DARI WARISAN ULAMA KE ARENA PRESTASI. Pagar Nusa Mojokerto Menyusun Generasi Pesilat Nusantara
-
Baca Juga
Gus Makruf Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto Masa Khidmat 2026 -2031 (pencak silat) dan Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H. Muchid, Ketua Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jawa Timur Gus Solahuddin dan Pimpinan Pagar Nusa Pusat,Gus Edy Junaedy dan undangan lainnya
MOJOKERTO — Matahari menyengat sejak Minggu pagi, 23 Agustus 2026. Angin berembus cukup kencang di kawasan Sooko.
Di lantai dua Kantor PCNU Kabupaten Mojokerto di kawasan RA Basoeni, suasana justru semakin hidup. Para pendekar, pesilat, pengurus organisasi dan undangan berkumpul dalam satu momentum, pelantikan Pengurus Pimpinan Cabang Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto masa khidmat 2026–2031.
Koreo pencak silat menjadi bagian dari rangkaian acara.
Gerak tubuh para pesilat, hentakan kaki dan rangkaian jurus seolah membawa satu pesan sederhana, pencak silat bukan sekadar olahraga.
Ia adalah warisan budaya yang hidup.
Dan pagi itu, warisan tersebut sedang mencari masa depan baru di Kabupaten Mojokerto.
BUKAN SEKADAR SEREMONI
Kepengurusan baru Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto dipimpin Gus Makruf.
Pelantikan tersebut dihadiri Pimpinan Pusat Pagar Nusa yang diwakili Gus Edy Junaedy, Ketua Pagar Nusa Jawa Timur Gus Solahuddin, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H. Muchid, Majelis Pendekar Pagar Nusa, Ketua KONI Kabupaten Mojokerto Imam Suyono, Ketua IPSI Kabupaten Mojokerto, unsur Forkopimda, Forkopimcam Sooko serta sejumlah badan otonom NU dan undangan lainnya.
Namun, yang lebih penting dari susunan kursi dan prosesi pelantikan adalah pekerjaan setelah acara selesai.
Bagaimana Pagar Nusa Mojokerto melahirkan atlet?
Pertanyaan itu muncul karena dunia pencak silat modern tidak cukup hanya mengandalkan tradisi.
Tradisi harus bertemu pembinaan.
Pembinaan harus bertemu kompetisi.
Dan kompetisi harus menghasilkan prestasi.
Pesan tersebut secara tegas disampaikan Pimpinan Pusat Pagar Nusa, Gus Edy Junaedy.
Ia meminta kepengurusan baru memperbanyak kejuaraan untuk meningkatkan jam terbang para pesilat sekaligus menemukan talenta baru.
Pagar Nusa Mojokerto juga didorong memiliki padepokan yang representatif.
“Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto harus meningkatkan prestasi atlet dengan banyak melakukan kejuaraan untuk menambah jam terbang atlet dan mencari padepokan yang representatif,” kata Gus Edy.
Di sinilah persoalan mulai bergeser dari organisasi menuju ekosistem olahraga.
Atlet membutuhkan tempat berlatih.
Mereka membutuhkan pelatih.
Mereka membutuhkan kompetisi.
Dan ketika prestasi mulai muncul, mereka membutuhkan dukungan pembiayaan.
PESILAT DAN PERSOALAN KLASIK SIAPA YANG MEMBIAYAI?
Gus Edy melihat masih adanya persoalan klasik dalam pembinaan pesilat Pagar Nusa.
Banyak atlet selama ini bertanding dengan dukungan terbatas dan semangat kemandirian.
Padahal, perjalanan menuju prestasi nasional bahkan internasional membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Mulai dari latihan, perlengkapan, transportasi, akomodasi, mengikuti kejuaraan hingga pemulihan dan layanan kesehatan.
Karena itu, Gus Edy mendorong lahirnya pola bapak asuh atlet.
“Setidaknya pengurus bisa mencarikan bapak asuh untuk talenta Pagar Nusa, seperti cabang olahraga lainnya,” ujarnya.
Gagasan tersebut menarik karena mempertemukan tiga kekuatan sekaligus organisasi, dunia usaha dan olahraga.
Apalagi Gus Makruf memiliki latar belakang sebagai politisi sekaligus entrepreneur.
Tantangannya adalah bagaimana posisi tersebut diterjemahkan menjadi dukungan konkret untuk atlet.
Bukan sekadar dukungan seremonial.
SEPTEMBER UJIAN PERTAMA
Pagar Nusa Mojokerto tidak memiliki waktu panjang untuk berbenah.
September 2026, Pagar Nusa Jawa Timur akan menggelar Kejuaraan Wilayah di Banyuwangi.
Kejurwil menjadi momentum penting untuk mencari bibit pesilat yang diproyeksikan menuju kompetisi tingkat nasional dan internasional.
Ketua Pagar Nusa Jawa Timur Gus Solahuddin meminta kepengurusan baru Mojokerto segera mempersiapkan atlet.
Sebab peta kekuatan Pagar Nusa Jawa Timur masih cukup berat.
Surabaya, Sidoarjo dan Gresik disebut menjadi salah satu barometer kekuatan atlet Pagar Nusa di tingkat provinsi.
“Sejauh ini barometer atlet pencak silat Pagar Nusa masih didominasi Surabaya, Sidoarjo dan Gresik di tingkat Jawa Timur,” ungkap Gus Solahuddin.
Mojokerto kini mendapat tantangan.
Bukan hanya ikut bertanding.
Tetapi mulai menggeser posisi dari sekadar peserta menjadi pesaing.
PESANTREN, PENCAK SILAT DAN IDENTITAS
Di lingkungan NU, pencak silat memiliki ruang budaya yang tidak bisa dipisahkan begitu saja dari kehidupan pesantren.
Pagar Nusa berkembang sebagai wadah pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Di dalamnya terdapat dimensi olahraga, pembinaan mental, kedisiplinan, persaudaraan dan tradisi.
Karena itu, ketika seorang pesilat memasuki gelanggang, yang dibawa bukan hanya kemampuan fisik.
Ada nilai yang melekat di balik setiap gerakan.
Ada etika.
Ada penghormatan kepada guru.
Ada disiplin.
Ada persaudaraan.
Dan ada kesadaran bahwa kemampuan bela diri tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab sosial.
Dalam konteks Mojokerto, narasi tersebut memperoleh ruang historis yang menarik.
Wilayah ini berada di kawasan yang memiliki jejak panjang sejarah Jawa dan Majapahit.
Tetapi pencak silat tidak boleh dipaksa menjadi sekadar ornamen sejarah.
Justru tantangannya adalah bagaimana generasi sekarang merawat warisan budaya itu dalam bentuk yang relevan dengan zaman.
Gelanggang menjadi salah satu ruangnya.
Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H. Muchid
PCNU JANGAN ADA SEKAT
Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H. Muchid memberikan pesan yang tidak kalah penting.
Ia meminta pesilat Pagar Nusa tidak terjebak dalam sekat antar perguruan.
Pencak silat memiliki banyak perguruan dan aliran.
Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kekayaan, bukan sumber gesekan.
“Sudah waktunya pesilat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto mengharumkan Kabupaten Mojokerto dengan prestasi olahraga,” tegas H. Muchid.
Pesan itu menempatkan pencak silat dalam perspektif yang lebih luas.
Pagar Nusa boleh memiliki identitas organisasinya sendiri.
Tetapi ketika pesilat memasuki gelanggang pertandingan, yang dibawa juga nama Kabupaten Mojokerto.
Gus Makruf Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto
GUS MAKRUF MEMULAI DARI BAWAH
Gus Makruf mengatakan konsolidasi organisasi telah dilakukan sejak dirinya menerima SK kepengurusan.
Komunikasi dilakukan hingga tingkat kecamatan.
Tujuannya bukan sekadar merapikan struktur organisasi, tetapi memetakan kekurangan dalam pembinaan dan pencarian bibit atlet.
“Kita akan berjuang bersama menciptakan atlet tangguh dan berprestasi serta menjaga marwah pencak silat sebagai budaya bangsa dan warisan ulama NU,” tutur Gus Makruf.
Kalimat tersebut menjadi garis besar arah kepengurusan baru.
Prestasi tidak boleh mematikan tradisi.
Sebaliknya, tradisi harus menjadi fondasi bagi lahirnya prestasi.
ATLET JUGA BUTUH PERLINDUNGAN KESEHATAN
Ada satu langkah lain yang menarik.
Kepengurusan Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto melakukan kerja sama dengan RSI Sakinah Sooko Mojokerto dalam bidang kesehatan pesilat.
Langkah ini terlihat sederhana.
Tetapi dalam olahraga prestasi, kesehatan atlet merupakan bagian penting dari sistem pembinaan.
Atlet bukan sekadar mesin pertandingan.
Mereka adalah manusia yang membutuhkan pemeriksaan, penanganan cedera dan dukungan kesehatan.
Dengan demikian, pembinaan mulai bergerak menuju pendekatan yang lebih komprehensif.
DARI JURUS KE MEDALI
Pagi itu, angin kencang berembus di luar gedung.
Di dalam ruangan, pelantikan selesai.
Karangan bunga ucapan selamat berdiri di sekitar lokasi.
Prosesi telah usai.
Tetapi pekerjaan Pagar Nusa Mojokerto baru dimulai.
Ada Kejurwil Banyuwangi yang menunggu.
Ada target prestasi Jawa Timur.
Ada mimpi menuju tingkat nasional.
Bahkan internasional.
Dan ada pertanyaan yang jauh lebih besar.
Mampukah Pagar Nusa Mojokerto mengubah kekayaan tradisi menjadi kekuatan olahraga?
Jawabannya tidak akan terlihat dari panggung pelantikan.
Jawabannya akan terlihat di padepokan.
Di ruang latihan.
Di keringat para pesilat.
Di gelanggang pertandingan.
Dan akhirnya, di papan perolehan medali.
Sebab warisan budaya hanya akan tetap hidup jika generasi berikutnya mampu merawatnya.
Dan dalam olahraga, cara paling nyata untuk menunjukkan bahwa sebuah tradisi masih hidup adalah membawanya ke gelanggang dan memenangkan pertandingan dengan kehormatan.