GUS KIKIN KETUA UMUM PBNU 2026 - 2031
Dari canda bersama Presiden Prabowo di panggung Tambakberas, suara 472 dalam tabulasi, hingga Qanun Asasi sebagai kompas NU memasuki abad kedua.
Presiden Prabowo Subianto menunjukkan Kartu Keanggotaan Organisasi Nahdlatul Ulama
TAMBAKBERAS, JOMBANG — 31 AGUSTUS 2026
Panggung penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama terasa berbeda.
Tidak ada lagi ketegangan perebutan kepemimpinan.
Tidak ada lagi kalkulasi siapa mendapat berapa suara.
Tidak ada lagi tanda tanya siapa yang akan duduk di kursi Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.
Jawabannya sudah ada.
KH Abdul Hakim Mahfudz.
Orang-orang memanggilnya Gus Kikin.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu kini berdiri di hadapan para muktamirin sebagai Ketua Umum PBNU terpilih.
Di sampingnya ada KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU terpilih.
Di hadapan mereka, Presiden Prabowo Subianto.
Dan Gus Kikin memilih untuk tidak memulai pidatonya dengan kalimat-kalimat besar.
Ia justru bercanda.
Tentang angka.
Tentang tanggal lahir.
Tentang Tebuireng.
Tentang Presiden.
Lalu tentang nasib.
Muktamirin tertawa.
Tetapi di balik tawa itulah, seorang Ketua Umum baru sedang memperkenalkan dirinya.
“KOK BANYAK YANG COCOK DENGAN BAPAK…”
Gus Kikin melihat ke arah Presiden Prabowo.
Ia mengingatkan bahwa Prabowo hadir dua kali dalam Muktamar ke-35, pada pembukaan dan penutupan.
“Baru kali ini terjadi,” kira-kira demikian suasana yang ia bangun.
Kemudian keluarlah cerita tentang angka 8.
Tanggal kelahirannya 17.
1 + 7 = 8.
Bulannya juga 8.
Tahun kelahirannya 1958.
Dan satu lagi,
ia dipercaya menjadi pengasuh Tebuireng yang ke-8.
Gus Kikin kemudian menghubungkan rangkaian angka tersebut dengan Prabowo.
Lalu ditutup dengan kalimat yang membuat suasana pecah oleh tawa,
“Mungkin tinggal nasibnya yang beda.”
Humor sederhana.
Namun justru di situlah sisi manusia Gus Kikin terlihat.
Ia tidak sedang berbicara sebagai birokrat.
Bukan pula sedang membacakan manifesto politik.
Ia tampil sebagai kiai pesantren yang sedang menerima amanah besar, tetapi tetap mampu mencairkan suasana.
DI BALIK JUBAH KETUA UMUM, ADA SEORANG GUS YANG BERCANDA
Ada sesuatu yang sering hilang ketika seorang tokoh memasuki panggung organisasi nasional,
manusianya.
Publik biasanya hanya melihat jabatan.
Ketua Umum.
Pengasuh pesantren.
Mantan Ketua PWNU.
Tokoh NU.
Tetapi Muktamar memperlihatkan sisi lain Gus Kikin.
Ia bisa serius membicarakan masa depan NU.
Tetapi beberapa detik kemudian membuat ribuan orang tertawa.
Ini bukan sekadar persoalan gaya bicara.
Dalam kepemimpinan organisasi sebesar NU, kemampuan mencairkan suasana adalah modal sosial.
Sebab NU bukan organisasi yang hidup hanya dalam ruang rapat.
Ia hidup di pesantren.
Di masjid.
Di madrasah.
Di warung kopi.
Di pengajian kampung.
Di tengah keluarga Nahdliyin.
Di tengah masyarakat desa maupun kota.
Dan bahasa yang terlalu formal sering kali menciptakan jarak.
Gus Kikin tampaknya memahami itu.
DARI TAWA MENUJU AMANAH
Namun setelah tawa reda, nada pidato berubah.
Gus Kikin mulai berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih berat,
persatuan.
Ia mengajak NU memperkuat ukhuwah ketika memasuki abad kedua perjalanan organisasi.
Di sinilah sosok Gus Kikin yang tadi tampil ringan mulai memperlihatkan sisi lain.
Seorang pengasuh pesantren yang sadar bahwa kursi Ketua Umum PBNU bukan hadiah.
Ia adalah amanah.
Amanah yang membawa konsekuensi kepada jutaan warga NU.
Amanah yang harus dipikul bersama Rais Aam.
Amanah yang harus diterjemahkan oleh PBNU sampai ke struktur paling bawah.
Dan amanah yang pada akhirnya akan diuji bukan oleh tepuk tangan Muktamar.
Melainkan oleh lima tahun kerja.
DOKUMEN LAMA, MASA DEPAN BARU
Di tengah pidato pertamanya, Gus Kikin membawa satu nama yang mungkin jauh lebih penting daripada angka 8,
QANUN ASASI.
Dokumen dasar yang disusun KH Hasyim Asy'ari pada masa awal NU.
Bagi Gus Kikin, dokumen tersebut bukan sekadar peninggalan sejarah.
Ia ingin menjadikannya sebagai salah satu pedoman NU memasuki abad kedua.
Di sinilah sisi human interest berubah menjadi human philosophy.
Seorang cucu tradisi pesantren berbicara tentang masa depan dengan menengok dokumen yang lahir hampir satu abad lalu.
Ada paradoks.
Dunia berubah sangat cepat.
Teknologi berubah.
Media sosial berubah.
Ekonomi berubah.
Politik berubah.
Generasi muda berubah.
Tetapi Gus Kikin justru bertanya.
Apa yang tidak boleh berubah dari NU?
Jawabannya ia cari dari akar.
TEBUIRENG RUMAH YANG MEMBENTUK GUS KIKIN
Untuk memahami Ketua Umum PBNU baru, mungkin kita tidak cukup membaca riwayat organisasinya.
Kita perlu melihat rumah tempat nilai-nilai itu tumbuh.
Tebuireng.
Pesantren bukan hanya tempat seseorang belajar kitab.
Pesantren adalah tempat seseorang belajar menjadi manusia.
Belajar menghormati yang lebih tua.
Belajar menerima perbedaan.
Belajar hidup bersama.
Belajar menahan diri.
Belajar bahwa ilmu tanpa akhlak kehilangan makna.
Dari lingkungan seperti itulah Gus Kikin datang ke panggung nasional.
Maka ketika ia berbicara tentang ukhuwah dan persatuan, kata-kata itu memiliki konteks kehidupan pesantren.
Ia tidak sedang menawarkan slogan baru.
Ia sedang membawa nilai yang sudah lama hidup dalam kultur pesantren ke panggung PBNU.
472 ANGKA YANG MEMBAWA GUS KIKIN KE PANGGUNG
Beberapa jam sebelum keputusan final, sebuah angka lain telah lebih dulu berbicara.
472.
Itulah jumlah usulan yang menempatkan Gus Kikin sebagai nama teratas dalam tabulasi calon Ketua Umum PBNU.
Total tabulasi mencapai 2.397 suara.
Di bawah Gus Kikin terdapat empat nama lainnya.
Namun angka 472 bukanlah tiket otomatis menuju kursi Ketua Umum.
Muktamar menggunakan mekanisme yang kemudian membawa proses ke AHWA.
Di situlah karakter kepemimpinan NU terlihat.
Aspirasi dikumpulkan.
Nama disaring.
Ulama bermusyawarah.
Keputusan diambil secara mufakat.
Dan nama Gus Kikin akhirnya muncul sebagai Ketua Umum PBNU.
Jadi perjalanan Gus Kikin dapat dibaca dalam dua kata,
ASPIRASI DAN AMANAH.
MOMEN PRABOWO ANTARA KEDEKATAN DAN KEBANGSAAN
Ada satu adegan lain yang akan menjadi foto ikonik Muktamar ke-35.
Gus Kikin berdiri di panggung bersama Presiden Prabowo.
Presiden hadir dua kali.
Pembukaan dan penutupan.
Kemudian Gus Kikin menyampaikan candaan tentang kecocokan angka 8.
Bagi pembaca biasa, itu mungkin hanya humor.
Bagi pembaca politik, ada pesan yang lebih menarik.
NU dan pemerintah sedang membuka ruang hubungan yang konstruktif.
Tetapi hubungan konstruktif tidak harus berarti kehilangan independensi.
Justru tantangan Gus Kikin adalah menjaga keseimbangan,
dekat dengan negara tanpa menjadi subordinat negara.
kritis tanpa kehilangan etika.
bekerja sama tanpa kehilangan identitas.
Itulah salah satu ujian terbesar kepemimpinan PBNU 2026–2031.
DARI KOLONIALISME KE ABAD KEDUA
Gus Kikin kemudian membawa muktamirin kembali ke masa lalu.
Masa ketika NU lahir dalam suasana kolonial Belanda.
Saat itu, NU bukan organisasi kecil yang tidak diperhitungkan.
Ia tumbuh dengan kekuatan ulama, pesantren dan masyarakat.
Dan dari sejarah itu Gus Kikin mengambil pelajaran, kekuatan NU selalu bertumpu pada persatuan.
Karena itu, memasuki abad kedua, ia tidak ingin NU kehilangan modal tersebut.
Bukan sekadar besar secara jumlah.
Tetapi kuat secara jamaah.
Bukan sekadar mempunyai struktur.
Tetapi mempunyai ruh.
Bukan sekadar mempunyai jabatan.
Tetapi mempunyai khidmah.
THE HUMAN SIDE OF LEADERSHIP
Di sinilah sosok Gus Kikin menjadi menarik untuk dibaca.
Ia datang dari dunia pesantren.
Menjadi pengasuh Tebuireng.
Kemudian memimpin PWNU Jawa Timur.
Kini dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU.
Jalur itu menunjukkan satu hal,
kepemimpinan tidak selalu lahir dari panggung yang gaduh.
Kadang ia tumbuh perlahan.
Dari pesantren.
Dari ruang pengajian.
Dari organisasi.
Dari kepercayaan.
Kemudian suatu hari seseorang diminta berdiri di panggung nasional.
Dan ketika amanah itu diberikan, ia justru memilih bercanda tentang angka kelahiran.
Itulah Gus Kikin.
Ada keseriusan.
Ada kesederhanaan.
Ada sejarah.
Ada humor.
Dan ada beban yang sekarang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
LIMA TAHUN YANG AKAN MENGUJI “GUS”
Pidato pertama telah selesai.
Muktamar telah ditutup.
Presiden telah meninggalkan Tambakberas.
Para muktamirin akan pulang.
Tetapi bagi Gus Kikin, perjalanan baru saja dimulai.
Lima tahun ke depan akan menguji apakah kata-kata seperti, ukhuwah, persatuan, Qanun Asasi, khidmah dan kemaslahatan mampu berubah menjadi kebijakan konkret.
Apakah konflik internal dapat diredam?
Apakah hubungan PBNU–PWNU–PCNU semakin solid?
Apakah pesantren semakin menjadi pusat kaderisasi?
Apakah ekonomi umat menjadi kekuatan nyata?
Apakah generasi muda mendapatkan ruang?
Apakah NU mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan tradisi?
Dan yang paling penting.
Apakah Gus Kikin mampu membuat NU tetap besar tanpa membuat NU kehilangan wajah manusianya?
DARI ANGKA 8 KE AMANAH ABAD KEDUA
Malam itu, Gus Kikin membuat orang tertawa dengan angka 8.
Tetapi setelah tawa berakhir, angka itu seolah berubah menjadi simbol perjalanan.
Delapan yang mengiringi tanggal, bulan, tahun kelahiran.
Delapan yang melekat pada perjalanan kepengasuhannya di Tebuireng.
Dan sekarang, sebuah amanah yang tidak mengenal angka,
memimpin PBNU selama lima tahun.
Di Tambakberas, seorang Gus dari Tebuireng menerima amanah.
Ia datang membawa sejarah.
Ia berdiri di tengah perubahan zaman.
Ia berbicara kepada Presiden.
Ia bercanda bersama muktamirin.
Lalu ia mengingatkan NU kepada Qanun Asasi.
Barangkali di situlah pesan terdalam pidato pertamanya.
Sejauh apa pun NU berjalan memasuki abad kedua, jangan sampai ia lupa dari mana ia berasal.
Karena bagi organisasi yang lahir dari pesantren, masa depan bukan alasan untuk meninggalkan akar.
Justru dari akar itulah pohon besar NU diharapkan kembali tumbuh.
Dan Gus Kikin kini diberi amanah untuk merawatnya.
GUS KIKIN “ANGKA 8, TAWA, LALU AMANAH”
Ketua Umum PBNU baru membuka kepemimpinannya dengan humor di hadapan Prabowo. Tetapi di balik tawa itu tersimpan pesan serius, persatuan, Qanun Asasi dan pekerjaan besar membawa NU memasuki abad kedua.
TAMBAKBERAS • JOMBANG • JAWA TIMUR
31 AGUSTUS 2026
Satu panggung. Dua ulama. Satu Presiden.
Dan satu amanah besar untuk NU lima tahun ke depan.
Writer : Dara Jingga
Editor: Clara Adelin