Menjelang Muktamar NU, Penjualan MIRAS Makin Berani, Satpol PP TUTUP MATA?
-Baca Juga
Malam itu angin dari arah persawahan berembus pelan. Di sudut Warkop Si Hitam Pahit E Pinggiran, aroma kopi tubruk bercampur asap rokok kretek memenuhi udara. Di atas tampah bambu, Rondo Royal masih mengepul hangat.
Warkop legendaris itu memang bukan gedung DPR. Tidak ada palu sidang. Tidak ada jas resmi.
Yang ada hanya gelas kopi, bangku kayu, dan mulut-mulut rakyat yang tidak pernah kehabisan bahan.
Di sinilah Parlemen Warkop bersidang setiap malam.
Pakde Kumis, Wakidi tukang tambal ban, Gendon si gondes, Bejo aktivis kampung, Paijo spesialis ASBUN, ditambah Ning Ngatini dan Ngatiyem yang sesekali ikut nimbrung sambil mengantar kopi.
"Ngatini... tambah kopi. Rondo Royal-e sing panas. Malam ini sidang negara dimulai..."
Semua tertawa.
Wakidi membuka pembicaraan.
"Pakde... tadi ada pelanggan tambal ban cerita. Katanya sekarang penjualan miras tambah rame. Bahkan bocah sekolah gampang beli. Opo bener ngono?"
Pakde Kumis menghela napas panjang.
"Asline masyarakat sekarang bukan cuma resah, Di.... tapi wes mulai nesu."
"Lho kok nesu?"
"Lha wong yang resah rakyat. Yang diam pemerintah."
"Hahaha... pedes iki..."
Ngatini datang membawa sepiring Rondo Royal.
"Pakde... hati-hati. Masih panas."
Pakde tertawa.
"Rondo Royal iki panasnya cuma lima menit."
"Lha mirasantika?"
"Itu panasnya bisa membakar masa depan anak."
Mendadak semua diam.
Bejo yang sejak tadi sibuk memainkan telepon genggam mulai angkat bicara.
"Kalau memang penjualannya sudah sampai pelosok desa, bukankah Satpol PP sebagai penegak Perda mestinya bergerak?"
Gendon langsung nyeletuk.
"Jangan-jangan Satpol PP sekarang sedang ikut lomba patung."
"Patung?"
"Iya... bisa lihat, bisa dengar... tapi ora obah."
Satu warung meledak tertawa.
Belum reda tawa itu...
Ronggg...
Ronggg...
Ronggg...
Motor berknalpot brong berhenti tepat di depan warung.
"Itu Paijo...."
Paijo turun sambil tersenyum bangga.
"Knalpot anyar, Pakde."
Pakde Kumis langsung geleng kepala.
"Knalpotmu iki rame tenan."
"Iya Pakde."
"Tapi masih kalah rame sama penjualan miras."
Satu warung kembali pecah.
Paijo ikut duduk.
"Pakde... aku kok heran. Menjelang Muktamar NU, kok isu beginian malah tambah ramai."
Pakde mengangguk pelan.
"Itulah yang sedang dibicarakan rakyat."
"Muktamar itu tamu nasional."
"Bahkan internasional."
"Kalau daerah sekitar gaduh karena mirasantika, yang malu siapa?"
"Pemerintah."
Wakidi kembali menyulut rokok.
"Menurutku Satpol PP bukan diam."
"Lho?"
"Mereka kena virus."
"Virus apa?"
"COVID."
"Lho pandemi kan sudah lewat?"
"Iya..."
"Cuma gejalanya masih ada."
"Gejala apa?"
"Tutup mulut... cuci tangan...."
"Hahahahahaha...."
Ngatini sampai hampir menjatuhkan teko kopi.
Gendon ikut menambahkan.
"Padahal masyarakat tahunya Satpol PP itu penegak Perda."
"Kalau Perda dilanggar terus tidak ada tindakan..."
"Rakyat akhirnya bertanya."
"Perdanya masih hidup apa sudah pensiun?"
Pakde Kumis menyeruput kopi.
"Begini lho."
"Kalau memang ada dugaan peredaran miras dan narkoba yang makin marak, ya aparat harus menindak sesuai hukum."
"Kalau ternyata tidak benar, sampaikan kepada masyarakat hasil pengecekannya."
"Kalau benar ada pelanggaran, proses sesuai aturan."
"Yang tidak boleh itu..."
"Rakyat resah..."
"Pemerintah diam..."
"Rumor berkembang ke mana-mana."
Semua mengangguk.
Bejo kembali membuka berita di gawainya.
"Pakde... ini ramai juga katanya beberapa organisasi masyarakat mulai bicara soal kemungkinan sweeping."
Pakde langsung mengangkat telunjuk.
"Nah... ini yang harus dicegah."
"Penegakan hukum itu tugas aparat."
"Bukan diselesaikan dengan benturan di lapangan."
"Kalau aparat bekerja cepat..."
"Biasanya situasi juga lebih mudah dikendalikan."
Ngatiyem yang sejak tadi mendengarkan tiba-tiba ikut bicara.
"Pakde..."
"Iya Yem?"
"Kalau nanti para kiai dari seluruh Indonesia datang ke Jombang..."
"Terus sebelum sampai sana malah dengar cerita miras dan narkoba di sekitar wilayah penyangga..."
"Wah..."
"Malu-maluin."
Pakde mengangguk.
"Persis."
Bejo menambahkan.
"Apalagi selama ini Mojokerto dikenal dekat dengan sejarah Islam, budaya pesantren, dan menjadi wilayah penyangga kegiatan besar Nahdlatul Ulama."
"Harusnya momentum seperti ini menjadi kesempatan menunjukkan tata kelola pemerintahan yang sigap."
"Bukan malah muncul kesan pembiaran."
Paijo kembali nyeletuk.
"Pakde..."
"Iya?"
"Kalau aparat nanti baru bergerak setelah viral?"
Pakde tersenyum tipis.
"Itu namanya bukan penegakan hukum."
"Tapi..."
"Aktivasi setelah notifikasi."
Satu warung kembali ngakak.
Ngatini menuangkan kopi putaran kedua.
"Asline rakyat itu sederhana."
"Penginnya cuma satu."
"Pemerintah hadir."
"Kalau ada pelanggaran ya ditindak."
"Kalau ada keresahan ya dijawab."
"Bukan didiamkan."
Pakde Kumis menghabiskan kopi terakhirnya.
"Lha wong pemerintah itu digaji dari uang rakyat."
"Kalau rakyat sudah bicara..."
"Ya didengar."
"Kalau masyarakat mulai resah..."
"Ya turun."
"Kalau ada pelanggaran..."
"Ya tindak sesuai aturan."
"Biar hukum yang bekerja."
"Bukan desas-desus."
"Bukan gosip."
"Apalagi sampai masyarakat kehilangan kepercayaan."
Malam semakin larut.
Warung mulai sepi.
Namun satu kalimat Pakde Kumis masih menggantung di udara, lebih pekat daripada asap kretek.
"Menjelang Muktamar NU, yang dijaga bukan hanya keamanan tamunya. Tetapi juga marwah daerahnya. Sebab wibawa pemerintah tidak lahir dari baliho dan pidato. Wibawa lahir ketika rakyat melihat hukum benar-benar bekerja."
Ngatini menutup teko kopi.
Ngatiyem membereskan piring Rondo Royal.
Pakde Kumis berdiri sambil merapikan pecinya.
"Besok malam kita lanjut lagi..."
"Kalau sampai besok masih belum ada gerakan..."
"Sidang Parlemen Warkop dibuka lagi."
Semua menjawab serempak...
"SETUJUUUUU....!!!"
Dan Warkop Si Hitam Pahit E kembali menjadi tempat paling jujur di pinggiran Mojokerto.
Di sana...
kopi boleh pahit.
Tapi suara rakyat...
jangan sampai ikut menjadi pahit.
Penulis Satire ala Warkop: DION
EDITOR : BASTIAN TITO
