UDAN SALAH MONGSO
-Baca Juga
Ketika Langit Jawa Menulis Pesan di Musim Kemarau
Malam telah larut di Mojokerto.
Jam dinding menunjukkan pukul 21.30 WIB. Seharusnya, pada bulan Juni, langit Jawa Timur sedang memasuki musim kemarau. Sawah mulai mengering. Angin timur berembus membawa udara panas. Debu beterbangan di jalan-jalan desa.
Namun malam itu berbeda.
Langit tiba-tiba menghitam.
Kilatan petir membelah cakrawala. Tidak lama kemudian hujan turun deras mengguyur Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Gresik hingga Pasuruan.
Air berjatuhan dari langit seperti tumpahan berkah yang salah alamat.
Musim kemarau. Tapi hujan datang.
Tiga malam berturut-turut.
Empat malam berturut-turut.
Dan rakyat mulai bertanya.
"Ada apa dengan langit Jawa?"
Di sebuah warung kopi pinggir sawah, para petani menggelengkan kepala.
Mereka mengenal musim jauh sebelum mengenal aplikasi cuaca.
Mereka membaca arah angin.
Mereka memahami bahasa burung.
Mereka mengenali tanda-tanda alam.
Dan ketika hujan turun di musim kemarau, mereka menyebutnya,
Udan Salah Mongso.
Bukan sekadar hujan.
Tetapi sebuah tanda.
Ketika BMKG Bicara dengan Bahasa Sains
Bagi para meteorolog, fenomena ini memiliki penjelasan ilmiah.
Gelombang atmosfer.
Anomali cuaca.
Suhu permukaan laut yang lebih hangat.
Kelembapan udara yang tinggi.
Konvergensi angin.
Semua faktor itu dapat memicu pertumbuhan awan hujan meskipun kalender menunjukkan musim kemarau.
Dalam dunia sains, tidak ada yang mistis.
Alam bekerja mengikuti hukum fisika.
Atmosfer bergerak.
Uap air berkumpul.
Awan terbentuk.
Lalu hujan turun.
Selesai.
Tetapi bagi masyarakat Jawa, penjelasan tidak berhenti di situ.
Karena bagi orang Jawa, alam bukan sekadar benda mati.
Alam adalah guru.
Alam adalah kitab.
Alam adalah cermin kehidupan manusia.
Bahasa yang Sudah Hampir Hilang
Di masa lalu, masyarakat Jawa mengenal ilmu membaca musim.
Mereka menyebutnya Pranata Mangsa.
Sebuah sistem pengetahuan tradisional yang lahir dari pengamatan alam selama ratusan tahun.
Mereka tahu kapan menanam.
Mereka tahu kapan panen.
Mereka tahu kapan hujan datang.
Mereka tahu kapan kemarau tiba.
Namun kini, bahkan alam pun seperti sedang kebingungan.
Musim hujan datang terlambat.
Kemarau tiba-tiba basah.
Hujan turun ketika kalender mengatakan tidak seharusnya.
Seakan-akan alam sedang menyampaikan sesuatu yang tidak lagi dipahami manusia modern.
Sasmita Zaman
Dalam filsafat Jawa, setiap perubahan alam sering dibaca sebagai sasmita.
Tanda.
Isyarat.
Peringatan.
Bukan ramalan dalam arti harfiah.
Melainkan ajakan untuk merenung.
Mengapa yang seharusnya kering menjadi basah?
Mengapa yang seharusnya tenang menjadi gaduh?
Mengapa yang seharusnya lurus menjadi bengkok?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan masyarakat pada wejangan para pujangga seperti Ronggowarsito yang menggambarkan zaman ketika banyak hal tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Bukan hanya musim.
Tetapi juga kehidupan sosial.
Dari Langit ke Jalanan
Pada saat hujan salah musim mengguyur Jawa Timur, di berbagai kota mahasiswa turun ke jalan.
Spanduk-spanduk dibentangkan.
Pengeras suara dinyalakan.
Tuntutan disampaikan.
Keluhan rakyat menggema.
Harga kebutuhan hidup.
Lapangan pekerjaan.
Harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Semua bercampur menjadi satu suara besar yang menggema dari kampus hingga jalan raya.
Di titik inilah hujan dan demonstrasi bertemu dalam ruang simbolik yang sama.
Keduanya adalah bahasa.
Yang satu bahasa alam.
Yang satu bahasa rakyat.
Keduanya sama-sama ingin didengar.
Langit Tidak Sedang Menghakimi
Barangkali inilah pelajaran terpenting dari filsafat Jawa.
Langit tidak sedang menghakimi manusia.
Hujan tidak sedang memilih pihak.
Alam tidak sedang berpolitik.
Tetapi alam mengingatkan.
Bahwa keseimbangan adalah syarat utama kehidupan.
Ketika manusia terlalu sibuk mengejar kepentingannya sendiri, sering kali suara alam menjadi satu-satunya suara yang masih jujur.
Dan mungkin itulah sebabnya hujan turun berhari-hari di musim kemarau.
Bukan untuk menakut-nakuti.
Bukan untuk meramal.
Tetapi untuk mengingatkan.
Bahwa ada sesuatu yang perlu direnungkan bersama.
Malam kembali turun di Mojokerto.
Butiran hujan masih terdengar mengetuk genting rumah-rumah warga.
Petani memandang sawahnya.
Mahasiswa menyiapkan poster aksinya.
Pedagang menghitung penghasilannya.
Pejabat membaca laporan di meja kerjanya.
Sementara itu langit tetap bekerja dalam diam.
Menurunkan hujan di musim yang seharusnya kering.
Dan di tanah Jawa yang tua ini, orang-orang masih menyebutnya dengan satu nama yang sederhana namun sarat makna.
Udan Salah Mongso.
Karena terkadang, ketika manusia tidak lagi mampu membaca keadaan zamannya, alamlah yang lebih dahulu berbicara.
"Wong Jowo Ora Lali Jowone."
itu mempunyai daya pukau yang kuat. Bukan karena bernada romantisme masa lalu, tetapi karena menyentuh kesadaran kolektif masyarakat Jawa bahwa modernitas tidak harus memutus akar budaya.
Di tengah gawai pintar, kecerdasan buatan, dan derasnya arus globalisasi, masih banyak orang Jawa yang ketika melihat fenomena alam tidak hanya bertanya.
"Apa penyebabnya?"
Tetapi juga.
"Apa maknanya?"
Itulah yang membedakan peradaban Jawa dengan cara pandang yang semata-mata materialistik.
WONG JOWO ORA LALI JOWONE
Langit boleh berubah.
Musim boleh bergeser.
Teknologi boleh melesat jauh meninggalkan zamannya.
Namun di tanah Jawa, masih ada orang-orang yang memandang hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit.
Mereka melihatnya sebagai bahasa alam.
Sebagai sasmita.
Sebagai pengingat.
Karena bagi orang Jawa, kehidupan bukan hanya soal apa yang tampak oleh mata, melainkan juga apa yang dapat dibaca oleh rasa.
Maka ketika udan salah mongso kembali turun membasahi bumi Majapahit, sebagian orang mungkin hanya melihat anomali cuaca.
Tetapi wong cilik di desa-desa masih berbisik pelan.
"Alam iku ora nate goroh."
Alam tidak pernah berdusta.
Dan selama pesan-pesan itu masih dibaca, selama wejangan leluhur masih diingat, selama budaya masih dijaga dengan hati, maka satu keyakinan akan tetap hidup di bumi Nusantara.
Wong Jowo Ora Lali Jowone.
Ini bukan sekadar slogan budaya. Ini bisa menjadi statement peradaban. Sebab sebuah bangsa biasanya runtuh bukan ketika kehilangan kekayaan alamnya, melainkan ketika kehilangan ingatan terhadap akar budayanya sendiri. Dan orang Jawa selama berabad-abad bertahan justru karena masih menyimpan memori kolektif itu dalam bahasa, tradisi, falsafah, dan rasa.... karena menyentuh hati sekaligus pikiran.
Writer: Sastra Jendra Hayuningrat
Editor: Dara Jingga
