DARI BUMI MAJAPAHIT KE MAKASSAR. Suara Al-Qur’an di Tengah Hiruk-Pikuk Negeri ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

DARI BUMI MAJAPAHIT KE MAKASSAR. Suara Al-Qur’an di Tengah Hiruk-Pikuk Negeri

-

Baca Juga


PELEPASAN ABDULLAH FAQIH SUYUTHI PESERTA MTQ KORPRI VIII DI MAKASSAR OLEH MUHAMMAD ALBARRA BUPATI MOJOKERTO.




Abdullah Faqih Suyuthi, Guru SMKN 1 Sooko, Membawa Nama Jawa Timur ke MTQ VIII KORPRI Nasional 2026



MOJOKERTO — Ada hari-hari ketika Indonesia terasa begitu riuh.

Kamis, 27 Agustus 2026, misalnya.

Di Jombang, Jawa Timur, ribuan warga Nahdlatul Ulama berkumpul dalam denyut besar Muktamar NU ke-35. Di Jakarta, suara massa memenuhi ruang publik dan kawasan sekitar gedung parlemen.

Sementara ribuan kilometer dari hiruk-pikuk itu, di Makassar dan Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, berlangsung sebuah peristiwa dengan suara yang berbeda.

Bukan suara pengeras demonstrasi.

Bukan pula riuh perdebatan politik.

Melainkan suara ayat-ayat Al-Qur'an.

Di panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) VIII KORPRI Tingkat Nasional 2026, seorang guru dari Kabupaten Mojokerto berdiri membawa nama Jawa Timur.

Namanya Abdullah Faqih Suyuthi.

Guru SMKN 1 Sooko Kabupaten Mojokerto itu tampil pada cabang Hafalan Surah Ali Imran Putra.

Namanya tercatat dalam dokumen hasil seleksi MTQ KORPRI Provinsi Jawa Timur 2026. Ia bukan sekadar datang sebagai peserta. Ia melewati proses seleksi untuk menjadi bagian dari kafilah Jawa Timur di panggung nasional.

Di situlah kisah ini menjadi lebih dari sekadar perlombaan.

SATU NAMA, SATU KABUPATEN, SATU HARAPAN

Abdullah Faqih Suyuthi datang ke Makassar membawa sesuatu yang tidak terlihat dalam koper perjalanan.

Harapan.

Harapan dari keluarga.

Harapan dari lingkungan tempat ia mengajar.

Harapan dari Kabupaten Mojokerto.

Dan, lebih jauh lagi, nama Jawa Timur.

Bagi seorang guru, kompetisi semacam ini memiliki makna ganda.

Ia membawa kemampuan personal sebagai seorang qori’ dan penghafal Al-Qur’an, tetapi pada saat yang sama ia membawa identitas sebagai aparatur pendidikan.

Karena itulah MTQ KORPRI memiliki dimensi yang berbeda.

KORPRI menempatkan MTQ bukan hanya sebagai arena mencari juara, tetapi sebagai bagian dari pembinaan mental-spiritual ASN.

Ketua Umum DPN KORPRI Prof. Zudan Arif Fakrullah bahkan menegaskan bahwa MTQ merupakan ruang untuk membumikan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan birokrasi, kejujuran, amanah, tanggung jawab dan ketakwaan.

Maka, hafalan ayat tidak berhenti pada kemampuan mengingat teks.

Ia diuji lebih jauh.

Apakah nilai yang dihafal juga hidup dalam perilaku?

Pertanyaan itulah yang membuat MTQ KORPRI memiliki dimensi kebudayaan.

DARI MOJOKERTO, BUKAN PERTAMA KALI

Abdullah Faqih Suyuthi bukan nama baru dalam dunia musabaqah.

Jejaknya sudah tercatat dalam MTQ Jawa Timur.

Pada MTQ Jatim XXIX di Pamekasan, ia meraih Juara III Qira’at Murattal Dewasa Putra dengan nilai 94,0 sebagai wakil Kabupaten Mojokerto.

Namanya juga tercatat dalam daftar peserta Kabupaten Mojokerto pada kompetisi tersebut.

Dengan demikian, perjalanan menuju Makassar 2026 bukan perjalanan seorang peserta yang muncul tiba-tiba.

Ada proses.

Ada pengalaman.

Ada kompetisi.

Dan ada tradisi panjang.

Bahkan jauh sebelum MTQ VIII KORPRI 2026, Kabupaten Mojokerto telah mencatat prestasi di arena MTQ KORPRI tingkat nasional.

Pada MTQ V KORPRI 2021 di Sulawesi Tenggara, Fatkhurrohman meraih Juara I Hafalan Juz 30/Juz Amma, sementara Suut Amim meraih Juara II Hafalan Surah Al-Baqarah.

Nama-nama itu memperlihatkan bahwa Mojokerto mempunyai ekosistem talenta Al-Qur’an yang telah berulang kali masuk ke arena kompetisi nasional.

Dan kini, giliran Abdullah Faqih Suyuthi.

MAKASSAR PANGGUNG BESAR PARA ASN

MTQ VIII KORPRI 2026 bukan festival kecil.

KORPRI mencatat 1.173 peserta dari 38 provinsi serta 77 kementerian dan lembaga. Jumlah tersebut menjadi rekor peserta sepanjang sejarah MTQ KORPRI.

Penyelenggaraan berlangsung di Makassar dan Kabupaten Pangkep.

Rangkaian musabaqah berlangsung 25–27 Agustus 2026, sedangkan babak final dijadwalkan pada 28 Agustus.

Artinya, Kamis 27 Agustus menjadi hari penting.

Hari ketika para peserta berjuang memastikan apakah perjalanan mereka berhenti di babak penyisihan atau berlanjut menuju panggung final.

Di antara mereka terdapat satu nama dari Bumi Majapahit.

Abdullah Faqih Suyuthi.


AL-QUR’AN DAN IDENTITAS BUMI MAJAPAHIT

Mojokerto sering dibaca melalui masa lalunya.

Majapahit.

Trowulan.

Candi.

Petirtaan.

Jejak kerajaan besar Nusantara.

Tetapi kebudayaan sebuah daerah tidak pernah hanya terdiri atas batu bata peninggalan masa lampau.

Kebudayaan juga hidup melalui manusia yang mengisi zamannya.

Al-Qur’an yang dibaca dan dihafalkan.

Guru yang mengajarkan ilmu.

Santri yang belajar.

ASN yang bekerja.

Masyarakat yang menjaga tradisi keagamaan.

Di situlah Abdullah Faqih Suyuthi menjadi simbol kecil dari wajah Mojokerto hari ini.

Bumi Majapahit yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi terus memproduksi manusia dengan prestasi.

Jika pada masa lalu Mojokerto dikenal sebagai salah satu pusat peradaban besar Nusantara, maka pada zaman sekarang kebanggaan itu dapat menemukan bentuk baru, pendidikan, kompetensi, spiritualitas dan prestasi anak daerah.


BUKAN SEKADAR MENGEJAR PIALA

Ada kecenderungan setiap kompetisi diukur dari satu hal,

juara atau tidak.

Padahal perjalanan Abdullah Faqih Suyuthi menuju Makassar mengandung ukuran yang lebih panjang.

Ia adalah seorang guru.

Ia menjadi peserta seleksi.

Ia lolos menjadi wakil Jawa Timur.

Ia berdiri di antara ratusan bahkan ribuan ASN terbaik dari seluruh Indonesia.

Dan ia membawa nama Kabupaten Mojokerto ke panggung nasional.

Piala adalah hasil.

Tetapi keberanian untuk tampil membawa nama daerah adalah proses.

Dalam konteks MTQ KORPRI, proses itu bahkan memiliki pesan lebih besar.

KORPRI sendiri menyebut MTQ sebagai bagian dari upaya membangun budaya Qur'ani di lingkungan ASN.

Dengan demikian, keberadaan Abdullah Faqih Suyuthi di Makassar sesungguhnya mempertemukan tiga identitas, guru, ASN dan penjaga tradisi Al-Qur’an.


DARI BUMI MAJAPAHIT KE MAKASSAR

Ada jarak geografis yang panjang antara Mojokerto dan Makassar.

Namun bagi Abdullah Faqih Suyuthi, jarak itu dipendekkan oleh satu hal,

pengabdian.

Dari ruang kelas SMKN 1 Sooko menuju panggung nasional.

Dari Kabupaten Mojokerto menuju Jawa Timur.

Dari Bumi Majapahit menuju Sulawesi Selatan.

Dan dari hafalan ayat menuju harapan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an tidak berhenti di bibir.

Ia masuk ke ruang kelas.

Masuk ke kantor pemerintahan.

Masuk ke pelayanan publik.

Dan akhirnya, masuk ke kehidupan masyarakat.

Itulah alasan MTQ KORPRI tidak seharusnya hanya dibaca sebagai lomba.

Ia adalah bagian dari perjalanan kebudayaan ASN Indonesia.


HARI INI, MOJOKERTO MENUNGGU

Kamis, 27 Agustus 2026.

Di Mojokerto, orang-orang menjalankan aktivitas seperti biasa.

Di Jombang, Muktamar NU ke-35 terus bergerak.

Di Jakarta, dinamika politik dan aksi massa menjadi perhatian nasional.

Dan di Makassar, seorang putra Bumi Majapahit tengah memperjuangkan hafalan ayat-ayat Al-Qur’an.

Namanya Abdullah Faqih Suyuthi.

Tidak ada panggung politik di belakangnya.

Tidak ada slogan besar.

Hanya Al-Qur’an, kemampuan yang ditempa, dan nama daerah yang dibawanya.

Jika langkahnya berlanjut ke final, dukungan dari Mojokerto pun disiapkan untuk hadir langsung di Makassar.

Karena bagi masyarakat Bumi Majapahit, perjuangan seorang putra daerah di panggung nasional bukan perkara kecil.

Ia adalah kebanggaan.

Dan barangkali, pada akhirnya, inilah makna paling sederhana dari sebuah kafilah.

Satu orang berjalan.

Tetapi seluruh daerah merasa ikut berjalan bersamanya.

Dari Mojokerto, suara itu berangkat.

Menuju Makassar.

Membawa Al-Qur’an.

Membawa Jawa Timur.

Membawa nama Bumi Majapahit.





Writer : Dara Jingga 

Editor : Clara Adelin 


Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode