DARI GELANGGANG MENUJU KHIDMAH. Pendekar Pagar Nusa, Menjaga Muktamar dan Merawat Tradisi NU
-Baca Juga
Gus Makruf Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dari Fraksi PAN
Kiai dijaga pendekar. Pendekar ditempa kiai.
Sabtu, 15 Agustus 2026, suasana di kawasan Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, diperkirakan tidak sekadar dipenuhi persiapan teknis menyambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
Di sebuah gedung, ribuan pesilat bersiap mengikuti ijazah kubro, gemblengan dan apel pendekar Pagar Nusa.
Seragam silat akan memenuhi ruangan. Barisan pendekar dirapikan. Disiplin diuji. Doa dan ijazah menjadi bagian dari prosesi.
Namun mereka bukan sedang bersiap menuju sebuah pertandingan.
Mereka sedang bersiap berkhidmah.
Muktamar ke-35 NU akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026. Forum ini merupakan musyawarah tertinggi NU yang mempertemukan utusan dari berbagai penjuru Nusantara untuk menentukan arah organisasi lima tahun mendatang.
Di tengah kesibukan panitia, Banser dan berbagai unsur pengamanan, Pagar Nusa mengambil ruangnya sendiri.
Bukan untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.
Melainkan memastikan para kiai, masyayikh dan muktamirin dapat menjalankan agenda dengan aman, tertib dan nyaman.
Ketika kekuatan memilih jalan pengabdian
Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto, Gus Makruf, mengatakan konsolidasi terus dilakukan.
Anggota dari 18 kecamatan se-Kabupaten Mojokerto masih didata sebelum barisan diberangkatkan menuju Jombang.
Mereka tidak hanya dipersiapkan sebagai personel pengamanan.
Posko pengamanan sekaligus pelayanan juga disiapkan di sekitar kawasan Muktamar. Posko tersebut nantinya menjadi titik koordinasi dan layanan informasi bagi peserta yang membutuhkan bantuan.
Di sinilah makna seorang pendekar mengalami perubahan.
Pendekar bukan sekadar orang yang mampu bertarung.
Ia justru diuji ketika mampu menahan diri.
Kekuatan fisik menjadi instrumen terakhir. Sedangkan ketertiban, kesabaran, disiplin dan penghormatan kepada ulama menjadi kekuatan pertama.
Karena itu, sebelum memasuki arena pengabdian, ribuan pendekar harus terlebih dahulu menjalani proses ijazah kubro dan gemblengan.
Sebuah pesan tersirat seperti sedang disampaikan.
Sebelum menjaga orang lain, seorang pendekar harus mampu menjaga dirinya sendiri.
Lima ribu pendekar dan satu tekad
Tak kurang dari 5.000 pendekar dari 38 PC Pagar Nusa se-Jawa Timur disebut disiapkan mengikuti kegiatan gemblengan dan apel pesilat di GSG Hasbullah Said Tambakberas.
Para kiai dan masyayikh juga dijadwalkan hadir dalam ijazah kubro.
Nama-nama seperti KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq, KH Chusaini Ilyas, KH Azim Choiruman dan KH Maksum Tajid disebut akan memberikan penguatan spiritual dalam rangkaian tersebut.
Bagi para pesilat, kehadiran mereka bukan sekadar seremoni.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
Ilmu bela diri membutuhkan kendali.
Kekuatan membutuhkan adab.
Dan pengabdian membutuhkan niat.
Itulah mengapa Pagar Nusa tidak tepat dibaca hanya sebagai organisasi pencak silat.
Pagar Nusa sendiri menjelaskan bahwa organisasinya merupakan wadah pencak silat di bawah naungan NU yang bergerak dalam seni, budaya, olahraga pencak silat, ketabiban dan pengabdian masyarakat.
JEJAK YANG KEMBALI KE JOMBANG
Ada ironi sejarah yang menarik.
Pagar Nusa lahir dari kegelisahan para kiai dan aktivis pencak silat NU karena tradisi bela diri di lingkungan pesantren mulai surut.
Pada 27 September 1985, para kiai dan pendekar berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Mereka membicarakan perlunya sebuah wadah yang dapat menaungi aktivitas pencak silat di lingkungan NU.
Beberapa bulan kemudian, 3 Januari 1986, musyawarah berlanjut di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Di sanalah organisasi pencak silat NU resmi dibentuk dengan KH Abdulloh Maksum Jauhari atau Gus Maksum sebagai ketua umum pertama.
Maka sejarah Pagar Nusa sebenarnya memiliki hubungan yang sangat kuat dengan tanah Jombang.
Tebuireng menjadi salah satu titik penting embrio gerakannya.
Dan kini, 40 tahun kemudian, ribuan pendekar kembali berkumpul di Jombang.
Bukan untuk mengulang masa lalu.
Tetapi untuk meneruskan sebuah tradisi.
PESANTREN, SILAT DAN KULTUR NU
Dulu, pesantren bukan hanya tempat santri mengaji kitab.
Dalam sejarah pesantren, kehidupan santri juga bersentuhan dengan berbagai keterampilan, termasuk bela diri.
Pagar Nusa mencatat bahwa pencak silat pernah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pesantren. Bahkan sejumlah kiai pengasuh pesantren juga dikenal memiliki kemampuan pencak silat.
Di titik inilah pencak silat tidak lagi semata-mata berbicara mengenai teknik menyerang dan bertahan.
Ia bersinggungan dengan akhlak, disiplin, persaudaraan dan spiritualitas.
Tubuh dilatih.
Mental ditempa.
Tetapi hati harus tetap tunduk kepada nilai.
Itulah sebabnya tradisi gemblengan menjadi penting.
Seorang pesilat tidak hanya dituntut mampu berdiri kokoh menghadapi lawan.
Ia harus mampu berdiri kokoh menghadapi amarahnya sendiri.
TAMBAKBERAS KETIKA SEJARAH DAN MASA DEPAN BERTEMU
Tambakberas bukan lokasi yang dipilih secara kebetulan.
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas memiliki posisi historis dalam perjalanan NU dan didirikan oleh salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah. PBNU menetapkan pesantren ini sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 melalui rapat gabungan Syuriyah-Tanfidziyah pada 7 Juli 2026.
Dengan demikian, Muktamar ke-35 membawa dua lapisan sekaligus.
Lapisan pertama adalah organisasi.
Di dalam forum Muktamar, para utusan akan bermusyawarah mengenai masa depan NU.
Lapisan kedua adalah sejarah.
Para muktamirin datang ke lingkungan pesantren yang mempunyai akar kuat dalam perjalanan NU.
Dan di luar arena persidangan, ribuan pendekar berdiri menjaga agar seluruh rangkaian berlangsung tertib.
Seolah-olah sebuah pesan sedang dipentaskan kembali.
Ilmu berada di dalam forum.
Tradisi hidup di pesantren.
Pendekar menjaga ruangnya.
Dan seluruhnya bertemu dalam satu kata: khidmah.
PENDEKAR YANG TIDAK MENCARI PERTARUNGAN
Ada kesalahpahaman yang harus diluruskan.
Ketika ribuan pesilat berkumpul dalam sebuah kegiatan besar, imajinasi publik kadang langsung menuju pada pertarungan.
Padahal justru sebaliknya.
Dalam konteks pengamanan Muktamar, kekuatan Pagar Nusa idealnya menjadi kekuatan preventif.
Membantu mengatur.
Mengarahkan.
Memberikan informasi.
Membantu ketika ada peserta yang kesulitan.
Menjaga jalur pergerakan.
Dan memastikan para kiai dapat menjalankan aktivitas tanpa gangguan.
Karena ukuran keberhasilan seorang pendekar dalam situasi seperti ini bukan berapa banyak orang yang berhasil ia kalahkan.
Tetapi berapa banyak persoalan yang berhasil ia cegah sebelum menjadi masalah.
Itulah seni tertinggi menjaga keamanan.
Gus Makruf Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto Dari Fraksi PAN
