PERNAK-PERNIK MUKTAMAR NU KE-35. MENARA YANG MENYIMPAN PESAN
-Baca Juga
Masjid Jami' Tambakberas, Empat Saka Kayu Jati dan Empat Huruf yang Menandai Sebuah Zaman
Jauh sebelum ribuan Nahdliyin datang ke Tambakberas untuk bermuktamar, sebuah masjid tua telah lebih dahulu menyimpan jejak perjalanan pesantren. Di sana, kayu jati, menara, dan empat huruf hijaiyah menjadi saksi bagaimana sejarah, kemerdekaan, dan tradisi bertemu dalam satu ruang.
DI BAWAH MENARA TUA
Ada bangunan di Tambakberas yang tidak perlu berbicara untuk menceritakan sejarah.
Ia cukup berdiri.
Menunggu.
Menyaksikan manusia datang dan pergi.
Itulah Masjid Jami' Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Di tengah kesibukan persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, 27–31 Agustus 2026, masjid tua itu kembali menjadi bagian dari lanskap penting sebuah peristiwa besar.
Tenda-tenda Muktamar berdiri.
Ruang sidang disiapkan.
Penginapan peserta ditata.
Relawan bergerak.
Namun di antara seluruh kesibukan itu, menara Masjid Jami' tetap berdiri tenang.
Ia seperti penjaga waktu.
MASJID YANG LAHIR LEBIH DAHULU
Dalam buku Tambak Beras, Menelisik Sejarah Memetik Uswah, Masjid Jami' Tambakberas disebut dibangun sekitar 1903–1904 Masehi, pada era kepemimpinan KH Wahab Chasbullah.
Artinya, bangunan tersebut telah hadir jauh sebelum Indonesia memasuki masa kemerdekaan.
Jauh sebelum republik berdiri.
Jauh sebelum NU memasuki usia satu abad.
Dan jauh sebelum Tambakberas dipersiapkan menjadi tuan rumah Muktamar ke-35.
Masjid itu tumbuh bersama pesantren.
Generasi demi generasi datang.
Santri belajar.
Kiai mengajar.
Masyarakat beribadah.
Sejarah bergerak.
Masjid tetap menjadi titik temu.
EMPAT SAKA PENJAGA INGATAN
Di ruang utama terdapat empat saka kayu jati.
Tiang-tiang tua itu masih berdiri kokoh.
Materialnya telah mengalami perawatan. Bagian kayu kemudian dibungkus semen untuk menghindari kerusakan akibat rayap.
Namun bentuk aslinya tetap menjadi bagian dari ingatan bangunan.
Menurut Abdul Hakim, Ta'mir Masjid Jami' Tambakberas, empat saka tersebut merupakan pemberian Residen Belanda.
Kisah itu menjadi bagian dari cerita yang diwariskan pengelola masjid dari generasi ke generasi.
Empat tiang.
Empat penyangga.
Dan satu ruang yang telah menyaksikan perjalanan panjang pesantren.
Di sinilah sejarah terasa tidak lagi seperti tulisan dalam buku.
Ia menjadi benda yang dapat dilihat.
KETIKA MENARA DATANG KEMUDIAN
Ada fakta menarik yang sering luput dari perhatian.
Masjid dan menaranya tidak dibangun dalam periode yang sama.
Masjid telah berdiri sejak sekitar 1903–1904.
Sementara menara baru dibangun pada masa kepemimpinan KH Abdul Hamid Chasbullah, sekitar 1367 H atau 1948 M, menurut catatan dalam buku sejarah Tambakberas tersebut.
Jarak waktu itu menunjukkan bahwa masjid mengalami perkembangan lintas generasi.
Satu generasi membangun.
Generasi berikutnya menambahkan.
Generasi setelahnya merawat.
Dan generasi hari ini menjadikannya bagian dari identitas Tambakberas.
EMPAT HURUF DI TUBUH MENARA
Lalu ada sebuah cerita yang membuat menara itu semakin menarik.
Pada bagian menara terdapat empat huruf hijaiyah:
ح — ر — ت — م
Dalam tradisi yang berkembang di lingkungan Tambakberas, empat huruf tersebut dikaitkan dengan pesan KH Wahab Chasbullah kepada putranya, KH Abdul Hamid Chasbullah.
Konon, sebuah pesan tertulis disimpan dalam keadaan terbungkus dan tidak boleh dibuka sebelum KH Wahab wafat.
Setelah beliau wafat, bungkusan tersebut dibuka.
Di dalamnya terdapat empat huruf
ح ر ت م
Pesan itu kemudian diabadikan pada menara.
Dalam penafsiran yang berkembang di lingkungan pesantren, rangkaian huruf tersebut dimaknai sebagai simbol "kemerdekaan yang sempurna."
Dan di sinilah kisah itu bertemu dengan sejarah Indonesia.
Menara selesai pada 1948.
Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Namun perjuangan mempertahankan kemerdekaan belum selesai.
Karena itu, simbol tersebut dapat dibaca sebagai refleksi spiritual terhadap cita-cita kemerdekaan yang utuh.
DARI MENARA KE LOGO MUKTAMAR
Menariknya, pucuk menara Masjid Jami' Tambakberas kemudian hadir dalam identitas visual Muktamar NU ke-35.
Sebuah bangunan tua menjadi bagian dari simbol peristiwa organisasi masa kini.
Ini bukan sekadar urusan desain.
Ia menunjukkan bagaimana warisan masa lalu dipakai untuk memperkenalkan masa depan.
Menara itu menjadi semacam jembatan visual.
Dari Tambakberas masa lalu.
Menuju Tambakberas 2026.
Dari pesantren.
Menuju forum organisasi nasional.
Dari generasi pendiri.
Menuju generasi penerus.
TIMELINE TAMBAKBERAS
1903–1904
Masjid Jami' Tambakberas dibangun pada era KH Wahab Chasbullah.
1945
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
1948
Menara Masjid Jami' dibangun pada era KH Abdul Hamid Chasbullah.
2026
Pucuk menara menjadi salah satu simbol visual Muktamar NU ke-35.
27–31 AGUSTUS 2026
Tambakberas menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
MASA LALU YANG MENYAPA MASA DEPAN
Di sinilah Muktamar menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi.
Ribuan orang akan datang ke Tambakberas membawa gagasan tentang masa depan Nahdlatul Ulama.
Namun sebelum mereka memasuki ruang-ruang sidang, kawasan itu telah lebih dahulu menawarkan sebuah pelajaran,
masa depan tidak pernah benar-benar terputus dari masa lalu.
Masjid tua tetap berdiri.
Menara tetap menjulang.
Saka kayu jati tetap menyangga ruang utama.
Cerita tentang empat huruf tetap diwariskan.
Sementara NU terus berubah menghadapi zaman.
Tantangan hari ini tentu berbeda.
Jika generasi terdahulu berhadapan dengan kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan, generasi sekarang berhadapan dengan transformasi digital, perubahan ekonomi, pendidikan, kesehatan, kaderisasi, kecerdasan buatan, dan perubahan sosial yang bergerak sangat cepat.
Tetapi prinsip dasarnya tetap sama,
menjaga nilai sambil membaca zaman.
SEBUAH MASJID, SEBUAH MENARA, SEBUAH PESAN
Mungkin itulah sebabnya Masjid Jami' Tambakberas layak ditempatkan sebagai salah satu "pernak-pernik" penting menjelang Muktamar.
Ia bukan sekadar bangunan tua.
Ia adalah artefak hidup.
Di dalamnya terdapat arsitektur.
Di dalamnya terdapat sejarah.
Di dalamnya terdapat tradisi.
Dan di sekelilingnya terus tumbuh generasi baru.
Ketika ribuan peserta Muktamar nanti berjalan melewati kawasan Bahrul Ulum, sebagian mungkin hanya melihat sebuah menara.
Tetapi bagi mereka yang mau berhenti sejenak, menara itu memiliki cerita.
Cerita tentang sebuah pesan.
Cerita tentang kemerdekaan.
Cerita tentang kesinambungan generasi.
Dan cerita tentang sebuah pesantren yang terus bergerak tanpa meninggalkan akarnya.
MENARA ITU MASIH MENUNJUK LANGIT
Menara tidak ikut bersidang.
Tidak memiliki hak suara.
Tidak memilih pemimpin.
Tidak menyampaikan rekomendasi.
Ia hanya berdiri.
Diam.
Namun diamnya menyimpan sejarah.
Ia telah menyaksikan Tambakberas tumbuh dari lingkungan pesantren menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang penting.
Ia menyaksikan Indonesia berubah.
Ia menyaksikan generasi berganti.
Dan kini, ia akan menyaksikan ribuan Nahdliyin berkumpul untuk merumuskan masa depan organisasi.
Empat huruf masih terukir
ح ر ت م
Bagi tradisi Tambakberas, ia membawa pesan tentang kemerdekaan yang sempurna.
Bagi generasi hari ini, ia dapat menjadi renungan tentang makna kemerdekaan yang lebih luas: kebebasan berpikir, keberanian bermusyawarah, kemandirian dalam mengelola organisasi, serta kemampuan bergerak menuju masa depan tanpa tercerabut dari akar sejarah.
Muktamar hanya berlangsung lima hari.
Tetapi sejarah Tambakberas jauh lebih panjang.
Dan ketika lampu-lampu Muktamar nanti padam, tenda-tenda dibongkar, para peserta pulang ke daerah masing-masing, menara itu masih akan berada di sana.
Menunjuk langit.
Menjaga pesan.
Menunggu generasi berikutnya.
Sebab sejarah yang baik tidak meminta untuk dikenang.
Ia cukup dirawat agar tetap dapat berbicara kepada masa depan.
Writer : Panji Pamungkas
Editor : Bhre Wilwatikta
