Bukan Sekadar Memilih Ketua Umum & Rais Am PBNU, Tetapi Menentukan Arah Peradaban ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Bukan Sekadar Memilih Ketua Umum & Rais Am PBNU, Tetapi Menentukan Arah Peradaban

-

Baca Juga


KH. MA' RUF AMIN Mustasyar PBNU 






Di setiap Muktamar Nahdlatul Ulama, perhatian publik hampir selalu tertuju pada satu pertanyaan.

Siapa yang akan menjadi Ketua Umum PBNU berikutnya?

Padahal, bagi para kiai, pertanyaan itu sesungguhnya belum menyentuh inti persoalan.

Yang jauh lebih penting adalah...

Ke mana Nahdlatul Ulama akan dibawa setelah Muktamar berakhir?

Pandangan itu sejalan dengan pesan Mustasyar PBNU, KH Ma'ruf Amin, yang berharap Muktamar mampu melahirkan kepemimpinan yang lebih baik serta memperkuat persatuan organisasi dalam menghadapi tantangan zaman.

Harapan tersebut bukan sekadar pergantian figur.

Melainkan kesinambungan kepemimpinan.

Transformasi organisasi.

Penguatan pelayanan umat.

Dan kemampuan NU menjawab tantangan abad ke-21.


DARI KH HASYIM ASY'ARI MENUJU ERA DIGITAL

Sejak didirikan tahun 1926, Nahdlatul Ulama telah melewati berbagai fase sejarah.

Masa kolonial.

Perjuangan kemerdekaan.

Demokrasi parlementer.

Orde Lama.

Orde Baru.

Era Reformasi.

Kini, satu abad setelah kelahirannya, NU memasuki tantangan baru yang sama sekali berbeda.

Bukan lagi mempertahankan kemerdekaan.

Melainkan mempertahankan relevansi.

Di tengah revolusi digital.

Kecerdasan buatan.

Ekonomi hijau.

Geopolitik dunia.

Disrupsi teknologi.

Dan perubahan perilaku generasi muda.

Di sinilah Muktamar memiliki makna strategis.


ROADMAP 25 TAHUN

Ketika Steering Committee Muktamar menyebut Muktamar ke-35 sebagai roadmap NU untuk 25 tahun ke depan, maknanya jauh melampaui pergantian kepengurusan lima tahunan.

Artinya, keputusan-keputusan yang lahir di Tambakberas berpotensi memengaruhi arah pengembangan pendidikan pesantren, pelayanan kesehatan warga, pemberdayaan ekonomi umat, dakwah digital, kaderisasi ulama, hubungan NU dengan negara, hingga kontribusi NU dalam percaturan dunia Islam.

Dengan kata lain, yang sedang dirancang bukan hanya kepemimpinan PBNU periode berikutnya, tetapi peta jalan organisasi menuju seperempat abad mendatang.


Pertanyaan yang layak diajukan kepada para calon pemimpin PBNU bukan hanya "Siapa yang menang?"

Tetapi juga. Bagaimana memperkuat tata kelola organisasi yang semakin kompleks?

Bagaimana menjaga kemandirian ekonomi warga nahdliyin?

Bagaimana memperkuat layanan pendidikan dan kesehatan di lingkungan NU?

Bagaimana memanfaatkan teknologi digital tanpa meninggalkan tradisi pesantren?

Bagaimana menyiapkan kader kepemimpinan untuk Indonesia Emas 2045?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan kualitas kepemimpinan PBNU setelah Muktamar.


DETAK EDITORIAL

"Tambakberas pernah menjadi saksi pertarungan di masa Majapahit. Kini, ia menjadi saksi pertarungan gagasan. Tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada darah yang tertumpah. Yang ada hanyalah ikhtiar para ulama merumuskan arah organisasi, menjaga tradisi, dan menyiapkan Nahdlatul Ulama menghadapi abad keduanya. Jika dahulu kemenangan ditentukan oleh kekuatan senjata, maka di Muktamar ke-35 kemenangan sejati akan diukur dari kemampuan melahirkan kepemimpinan yang amanah, profesional, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa tercerabut dari akar pesantren."






Writer : Dara Jingga 

Editor: Pamugas Dharmapraja 


Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode