam yang gelap gulita.

 

 

 

Writer.     :   Dion 
Editor.      : Bastian Tito 

Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode