PERJALANAN MEMBARA MENGHALAU NARKOBA DARI BUMI MAJAPAHIT ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

PERJALANAN MEMBARA MENGHALAU NARKOBA DARI BUMI MAJAPAHIT

-

Baca Juga


Gus Makruf Anggota DPRD dari fraksi PAN juga Pimpinan Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto Jawa Timur.





Tatapan yang Asing

Di sebuah sudut Kabupaten Mojokerto, tanah yang dahulu pernah menjadi pusat peradaban besar Majapahit, kini ada sesuatu yang mulai berubah. Bukan bentengnya yang runtuh, bukan pula candi-candinya yang hilang, melainkan tatapan mata anak-anak muda yang mulai asing.

Tatapan itu dingin.

Kosong.

Kadang liar.

Seolah tidak lagi mengenal rasa takut, seolah tidak lagi mengenal hormat.

Kegelisahan itulah yang setiap malam menghantui tidur Gus Makruf. Sebagai Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dari Fraksi PAN, dan lebih dari itu, sebagai Ketua Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto, ia melihat fenomena ini bukan hanya lewat kacamata birokrasi, melainkan lewat mata seorang ayah dan pendidik.

“Anak-anak sekarang seperti berbeda. Nasehat orang tua sudah tidak didengar,” ujarnya pelan namun tegas.

Kalimat itu sederhana, namun menyimpan rahasia pahit tentang masa depan. Perubahan perilaku remaja hari ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja biasa. Ada sesuatu yang bergerak diam-diam, merayap seperti ular berbisa, masuk ke dalam lingkungan sekolah, tongkrongan, hingga rumah-rumah. Sesuatu yang bernama, NARKOBA.

 

 

 Gus Makruf 



Musuh yang Tak Berwajah

Narkoba zaman now tidak selalu datang dalam wujud yang mencolok seperti sabu-sabu atau ekstasi. Pintu masuk paling berbahaya justru bersembunyi di balik kemasan obat-obatan yang terlihat biasa saja.

Obat keras daftar G, Tramadol, Hexymer, Pil Double L, hingga Carnophen. Barang-barang ini beredar luas, harganya murah, mudah didapat, dan sering dianggap "aman" atau "biasa" oleh kalangan remaja.

Padahal, efeknya mengerikan.

Zat-zat ini mampu meretas akal sehat. Mengubah rasa takut menjadi keberanian buta, mengubah emosi menjadi amarah yang meledak-ledak, dan menghancurkan kontrol diri. Di sanalah akar dari tawuran pelajar, kekerasan jalanan, dan brutalitas geng remaja bermula.

Anak-anak kehilangan empati. Mereka menjadi mesin yang hanya tahu menghancurkan. Dan masyarakat sering kali baru tersadar ketika darah sudah tumpah atau nyawa melayang.

 

Mojokerto dalam Ancaman Senyap

Gus Makruf tidak berbicara tanpa dasar. Pernyataannya bahwa Mojokerto telah memasuki fase "darurat narkoba" adalah fakta yang mengerikan.

Wilayah ini bukan lagi sekadar daerah transit atau perlintasan. Mojokerto kini telah berubah menjadi pasar, bahkan berpotensi menjadi simpul distribusi yang strategis. Bandar-bandar besar bersembunyi di balik bayang-bayang, memanfaatkan teknologi digital, media sosial, dan sistem "ranjau" yang sulit dilacak.

Yang paling menyedihkan, anak-anak muda dijadikan tameng. Mereka dijadikan kurir karena dianggap polos, sulit dicurigai, dan mudah diadu domba. Sementara itu, keluarga perlahan kehilangan kendali, dan sekolah kewalahan mendidik karakter yang sudah terlanjur rusak oleh racun otak.

 

Saat Upacara Tak Lagi Berarti

Yang membuat Gus Makruf semakin prihatin adalah cara kita menghadapi musuh ini. Terlalu banyak seremoni. Terlalu banyak seminar, spanduk besar, deklarasi, dan foto bersama.

Tapi narkoba tidak bekerja secara formal. Ia masuk lewat rasa penasaran, lewat tekanan teman sebaya, lewat kehampaan jiwa.

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 sudah jelas menyatakan: pencegahan narkoba adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, sekolah, masyarakat, dan keluarga. Ketika generasi muda hancur, itu bukan kegagalan individu semata, itu adalah kegagalan sistem sosial kita.

"Kita tidak bisa hanya menunggu polisi menangkap bandar. Kita harus membentengi diri dari dalam," tekad Gus Makruf bulat.

 

 




Strategi Pagar Nusa

Maka, perjalanan membara Gus Makruf pun dimulai. Ia tidak hanya duduk di kursi dewan. Ia turun ke lapangan, mempertemukan BNN, Polres Mojokerto, Pemkab, dan dunia pendidikan dalam satu meja.

Tujuannya satu, Kolaborasi Nyata.

Perang ini tidak bisa dimenangkan oleh satu pihak saja. Polisi tidak cukup, guru tidak cukup, orang tua pun tidak cukup jika bekerja sendiri-sendiri. Diperlukan sistem deteksi dini, penguatan guru BK, pengawasan ketat terhadap peredaran obat keras, hingga rehabilitasi yang berbasis kasih sayang, bukan stigma.

Namun bagi Gus Makruf, ada senjata paling ampuh yang ia miliki, Pagar Nusa.

Sebagai pimpinan perguruan, ia tahu bahwa Pencak Silat bukan sekadar ilmu bela diri untuk memukul atau menendang. Di dalamnya tersimpan filosofi hidup, disiplin tinggi, spiritualitas, rasa hormat, dan kemampuan mengendalikan emosi.

Di tengah era digital yang membuat anak-anak muda kesepian dan kehilangan figur panutan, silat hadir sebagai jalan pulang. Jika sekolah dan rumah gagal membentuk karakter, maka perguruan silat lah yang akan menjadi benteng. Jika anak-anak tidak punya kegiatan positif, jalanan dan narkoba yang akan menyambut mereka.

 

Jangan Biarkan Jadi Generasi Hilang

Ancaman terbesar bukanlah jumlah barang bukti yang disita polisi. Ancaman terbesar adalah potensi terciptanya Lost Generation.

Generasi yang hidup secara fisik, tapi mati rasa secara mental, emosional, dan moral. Generasi yang tumbuh tanpa arah, tanpa disiplin, dan tanpa masa depan. Jika ini dibiarkan, maka ekonomi, keamanan, dan masa depan bangsa akan runtuh.

Kegelisahan Gus Makruf adalah alarm bagi seluruh masyarakat Mojokerto.

Ini tentang tatapan mata yang kembali bersinar, bukan yang kosong dan liar.

Ini tentang anak-anak yang mendengar nasihat, bukan yang membangkang.

Ini tentang menyelamatkan mereka dari kehancuran, sebelum terlambat.

Perjalanan Gus Makruf masih panjang. Api semangatnya terus membara. Karena baginya, menyelamatkan satu pemuda dari jerat narkoba sama artinya dengan menyelamatkan seluruh masa depan bangsa.

Bumi Mojokerto harus tetap menjadi tanah yang harum, bukan tanah yang tercemar oleh najis dan kehancuran.

 

 



Writer.  : Bastian Tito 

Editor.  : Niki Kosasih 






Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode