BANSER NGONTHEL DARI SUMATERA SELATAN MENUJU TAMBAKBERAS JOMBANG DEMI MUKTAMAR NU KE 35 ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

BANSER NGONTHEL DARI SUMATERA SELATAN MENUJU TAMBAKBERAS JOMBANG DEMI MUKTAMAR NU KE 35

-

Baca Juga






Ribuan Kilometer, Satu Niat Menata Hati untuk Muktamar NU


Maskhun Arif Hidayat meninggalkan Musi Rawas Utara dengan sepeda tua. Bukan mengejar kecepatan. Bukan mencari panggung. Ia menempuh jalan panjang sebagai bentuk khidmah menuju Tambakberas.


PEDAL PERTAMA

Malam belum terlalu larut ketika sebuah sepeda onthel mulai bergerak meninggalkan Sumatera Selatan.

Tidak ada deru mesin.

Tidak ada suara knalpot.

Hanya bunyi rantai dan putaran roda yang perlahan membawa seorang kader Banser menuju perjalanan ribuan kilometer.

Namanya Maskhun Arif Hidayat.

Senin malam, 3 Agustus 2026, ia meninggalkan kediamannya setelah sebelumnya dilepas secara resmi di Kantor PWNU Sumatera Selatan.

Tujuannya satu. Tambakberas, Jombang.

Di sana, 27–31 Agustus mendatang, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama akan digelar.

Bagi kebanyakan orang, perjalanan dari Sumatera Selatan menuju Jawa Timur adalah urusan waktu dan kendaraan.

Bagi Maskhun, perjalanan itu memiliki arti berbeda.

Ia memilih sepeda onthel.

Tetapi justru di situlah nilai perjalanan yang ingin ia rasakan.


BUKAN PERJALANAN BIASA

Persiapan tidak dilakukan sehari dua hari.

Maskhun mengaku telah menyiapkan perjalanan itu selama sekitar lima bulan.

Semula ia ingin melakukan napak tilas dengan berjalan kaki.

Rencana itu tidak memperoleh izin dari PW GP Ansor Sumatera Selatan.

Pilihan kemudian mengerucut.

Sepeda motor.

Atau sepeda onthel.

Maskhun memilih yang kedua.

Bukan karena lebih cepat.

Justru karena lebih lambat.

Sebab perjalanan ini, katanya, bukan perlombaan menuju garis akhir.

Ia ingin menata hati.

"Niat saya sederhana, menata hati agar tidak berpikir macam-macam dan menjadikan perjalanan ini sebagai bentuk pengabdian kepada pendiri NU."

Kalimat itu mungkin sederhana.

Tetapi di situlah seluruh perjalanan ini menemukan maknanya.


PERJALANAN KHIDMAH

MASKHUN ARIF HIDAYAT

Asal Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan

Tujuan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang

Moda Sepeda onthel

Berangkat 3 Agustus 2026

Pendamping

Firman  Banser Banyuasin

Shobirin  Banser Musi Rawas

Persiapan ±5 bulan

Tujuan perjalanan Khidmah menuju Muktamar NU ke-35


DUA SAHABAT DI BELAKANG RODA

Maskhun tidak benar-benar sendirian.

Dua sahabatnya mengikuti perjalanan menggunakan sepeda motor.

Firman, kader Banser Banyuasin.

Shobirin, kader Banser Musi Rawas.

Mereka menjadi pengawal sekaligus teman perjalanan.

Satu mengayuh.

Dua lainnya menjaga.

Sebuah formasi sederhana yang mungkin tidak menarik bagi dunia balap sepeda.

Namun perjalanan ini memang bukan tentang siapa yang paling cepat.

Yang dikejar adalah niat.


JALAN YANG MENGUBAH PERJALANAN MENJADI CERITA

Ribuan kilometer bukan hanya angka pada peta. panas. Hujan. Angin. Rasa lelah. Keterbatasan fisik. Dan ketidakpastian perjalanan.

Tetapi di sepanjang perjalanan, muncul sesuatu yang tidak terdapat pada peta.

Persaudaraan.

Maskhun bercerita bahwa di sejumlah titik perjalanan ia mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat dan kader Ansor-Banser.

Ada jamuan.

Ada tempat beristirahat.

Ada tangan-tangan yang menyambut.

Ada percakapan singkat sebelum perjalanan kembali dilanjutkan.

Setiap persinggahan meninggalkan cerita.

Setiap sambutan menjadi energi baru.

Dan setiap kilometer membawa Maskhun semakin dekat kepada Tambakberas.


KETIKA BANser MENYAMBUT

Perjalanan itu kemudian menjadi perhatian jaringan Ansor-Banser di daerah yang dilewati.

Di Lampung, kedatangan Maskhun disambut PW GP Ansor Lampung.

Pengawalan dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan yang dianggap sebagai wujud dedikasi seorang kader.

Kasatkorwil Banser Lampung, Tatang Sumantri, melihat perjalanan tersebut sebagai teladan mengenai arti khidmah kepada organisasi.

Bagi Maskhun, mungkin sambutan itu bukan tujuan.

Tetapi bagi organisasi, ia menjadi pesan.

Bahwa semangat seorang kader dapat menular kepada kader lainnya.


JEJAK LAMA, SEMANGAT YANG SAMA

Perjalanan menuju Muktamar 2026 bukan pengalaman pertama Maskhun melakukan perjalanan jauh sebagai bentuk pengabdian.

Pada 2019, ia pernah berjalan kaki menuju Istana Negara.

Kini ia kembali menempuh perjalanan panjang.

Moda transportasinya berubah.

Tahun itu berjalan kaki.

Kini mengayuh sepeda.

Tetapi menurut pengakuannya, semangatnya tetap sama berkhidmah.


PEDAL DAN DOA

Ada sesuatu yang menarik dari sepeda onthel.

Ia tidak mengenal jalan pintas.

Tidak bisa dipercepat hanya dengan memutar gas.

Setiap meter harus dibayar dengan tenaga kaki.

Satu putaran pedal.

Satu meter.

Satu kilometer.

Kemudian kilometer berikutnya.

Begitulah perjalanan Maskhun menuju Tambakberas.

Pelan, tetapi bergerak.

Mungkin perjalanan itu justru mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan manusia modern, bahwa tidak semua tujuan harus dicapai dengan tergesa-gesa.

Ada perjalanan yang memang sengaja dibuat panjang agar manusia memiliki cukup waktu untuk berbicara dengan dirinya sendiri.


Muktamar NU kelak akan dipenuhi pembahasan besar.

Tentang organisasi.

Tentang kepemimpinan.

Tentang program.

Tentang masa depan Nahdlatul Ulama.

Nama-nama besar akan menjadi perhatian.

Keputusan-keputusan penting akan lahir dari ruang sidang.

Namun jauh sebelum palu sidang diketukkan, Maskhun sudah lebih dahulu menjalankan "sidangnya" sendiri di atas jalan raya.

Ia berdialog dengan lelah.

Berunding dengan panas.

Berdamai dengan jarak.

Dan belajar dari setiap orang yang ditemuinya.

Tidak ada mikrofon.

Tidak ada podium.

Hanya sepeda onthel dan jalan panjang menuju Tambakberas.


KETIKA KHIDMAH MENJADI PERJALANAN

Pada akhirnya, perjalanan Maskhun mungkin tidak mengubah hasil Muktamar.

Ia tidak menentukan siapa yang akan memimpin.

Tidak pula memiliki suara yang lebih besar daripada peserta resmi.

Tetapi perjalanan itu menyimpan sesuatu yang tidak kalah penting, pesan tentang ketulusan.

Bahwa organisasi besar tidak hanya dibangun di ruang rapat.

Ia juga dibangun oleh orang-orang yang bersedia melakukan sesuatu tanpa harus bertanya, "Apa yang saya dapat?"

Maskhun memilih jalan yang panjang.

Ia memilih sepeda ketika kendaraan bermotor tersedia.

Ia memilih mengayuh ketika perjalanan bisa dipercepat.

Dan ia memilih berangkat jauh sebelum Muktamar dimulai.

Bukan karena ingin menjadi yang pertama tiba.

Melainkan karena ingin sampai di Tambakberas dengan hati yang telah ditempa perjalanan.


Ketika Roda Berhenti di Tambakberas

Kelak, ketika sepeda itu akhirnya memasuki kawasan Tambakberas, mungkin tidak ada suara terompet.

Tidak ada karpet merah.

Tidak ada panggung penghormatan.

Hanya seorang kader Banser yang turun dari sepeda setelah ribuan kilometer perjalanan.

Tetapi di balik tubuh yang lelah, ada sebuah cerita yang telah selesai ditulis oleh jalan.

Sebuah cerita tentang kesetiaan.

Tentang persahabatan.

Tentang kesabaran.

Dan tentang khidmah.

Muktamar mungkin hanya berlangsung lima hari.

Namun bagi Maskhun, Muktamar telah dimulai jauh sebelumnya, sejak pedal pertama diputar di Sumatera Selatan.

Sebab terkadang, perjalanan menuju sebuah tempat justru merupakan bagian terpenting dari alasan mengapa seseorang harus sampai di sana.

Dan ketika roda onthel itu akhirnya berhenti di Tambakberas, yang tiba bukan hanya seorang manusia.

Yang tiba adalah sebuah niat yang telah menempuh ribuan kilometer.




Writer: Dion 

Editor: Djose 

Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode