MUKTAMAR NU 35. SEMBILAN ULAMA DI PUSAT KEKUASAAN NAHDLATUL ULAMA ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

MUKTAMAR NU 35. SEMBILAN ULAMA DI PUSAT KEKUASAAN NAHDLATUL ULAMA

-

Baca Juga




Dari kegaduhan Tatib hingga lahirnya AHWA


TAMBAKBERAS — Minggu, 30 Agustus 2026.

Siang Tambakberas sempat memanas.

Perdebatan mengenai Tata Tertib Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama menyentuh isu paling sensitif, persyaratan calon Ketua Umum PBNU, khususnya ketentuan masa jeda bagi eks pejabat politik.

Massa pendukung salah satu kandidat bahkan turun melakukan demonstrasi di sekitar area Sidang Pleno IV.

Sidang sempat diskors.

Namun ketika malam datang, arah Muktamar berubah.

Sidang Pleno V justru menghasilkan salah satu keputusan paling menentukan dalam sejarah Muktamar ke-35, sembilan ulama ditetapkan sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA.

Sembilan ulama itu memperoleh dukungan tertinggi dari tabulasi usulan PWNU, PCNU dan PCINU.

Di posisi teratas terdapat KH Nurul Huda Djazuli dengan 485 suara, disusul TGH KH Nuruzzahir Yahya dengan 477 suara.

Kemudian AG Dr. KH Baharuddin HS, MA dengan 392 suara; KH Miftachul Akhyar 350 suara; KH Afifuddin Muhajir 339 suara; KH Anwar Iskandar 326 suara; KH Amar Manshur 303 suara; Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj 273 suara; serta Dr. KH Abu Bunyamin, MA dengan 268 suara.

Mereka kini bukan sekadar sembilan nama dalam daftar hasil pleno.

Mereka adalah sembilan ulama yang memegang mandat strategis dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU.

Keputusan membentuk AHWA sendiri lahir melalui voting yang cukup tegas.

Dari 552 pemilik suara, 401 memilih perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU menjadi AHWA. Sebanyak 150 suara mempertahankan sistem pemilihan langsung, sementara satu suara dinyatakan tidak sah.

Dengan demikian, sekitar 72,6 persen pemilik suara Muktamar memberikan mandat perubahan.

Muktamar ke-35 pun memasuki fase baru.

Jika sebelumnya pertarungan kepemimpinan berpusat pada bagaimana para kandidat mengumpulkan suara dari pemilik hak pilih, kini pusat gravitasinya bergeser.

Sembilan ulama menjadi pintu menuju kepemimpinan tertinggi NU.

Dan perubahan itu membuat dinamika Muktamar menjadi jauh lebih menarik.

Karena kemenangan dalam kontestasi tidak lagi semata-mata dihitung dari berapa banyak suara yang dapat dikumpulkan.

Ada dimensi lain yang menjadi sangat penting.

kepercayaan para ulama.

Tambakberas malam itu seperti menyimpan sebuah pesan.

Kegaduhan siang tidak menghentikan Muktamar.

Justru setelah perdebatan, forum menghasilkan keputusan yang mengubah wajah mekanisme pemilihan kepemimpinan NU.

Kini pertanyaan terbesar bukan lagi Siapa yang paling banyak memiliki suara?

Melainkan Siapa yang mampu memperoleh kepercayaan sembilan ulama AHWA?

Di situlah babak sesungguhnya Muktamar NU ke-35 dimulai.




Writer: Jalaluddin Rumi 

Editor : Nawawi Jabbar 

Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode