MUKTAMAR NU 35. KETIKA TATIB MENJADI MEDAN PERTARUNGAN
-Baca Juga
Tambakberas, Minggu 30 Agustus 2026
Empat hari Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 berlangsung, suasana Tambakberas mendadak berubah.
Sidang Pleno IV Penetapan Tata Tertib yang semestinya menjadi ruang merapikan mekanisme Muktamar justru berubah menjadi arena perdebatan paling sensitif, syarat pencalonan Ketua Umum PBNU.
Satu kata menjadi pusat kontroversi, iddah.
Peraturan Perkumpulan NU mensyaratkan jeda satu tahun bagi eks pejabat politik sebelum dapat mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU. Di forum Muktamar, muncul aspirasi agar ketentuan tersebut dihapus atau setidaknya dipangkas menjadi enam bulan.
Masalahnya, ketentuan itu bersentuhan langsung dengan konfigurasi kandidat.
Nama Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) pun berada di tengah pusaran. Ia diketahui baru meninggalkan jabatan Ketua DPW PKB Jawa Tengah pada Februari 2026.
Jika ketentuan satu tahun diberlakukan secara ketat, ruang pencalonannya menjadi persoalan.
Maka perdebatan yang semula tampak seperti persoalan teknis Tata Tertib berubah menjadi pertanyaan politik organisasi.
Apakah aturan sedang dijaga, ditafsirkan, atau sedang diperebutkan?
Ketegangan kemudian keluar dari ruang sidang.
Massa yang disebut sebagai pendukung Gus Yusuf menggelar demonstrasi di akses menuju Gedung Serba Guna Ponpes Bahrul Ulum, lokasi Sidang Pleno IV. Sebagian massa bahkan merangsek masuk dan meminta panitia menemui mereka.
Sidang akhirnya diskors.
Dan Tambakberas memasuki babak baru.
Bukan lagi sekadar perdebatan tentang pasal.
Melainkan pertarungan tentang legitimasi, fairness, dan masa depan kepemimpinan organisasi terbesar di Indonesia.
Di titik inilah NU sedang diuji.
Sebab bagi organisasi yang dibangun dari tradisi pesantren dan musyawarah, kemenangan terbesar bukan ketika satu kandidat menang atas kandidat lainnya.
Kemenangan terbesar adalah ketika semua pihak bersedia menerima keputusan yang lahir dari aturan dan musyawarah yang dianggap adil.
Tambakberas kini menunggu satu hal.
Apakah kegaduhan akan melahirkan kompromi, atau justru membuka babak baru pertarungan kekuasaan?
Writer : Gordon
Editor : George Smith
