ISTANA YANG BANGKIT DARI TANAH. Menyingkap Jejak Bhre Kahuripan Tribhuwana Tunggadewi di Barat Wilwatikta
-Baca Juga
Laporan Investigasi Arkeologi & Cagar Budaya
DETAK INSPIRATIF — Edisi Khusus Majapahit 2026
Di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, suara cangkul arkeolog terdengar lirih di antara hamparan sawah dan jalan usaha tani. Tidak ada dentuman perang. Tidak ada gamelan kerajaan. Namun dari tanah yang perlahan dibuka itu, sejarah Majapahit kembali bergerak.
Di sinilah, para arkeolog meyakini jejak Istana Bhre Kahuripan Tribhuwana Tunggadewi mulai menampakkan tubuhnya.
Bukan di pusat ibu kota Wilwatikta Trowulan yang megah dan telah lama dikenal publik. Tetapi di wilayah baratnya yang sunyi, tersembunyi, dan selama ratusan tahun nyaris luput dari perhatian sejarah arus utama.
Ekskavasi lanjutan yang dilakukan tim Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur pada Mei 2026 kini membuka babak baru dalam pembacaan arkeologi Majapahit.
Dan temuan-temuan itu tidak lagi sederhana.
JEJAK RATU PALING KUAT MAJAPAHIT
Dalam kitab-kitab kuno Jawa seperti Negarakertagama dan Pararaton, nama Tribhuwana Tunggadewi tercatat sebagai perempuan yang memegang tampuk kekuasaan Majapahit pada masa paling menentukan.
Ia bukan sekadar ibu Hayam Wuruk.
Ia adalah penguasa yang memimpin ekspansi awal Majapahit, memberi legitimasi politik kepada Mahapatih Gajah Mada dan menjaga stabilitas kerajaan setelah era penuh konflik pasca-Raden Wijaya.
Gelar,
Bhre Kahuripan
menandakan bahwa Tribhuwana memiliki wilayah mandala sendiri di luar pusat kerajaan.
Dan kini, di Klinterejo, wilayah itu perlahan mulai terbaca secara fisik.
BENTENG YANG MENGELILINGI ISTANA
Selama bertahun-tahun ekskavasi dilakukan secara bertahap. Namun titik balik besar muncul ketika arkeolog mulai menemukan pola benteng dan pagar kerajaan yang mengitari kompleks situs.
Ekskavasi Mei 2026 difokuskan pada,
sisi utara benteng kerajaan Bhre Kahuripan.
Hasilnya mengejutkan.
Tim menemukan lurusan pagar bata merah, struktur pilar, fondasi benteng dan kesamaan dimensi antara sisi utara dan selatan.
Menurut Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, Endah Budi Heryani, pola struktur ini menunjukkan perkembangan signifikan.
“Ditemukan pilar dengan bentuk dan dimensi yang sama seperti benteng sisi utara. Ini memperkuat dugaan bahwa pagar kerajaan mengelilingi kompleks,” jelasnya.
Pernyataan itu memiliki makna besar.
Karena jika struktur benteng benar-benar membentuk perimeter utuh, maka yang ditemukan bukan lagi sekadar bangunan ritual atau sisa candi kecil.
Melainkan,
kompleks istana kerajaan.
ISTANA SELUAS 22 RIBU METER
Data terbaru hasil pemetaan arkeologis menunjukkan luas kompleks inti mencapai 22.143 meter persegi
Sementara keseluruhan kawasan situs berdiri di atas
tanah kas desa pemerintahan desa Klinterejo seluas 6 hektar.
Luas itu menunjukkan skala monumental.
Dalam konsep tata ruang Majapahit, area seluas ini sangat mungkin terdiri dari pelataran utama, ruang administrasi, area elite bangsawan, sistem pertahanan, saluran air, hingga zona ritual kerajaan.
MANDALA BERBENTUK BINTANG
Salah satu temuan paling misterius dari ekskavasi sebelumnya adalah pola,
struktur mandala berbentuk bintang.
Dalam kosmologi Hindu-Buddha Jawa Kuno, mandala bukan sekadar bentuk geometris.
Ia adalah simbol pusat dunia, lambang keseimbangan kekuasaan dan representasi hubungan antara manusia, kerajaan, dan alam semesta.
Temuan itu diperkuat dengan keberadaan saluran air, pola ruang simetris, serta orientasi bangunan yang tertata.
Artinya, Istana Bhre Kahuripan kemungkinan tidak dibangun sekadar sebagai pusat pemerintahan.
Tetapi juga,
pusat spiritual dan kosmologis.
MEMBONGKAR BETON DEMI MEMBACA SEJARAH
Salah satu momen paling dramatis dalam ekskavasi 2026 terjadi ketika tim arkeolog melakukan,
test pit di sisi timur situs.
Untuk membuktikan bahwa benteng kerajaan benar-benar mengelilingi kompleks, mereka harus membongkar jalan usaha tani yang telah dicor beton oleh pemerintah desa.
Langkah itu menunjukkan benturan klasik, antara pembangunan modern dan penyelamatan sejarah.
Di bawah lapisan beton masa kini, para arkeolog percaya masih tersimpan tubuh besar Majapahit yang belum selesai dibaca.
KERAJAAN TERAKOTA YANG TERTIMBUN ZAMAN
Majapahit tidak dibangun dengan batu andesit seperti Borobudur atau Prambanan.
Kerajaan ini dibangun dengan,
bata merah terakota.
Material yang kuat, tetapi rentan terkubur sedimentasi dan hancur oleh waktu.
Karena itu, sebagian besar tubuh Majapahit hari ini sebenarnya berada di bawah sawah, di bawah permukiman, di bawah jalan desa, bahkan di bawah bangunan modern.
Klinterejo menjadi bukti paling nyata bahwa, Majapahit belum hilang.
Ia hanya tertidur.
Dan kini, perlahan bangun kembali dari bawah tanah.
MENJAGA ILMU, MENAHAN EUFORIA
Meski temuan-temuan besar mulai bermunculan, para arkeolog memilih berhati-hati.
Belum ada pernyataan resmi final bahwa situs ini adalah,
“Istana Tribhuwana Tunggadewi.”
Namun arah pembacaan arkeologis semakin kuat menuju dugaan tersebut.
Karena itu, publik diminta tidak terburu-buru membangun klaim sensasional tanpa dasar ilmiah.
Dalam dunia arkeologi, setiap bata adalah data. Setiap lapisan tanah adalah dokumen sejarah.
Dan sejarah besar tidak dibangun dari imajinasi semata, tetapi dari kesabaran membaca bumi.
Di Klinterejo, angin sore berhembus melewati gundukan bata merah yang baru dibuka dari tanah.
Tidak ada mahkota. Tidak ada singgasana emas.
Yang tersisa hanya benteng, saluran air, mandala dan jejak sebuah kerajaan perempuan yang pernah menjaga barat Wilwatikta.
Namun justru dari kesunyian itu, nama Tribhuwana Tunggadewi kembali hidup.
Bukan sebagai legenda.
Melainkan sebagai jejak nyata yang perlahan bangkit dari bumi Majapahit.
Editorial
Majapahit, Tribhuwana, dan Pelajaran Tata Kelola Negara yang Terlupakan
Di bawah tanah Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, sejarah sedang berbicara kembali.
Bukan sekadar tentang bata merah, benteng kuno, atau reruntuhan kerajaan masa lalu. Tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih besar, bagaimana sebuah negara bernama Majapahit pernah dibangun dengan arah pemerintahan yang jelas, tata kelola yang terukur, dan visi kesejahteraan rakyat yang nyata.
Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan Tribhuwana Tunggadewi hari ini perlahan membuka satu kenyataan penting, Majapahit bukan kerajaan mitologi yang berdiri karena legenda semata.
Ia adalah negara yang ditata.
Dan penataan itu terlihat jelas dari setiap struktur yang kini mulai muncul dari dalam bumi Mojokerto.
Benteng menunjukkan sistem pertahanan. Saluran air menunjukkan manajemen pangan. Mandala menunjukkan filosofi kekuasaan. Sementara tata ruang kerajaan menunjukkan bahwa Majapahit memahami satu prinsip dasar negara modern, kekuasaan harus terorganisir.
Dalam banyak kerajaan kuno dunia, kejayaan lahir dari perang dan ekspansi. Tetapi Majapahit tampaknya memahami sesuatu yang lebih dalam, imperium tidak bisa bertahan lama hanya dengan pedang.
Ia harus ditopang pangan, distribusi air, perdagangan, administrasi wilayah dan loyalitas politik yang dikelola dengan cerdas.
Karena itu Majapahit membangun sistem,
Bhre.
Wilayah-wilayah strategis diberikan kepada keluarga inti kerajaan untuk dikelola langsung. Bukan sekadar simbol bangsawan, tetapi sebagai pengendali stabilitas regional.
Bhre Kahuripan di barat. Bhre Wengker di timur. Bhre Daha Selatan. Bhre Lasem Kudus Jawa Tengah. Dan wilayah-wilayah lain yang membentuk jejaring pemerintahan mandala.
Konsep ini sangat maju untuk abad ke-14.
Pusat kerajaan tidak menelan semua kekuasaan. Daerah diberi peran. Wilayah diberi fungsi. Dan elite lokal tetap berada dalam orbit politik Wilwatikta.
Hasilnya adalah stabilitas.
Inilah yang perlahan mulai terbaca dari ekskavasi Klinterejo, bahwa di balik bata merah Majapahit, sesungguhnya tersembunyi sistem negara yang modern pada zamannya.
Dan menariknya, salah satu tokoh penting di balik stabilitas itu adalah seorang perempuan,
Tribhuwana Tunggadewi.
Dalam sejarah nasional, namanya sering tenggelam di bawah bayang-bayang Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Padahal justru pada masa pemerintahannyalah fondasi kejayaan Majapahit dibangun.
Ia memimpin di tengah masa transisi politik. Ia menjaga legitimasi dinasti. Ia memberi ruang bagi ekspansi Nusantara. Dan ia mengelola wilayah Kahuripan sebagai bagian penting dari sabuk pemerintahan Majapahit.
Hari ini, ketika bangsa modern sering gaduh oleh perebutan kekuasaan tanpa arah pembangunan yang jelas, tanah Klinterejo justru memperlihatkan pelajaran besar dari masa lalu, bahwa negara besar lahir dari tata kelola yang tertib.
Majapahit memahami bahwa kesejahteraan rakyat bukan slogan.
Karena itu mereka membangun saluran air, menjaga pertanian, membuka perdagangan, mengatur wilayah dan menciptakan harmoni antara kekuasaan dan alam.
Mungkin itulah sebabnya Majapahit mampu bertahan dan dikenang berabad-abad.
Ekskavasi Bhre Kahuripan hari ini akhirnya bukan hanya tentang mencari istana yang hilang.
Tetapi tentang menggali kembali kesadaran bangsa, bahwa Nusantara pernah memiliki peradaban besar dengan visi pemerintahan yang matang.
Dan mungkin, pelajaran terbesar dari tanah Majapahit bukan tentang masa lalu.
Melainkan tentang bagaimana sebuah negara seharusnya dikelola di masa kini.
Writer. : Dara jingga
Editor. : Pamugas Bhayaraja Dharmapraja
