Perjalanan Membara Sang Pendekar Pagar Nusa, Gus Makruf ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Perjalanan Membara Sang Pendekar Pagar Nusa, Gus Makruf

-

Baca Juga


GUS MAKRUF PIMPIN RAPAT (JAS PUTIH) : AGENDA RAPAT PERSIAPAN PELANTIKAN PENGURUS PAGAR NUSA MOJOKERTO JAWA TIMUR 2026 DI KANTOR PCNU KABUPATEN MOJOKERTO, MINGGU 9 AGUSTUS 2026



Rapat di Balik Dinding Kantor PCNU

Sore itu, langit di atas Mojokerto berwarna jingga kemerahan, seolah mencerminkan semangat yang sedang berkobar di dalam ruangan rapat Kantor PCNU Kabupaten Mojokerto. Asap kopi masih mengepul di meja panjang, berpadu dengan suara diskusi yang saling bersahutan, namun tetap terjaga dalam bingkai adab dan kekeluargaan.

Gus Makruf duduk di ujung meja, wajahnya yang tegas namun penuh kerendahan hati tampak fokus menyimak laporan para panitia. Beberapa hari terakhir, waktunya hampir habis diserap oleh serangkaian pertemuan demi persiapan pelantikan pengurus baru Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto. Mulai dari susunan acara, barisan silat, hingga keamanan tamu undangan, semuanya harus diperiksa kembali dengan teliti.

"Gus, daftar undangan sudah lengkap. Lapangan latihan juga sudah disiapkan sebaik mungkin," lapor salah satu panitia.

Gus Makruf mengangguk pelan, lalu menatap satu per satu wajah orang yang ada di hadapannya. "Bagus. Tapi ingat, persiapan ini tidak berdiri sendiri. Kita semua tahu, sebentar lagi seluruh perhatian Nahdlatul Ulama dan negeri ini akan tertuju ke Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Muktamar NU ke-35 akan digelar tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026, dan akan dihadiri Presiden serta pejabat tinggi negara lainnya."

Suasana ruangan sejenak hening. Semua paham betul betapa berat beban yang dipikul oleh seluruh elemen organisasi keagamaan terbesar di Nusantara ini. Dua peristiwa besar yang berdekatan ini sungguh menguras tenaga, pikiran, dan energi seluruh kader NU, tak terkecuali keluarga besar Pagar Nusa.

Gus Makruf berdiri perlahan, suaranya menggelegar namun tenang, memenuhi seisi ruangan.

"Muktamar NU ke-35 di Jombang ini harus sukses. Tidak ada kata lain selain sukses dan lancar."

Ia melanjutkan, matanya berkilat penuh keyakinan.

"Pagar Nusa adalah garda terdepan Nahdlatul Ulama. Kami akan bekerja ekstra keras untuk menjaga dan mengamankan jalannya Muktamar nasional ini, terutama saat proses pemilihan Ketua PBNU serta penetapan kepengurusan yang baru nanti."

Kepalan tangannya meremas sedikit di sisi tubuh, menegaskan ketegasan ucapannya.

"Kami akan mengerahkan para pendekar Pagar Nusa dari seluruh penjuru Nusantara," ujarnya mantap. "Siapa pun yang berniat mencoba mengacaukan jalannya Muktamar NU, merusak kekhusyukan persaudaraan, atau mengganggu kepentingan bersama, Pagar Nusa akan sikat dan ratakan!"

Itulah janji yang disampaikan Gus Makruf, sebagai amanah yang ia emban langsung dari pimpinan tertinggi Pagar Nusa. Di luar jendela, angin sore mulai berhembus lebih kencang, membawa pesan bahwa perjuangan belum usai. Persiapan pelantikan di Mojokerto hanyalah salah satu langkah, sebelum para pendekar ini benar-benar bergerak menyatukan barisan menuju Jombang, menjaga amanah ulama, menjaga persatuan umat, dengan semangat yang tak pernah padam.

 

 

Gus Makruf di PONPES TAMBAK BERAS JOMBANG 




IRING-IRINGAN PENDEKAR MENUJU TANAH KELAHIRAN

Fajar baru saja menyingsing, menyisakan semburat ungu yang perlahan memudar di ufuk timur. Dari halaman markas Pagar Nusa Mojokerto, deretan kendaraan bergerak perlahan, bagai naga raksasa yang bangun dari tidurnya. Namun di balik kemasan yang tertib itu, tersimpan kekuatan yang tak terbayangkan, setiap jengkal jalan yang dilalui, diikuti oleh langkah kaki para pendekar yang menyusup dari pelosok desa, dari gunung hingga pesisir, menyatu menuju satu tujuan: Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang.

Gus Makruf duduk tegak di barisan depan. Matanya menatap lurus ke depan, menyusuri jalan yang pernah dilalui para ulama terdahulu. Di tangannya tergenggam selembar surat mandat tertanda tangan pimpinan tertinggi, yang beratnya melebihi sebilah keris pusaka.

"Jarak mungkin memisahkan tubuh," ucapnya lirih kepada pendampingnya, "namun hati kita sudah sampai di sana duluan. Di Tambak Beras, tanah yang melahirkan banyak pemimpin umat, kita tak boleh lengah sedetik pun."

 



GEMURUH DI HALAMAN TAMBAK BERAS

Saat matahari mulai meninggi, barisan itu tiba di gerbang pondok. Pemandangan yang menyambut sungguh memukau. Ribuan pendekar Pagar Nusa dari seluruh penjuru Nusantara telah lebih dulu berkumpul. Mereka tak berisik, tak berlagak gagah. Hanya berdiri tegap, sorban berkibar diterpa angin, tangan menyilang di dada, sikap siap menjaga tanpa sombong.

Gus Makruf turun dari kendaraan. Kakinya menginjak tanah Tambak Beras dengan penuh penghormatan. Begitu ia melangkah masuk, ribuan pasang mata tertuju padanya. Tanpa aba-aba, seirama dengan langkah kakinya, para pendekar menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada amanah yang dibawanya.

Tanpa menunda waktu, Gus Makruf segera memimpin rapat terbatas di sebuah pendopo luas yang diterangi cahaya matahari tembus dari celah daun kelapa. Di hadapannya duduk para sesepuh perguruan, ketua ranting, hingga pemuda yang baru selesai disumpah.

"Perhatikan baik-baik!" suaranya melantun, membelah hening namun tetap lembut beradab. "Muktamar ini bukan sekadar pesta perkumpulan. Di sini akan ditentukan arah perjalanan Nahdlatul Ulama lima tahun ke depan. Presiden, para ulama agung, dan pejabat negara akan hadir. Keamanan bukan sekadar tugas, melainkan ibadah menjaga amanah Allah dan para leluhur."

Ia menunjuk peta wilayah pondok dan jalan-jalan akses yang telah digambar di atas kain putih.

"Pasukan sebelah utara jaga ketat pintu masuk utama. Pasukan timur amankan jalur alternatif dan tempat istirahat tamu. Pasukan barat dan selatan bersiaga di jalur tersembunyi, tempat yang tak terlihat orang awam, adalah tempat kita harus paling waspada!"

Seorang pendekar tua bertanya dengan rendah hati.

"Gus, jika ada yang berani melanggar larangan, bagaimana sikap kita?"

Gus Makruf bangkit berdiri, bayangannya memanjang di atas lantai pendopo.

"Kita mengajak dengan kelembutan terlebih dahulu. Kita pegang dengan tali persaudaraan. Namun jika tangan itu ditampik, jika niat jahat tetap dipaksakan..."

Ia merentangkan pandang ke sekeliling ribuan pendekar yang kini telah berbaris rapi di halaman, siap melaksanakan perintah.

"...Maka kekuatan Pagar Nusa akan turun sepenuhnya. Yang mencoba mengacau, akan kita tepis tanpa menyakiti yang tak bersalah. Yang mencoba merusak suasana, akan kita luruskan dengan tegas. Ingat! Kita adalah tameng, bukan pedang pencari musuh. Tapi jika tameng dipaksa menjadi senjata, maka tak ada yang mampu menahan gempuran pendekar yang menjaga kebenaran!"

Seketika itu juga, teriakan serentak menggelegar, mengguncang pepohonan kelapa di sekeliling pondok.

"SIAP, GUS! DEMI ULAMA! DEMI NUSANTARA!"

Gus Makruf menghela napas panjang, menatap langit biru Jombang yang cerah namun menyimpan harapan besar. Persiapan matang sudah disusun, barisan sudah kokoh terjalin. Hanya satu doa yang terus ia lantunkan dalam hati. Semoga perjuangan ini cukup dengan kewaspadaan, tanpa perlu tumpah darah. Namun jika harus mengorbankan nyawa, maka nyawa inilah yang pertama dipersembahkan.

Di kejauhan, angin membawa suara adzan berkumandang. Tanda waktu berhenti sejenak untuk beribadah, sebelum kembali berdiri tegak, siap menjaga Muktamar NU ke-35 dengan nyawa dan raga.

 

 

 

Writer: Bastian Tito 
Editor: Niki Kosasih 

Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode