EDISI BUDAYA KESENIAN TRADISIONAL UJUNG ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

EDISI BUDAYA KESENIAN TRADISIONAL UJUNG

-

Baca Juga


Kesenian UJUNG di Pacet Mojokerto Jawa Timur 




Ketika Desing Penjalin Menjaga Napas Terakhir Majapahit

Di lereng Gunung Penanggungan, sebuah tradisi tua masih bertahan. Namun ketika dunia mulai berburu warisan budaya, apakah pemerintah daerah justru terlambat menyadari harta yang dimilikinya?



Oleh: Redaksi DETAK INSPIRATIF


Udara pagi di Pacet menggigit kulit.

Bediding turun perlahan dari lereng Gunung Penanggungan. Embun menggantung di daun-daun padi. Air sumur terasa seperti bongkahan es yang baru diangkat dari perut bumi.

Namun dingin tak pernah mampu membekukan semangat warga.

Di sebuah jalan desa yang basah oleh gerimis, puluhan orang berkumpul mengelilingi dua lelaki bertelanjang dada. Anak-anak duduk di atas tembok. Para ibu menggendong balita sambil memegang payung. Orang-orang tua tersenyum seolah sedang menyaksikan kisah yang telah mereka hafal sejak kecil.

Lalu...

Cetarrrr...!

Suara penjalin memecah udara.

Tak lama kemudian terdengar sorak penonton.

Itulah Ujung.

Sebuah kesenian rakyat yang masih hidup di sejumlah desa di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur 

Di tengah derasnya budaya digital, Ujung tetap bertahan tanpa panggung megah, tanpa tata lampu, tanpa sponsor besar, bahkan nyaris tanpa perhatian pemerintah.

Ironisnya, justru masyarakatlah yang menjadi benteng terakhir pelestari tradisi ini.


Jejak yang Mungkin Berasal dari Peradaban Besar

Tidak ada prasasti yang secara eksplisit menyebut kesenian Ujung.

Namun para antropolog sepakat bahwa tradisi seperti ini biasanya lahir dari masyarakat agraris yang telah hidup ratusan, bahkan ribuan tahun.

Pacet bukan wilayah biasa.

Ia berada dalam bentang budaya Majapahit.

Di sekelilingnya berdiri Gunung Penanggungan, petirtaan kuno, jalur pertapaan, candi, serta berbagai situs arkeologi yang menjadi saksi kebesaran kerajaan terbesar di Nusantara.

Maka pertanyaannya menjadi menarik.

Apakah Ujung merupakan warisan budaya masyarakat desa pada masa Majapahit yang terus diwariskan hingga hari ini?

Belum ada jawaban pasti.

Namun pertanyaan itu layak diteliti.

Karena sejarah sering kali tidak hanya tersimpan dalam prasasti batu.

Ia juga hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.


Ketika Tradisi Menjadi Identitas

Bagi masyarakat desa, Ujung bukan sekadar saling mencambuk menggunakan rotan.

Ia adalah simbol keberanian.

Simbol sportivitas.

Simbol persaudaraan.

Tidak ada dendam setelah pertandingan usai.

Pemain yang saling mencambuk justru saling bersalaman.

Tradisi ini lazim dipentaskan dalam hajatan rakyat seperti pernikahan, khitanan, sedekah desa, atau perayaan kampung.

Inilah bentuk kebudayaan yang tumbuh dari bawah.

Tidak lahir dari ruang rapat.

Tidak dibuat melalui proyek.

Melainkan diwariskan dari generasi ke generasi.


Ironi Mojokerto, Kota Sejarah yang Hampir Melupakan Budayanya Sendiri

Mojokerto selama ini dikenal sebagai Bumi Majapahit.

Pemerintah membangun museum.

Merawat candi.

Mengembangkan kawasan Trowulan.

Semua itu penting.

Namun ada pertanyaan yang tak kalah penting.

Bagaimana dengan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat?

Ujung adalah contoh nyata bahwa warisan budaya tidak hanya berupa bata merah yang diam membisu.

Ia juga hadir dalam bentuk manusia yang masih memainkan tradisi leluhurnya.

Di sinilah tantangan kebijakan muncul.

Apakah kesenian seperti Ujung sudah menjadi bagian dari strategi pelestarian budaya?

Apakah sudah terdokumentasi secara memadai?

Apakah sudah masuk kalender atraksi budaya daerah?

Apakah regenerasi pemain mendapat perhatian?

Pertanyaan-pertanyaan itu layak dijawab melalui kebijakan yang terbuka dan berbasis data.


Potensi Pariwisata yang Belum Digarap Maksimal

Jika dikelola secara profesional, Ujung berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya.

Bayangkan wisatawan yang datang ke Pacet tidak hanya menikmati udara sejuk dan pemandian air panas.

Mereka juga dapat menyaksikan pertunjukan Ujung, mengenal sejarahnya, berdialog dengan para pelaku seni, menikmati kuliner desa, hingga membeli produk UMKM setempat.

Model seperti ini telah berhasil di banyak daerah yang mengembangkan pariwisata berbasis budaya.

Pelestarian tradisi tidak hanya menjaga identitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Tentu, pengembangannya perlu dilakukan dengan hati-hati agar nilai budaya tidak hilang dan aspek keselamatan pemain tetap menjadi prioritas.


Majapahit Belum Benar-Benar Pergi

Barangkali Majapahit memang telah lama runtuh.

Istana-istananya tinggal reruntuhan.

Rajanya telah menjadi sejarah.

Namun kebudayaan tidak selalu mati bersama kerajaannya.

Ia berpindah ke desa-desa.

Bersembunyi dalam bahasa.

Dalam doa petani.

Dalam sedekah bumi.

Dalam gamelan.

Dan dalam desing penjalin yang masih terdengar di lereng Gunung Penanggungan.

Mungkin itulah sebabnya, setiap kali rotan beradu di tengah lingkaran penonton, yang sesungguhnya sedang dipertontonkan bukan sekadar ketangkasan dua lelaki.

Yang sedang dipertahankan adalah ingatan sebuah peradaban.

Sebab sebuah bangsa tidak kehilangan jati dirinya ketika candinya runtuh.

Ia kehilangan jati dirinya ketika berhenti menghargai tradisi yang masih hidup di tengah rakyatnya.

Dan selama Ujung masih dimainkan di desa-desa Mojokerto, selama itu pula denyut warisan budaya Nusantara masih berdetak pelan, namun tetap hidup.




Writer : Dion 

Editor: Djose 



Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode