BELUM MEMBAWA TROFI, TELAH MEMBAWA NAMA BUMI MAJAPAHIT. Dari Sooko ke Makassar, Abdullah Faqih Suyuthi dan Jalan Panjang Sebuah Pengabdian ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

BELUM MEMBAWA TROFI, TELAH MEMBAWA NAMA BUMI MAJAPAHIT. Dari Sooko ke Makassar, Abdullah Faqih Suyuthi dan Jalan Panjang Sebuah Pengabdian

-

Baca Juga



MTQ VIII KORPRI Nasional 2026 bukan semata tentang siapa yang berdiri di podium tertinggi. Di balik kompetisi itu ada perjalanan seorang guru, tradisi Al-Qur’an, dan nama sebuah daerah yang dibawa sampai ke panggung nasional.



MOJOKERTO — Tidak semua perjalanan menuju panggung nasional berakhir dengan piala. Ada yang berakhir dengan tepuk tangan. Ada yang berakhir dengan pengalaman.

Ada pula yang pulang membawa sesuatu yang tidak dapat ditimbang dengan medali, kebanggaan sebuah daerah.

Perjalanan itu kini menjadi bagian dari kisah Abdullah Faqih Suyuthi, S.Pd.I., guru SMKN 1 Sooko Kabupaten Mojokerto. Ia berangkat bukan sekadar sebagai peserta musabaqah. Ia membawa nama Jawa Timur. Dan di belakang nama provinsi itu, ada satu daerah yang ikut berdiri bersamanya, Mojokerto Bumi Majapahit.

KETIKA SUARA AYAT MENEMBUS PANGGUNG NASIONAL

Agustus 2026 menjadi bulan yang penuh dinamika. Di Jawa Timur, perhatian publik tertuju kepada Jombang yang menjadi arena Muktamar NU ke-35. Di Jakarta, ruang publik dipenuhi dinamika aksi massa dan isu kebangsaan.

Sementara di Sulawesi Selatan, ribuan aparatur sipil negara dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul dalam suasana yang berbeda. Mereka datang membawa satu tradisi, Al-Qur’an.

MTQ VIII KORPRI Nasional 2026 diselenggarakan di Sulawesi Selatan, dengan Makassar dan Pangkajene dan Kepulauan sebagai lokasi kegiatan.

Ini bukan musabaqah dalam skala kecil. Ribuan peserta dari berbagai provinsi, kementerian dan lembaga bertemu dalam kompetisi yang mempertemukan kemampuan membaca, menghafal, memahami dan mengekspresikan nilai-nilai Al-Qur’an.

Di antara mereka terdapat seorang guru dari Mojokerto. Abdullah Faqih Suyuthi. Cabang yang dipercayakan kepadanya adalah Hafalan Surah Ali Imran Putra. Sebuah cabang yang tidak hanya menuntut daya ingat.

Tetapi juga ketepatan makhraj, tajwid, kelancaran, ketenangan, konsistensi hafalan dan kesiapan mental ketika berhadapan dengan para peserta terbaik dari seluruh Indonesia.

GURU YANG MEMBAWA DUA AMANAH

Ada dimensi yang membuat perjalanan Abdullah menjadi berbeda. Ia adalah seorang guru. Di sekolah, ia berada di depan peserta didik. Di arena MTQ, ia menjadi peserta yang diuji. Dua ruang berbeda.

Namun keduanya bertemu pada satu kata, keteladanan. Seorang guru tidak hanya berbicara tentang prestasi. Ia menunjukkan bagaimana seseorang mempersiapkan diri.

Bagaimana menghadapi tekanan. Bagaimana menghormati lawan. Dan bagaimana menerima hasil dengan lapang.

Karena itu, ketika trofi belum menjadi miliknya, cerita Abdullah Faqih Suyuthi tidak serta-merta berubah menjadi cerita tentang kekalahan. Justru di sinilah sisi manusiawinya muncul.

Gus Isomuddin, panitia lokal Pemkab Mojokerto, ketika dikonfirmasi mengenai hasil perjuangan wakil Mojokerto tersebut, menyampaikan bahwa perwakilan Kabupaten Mojokerto belum rezeki untuk menggondol trofi juara dalam MTQ VIII KORPRI Nasional 2026 sebagai wakil Jawa Timur.

Kalimat “belum rezeki” terasa lebih tepat daripada kata “gagal”. Sebab kompetisi hanyalah satu titik dalam perjalanan.

MOJOKERTO TIDAK DATANG DENGAN TANGAN KOSONG

Ada fakta lain yang membuat cerita ini tidak berdiri sendiri. Mojokerto memiliki jejak prestasi dalam tradisi MTQ KORPRI nasional.

Pada MTQ V KORPRI Nasional 2021 di Sulawesi Tenggara, wakil Kabupaten Mojokerto pernah mencatat prestasi nasional melalui Fatkhurrohman yang meraih Juara I Hafalan Juz 30/Juz Amma dan Suut Amim yang meraih Juara II Hafalan Surah Al-Baqarah.

Jejak tersebut menunjukkan bahwa tradisi prestasi Al-Qur’an di kalangan ASN Mojokerto bukan sesuatu yang muncul kemarin sore.

Ada mata rantai. Ada pembinaan. Ada individu-individu yang terus mencoba. Dan pada 2026, mata rantai itu kembali bergerak melalui Abdullah Faqih Suyuthi. Mungkin belum berakhir dengan piala. Tetapi perjalanan itu tetap penting.

EMPAT BESAR JAWA TIMUR

MTQ VIII KORPRI Nasional 2026 akhirnya menempatkan Jawa Timur di posisi keempat klasemen akhir.

Posisi

Kontingen

Nilai

1

Sumatera Barat

160

2

Sulawesi Selatan

125

3

DKI Jakarta

103

4

Jawa Timur

98

5

Kalimantan Timur

81

Sumatera Barat kembali merebut gelar juara umum. Sulawesi Selatan, sebagai tuan rumah, tampil kuat di posisi kedua. DKI Jakarta berada di posisi ketiga. Dan Jawa Timur menutup kompetisi dengan 98 poin. Tetapi ada satu catatan angka 98 poin merupakan perolehan kontingen Jawa Timur, bukan otomatis nilai Abdullah Faqih Suyuthi secara individual.

BUDAYA YANG BERJALAN, BUKAN SEKADAR DILOMBAKAN

MTQ KORPRI memiliki dimensi yang lebih luas daripada kompetisi. Al-Qur’an tidak berhenti di mimbar musabaqah. Nilai-nilainya diharapkan hadir dalam kehidupan ASN. Dalam integritas. disiplin. amanah. Dalam pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, seorang ASN yang menghafal Al-Qur’an sesungguhnya sedang berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar mampu menghafal berapa banyak ayat. Sejauh mana nilai yang dihafalnya hadir dalam kehidupan sehari-hari?

Di sinilah MTQ menjadi bagian dari kebudayaan. Ia mempertemukan agama, pendidikan, birokrasi dan kehidupan sosial dalam satu ruang. Dan Abdullah Faqih Suyuthi berdiri di titik pertemuan itu. Seorang guru. Seorang ASN. Seorang peserta musabaqah. Seorang putra daerah.

BUMI MAJAPAHIT SEJARAH YANG TERUS MENCARI BENTUK

Mojokerto selama ini dikenal melalui jejak peradaban Majapahit. Trowulan. Candi-candi. Petirtaan. Arkeologi. Naskah dan sejarah Nusantara. Tetapi sebuah daerah tidak boleh hidup hanya dari romantisme masa lalu.

Sejarah harus menemukan manusia-manusia baru yang mengisi zamannya. Maka kebanggaan Bumi Majapahit hari ini tidak hanya berada pada peninggalan batu bata kuno. Ia juga berada di ruang kelas. Di laboratorium sekolah. Di kantor pemerintahan. Di pesantren. Di panggung seni. Di arena olahraga. Dan di panggung MTQ nasional.

Abdullah Faqih Suyuthi adalah salah satu wajah kecil dari perjalanan itu. Ia membawa Mojokerto ke tempat yang jauh. Tidak dengan prasasti. Tidak dengan senjata. Tidak dengan kekuasaan. Melainkan dengan hafalan ayat-ayat Al-Qur’an.

BELUM PUNCAK, BUKAN BERARTI BERHENTI

Dalam budaya kompetisi, podium sering menjadi ukuran paling mudah. Juara pertama dianggap berhasil. Juara kedua dan ketiga masih mendapat penghormatan. Sementara mereka yang belum memperoleh trofi sering cepat dilupakan. Tetapi perjalanan manusia tidak sesederhana tabel klasemen.

Ada proses panjang sebelum seseorang sampai di arena nasional. Ada latihan yang tidak terlihat. Ada hafalan yang diulang berkali-kali. Ada kesalahan yang diperbaiki. Ada kegelisahan sebelum tampil. Ada doa keluarga. Ada dukungan guru dan lingkungan. Dan akhirnya ada keberanian untuk berdiri di hadapan para penilai.

Abdullah Faqih Suyuthi telah melewati bagian itu. Ia telah sampai ke panggung nasional. Ia telah menjadi bagian dari kafilah Jawa Timur. Dan Jawa Timur pulang sebagai empat besar nasional. Maka, trofi yang belum dibawa pulang tidak seharusnya menghapus seluruh perjalanan. Karena prestasi tidak selalu berbentuk piala.

SATU NAMA, SATU DAERAH

Bayangkan kembali perjalanan itu. Seorang guru dari Sooko. Berangkat dari Mojokerto. Melewati seleksi. Masuk kafilah Jawa Timur. Kemudian menuju Makassar. Bertemu peserta dari berbagai penjuru Indonesia. Membawa hafalan Surah Ali Imran. Berdiri di panggung nasional. Dan kemudian pulang. Trofi belum berada di tangannya. Tetapi nama Mojokerto telah disebut. Nama Jawa Timur telah dibawa.

Dan pengalaman nasional telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Itulah mengapa masyarakat Bumi Majapahit patut memberikan apresiasi. Bukan karena Abdullah Faqih Suyuthi telah menjadi juara. Tetapi karena ia berani berangkat sebagai wakil daerah.

Piala Bisa Berpindah Tangan, Kebanggaan Tidak. Pada akhirnya, piala akan berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya. Nama juara akan tercatat dalam dokumen sejarah. Klasemen akan menjadi angka. Namun ada sesuatu yang lebih lama hidup, cerita tentang orang-orang yang pernah berjuang.

Abdullah Faqih Suyuthi mungkin belum membawa pulang trofi MTQ VIII KORPRI Nasional 2026. Belum rezekinya kali ini. Tetapi ia telah membawa pulang sesuatu yang tidak kalah penting, pengalaman. kehormatan dan kebanggaan.

Dari Sooko menuju Makassar. Dari Mojokerto menuju Jawa Timur.Dari ruang kelas menuju panggung nasional. Ia membawa Al-Qur’an dalam hafalannya. Ia membawa profesi guru dalam dirinya. Dan ia membawa nama Bumi Majapahit di dadanya. Tidak semua yang berangkat harus pulang sebagai juara.

Tetapi setiap putra daerah yang berani membawa nama tanah kelahirannya ke panggung nasional, telah menorehkan prestasi dengan caranya sendiri. Kali ini belum puncak. Tetapi perjalanan Abdullah Faqih Suyuthi belum selesai.



Writer : Arthur Smith 

Editor : Citra scholastika 

Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode