TANGAN-TANGAN YANG MENGABDI. Seratus Relawan Pemijat Siaga, Mengusir Lelah Para Tamu Muktamar NU ke 35
-Baca Juga
Di Tambakberas, Pengabdian Tidak Selalu Dilakukan dari Mimbar. Ada yang Memilih Mengabdi Lewat Sentuhan Tangan.
Siang mulai merambat di Tambakberas.
Di halaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum, para pekerja masih sibuk memasang perlengkapan Muktamar. Di ruang-ruang sidang, kursi mulai ditata. Tenda berdiri. Jalur peserta dipersiapkan.
Namun, di sudut lain yang jauh dari sorotan kamera, sekelompok orang juga sedang mempersiapkan diri.
Mereka bukan panitia inti.
Bukan pula peserta sidang.
Mereka tidak akan berbicara di podium.
Tidak akan mengikuti pemungutan suara.
Tidak akan masuk dalam daftar calon pengurus.
Mereka datang membawa sesuatu yang sederhana.
Sepasang tangan.
Tangan yang selama bertahun-tahun digunakan untuk memijat orang yang kelelahan.
Kini, tangan-tangan itu dipersembahkan untuk para tamu Muktamar.
Tanpa tarif.
Tanpa kuitansi.
Tanpa kontrak kerja.
"Kami tidak mencari upah. Kami hanya ingin ikut berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama dan mencari berkah para kiai."
Muhammad Romli, Relawan Pemijat
SERATUS TANGAN PENGABDIAN
Sedikitnya seratus relawan pemijat telah menyatakan kesiapannya.
Mereka datang dari berbagai daerah.
Ada yang berasal dari Jombang.
Ada alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Ada pula relawan dari Madura, Jawa, bahkan luar Pulau Jawa.
Tidak ada surat perintah.
Tidak ada honorarium.
Yang ada hanyalah panggilan hati.
Bagi Muhammad Romli, salah seorang relawan, kelelahan para peserta Muktamar adalah bagian dari tanggung jawab bersama.
Ribuan orang akan datang dari perjalanan panjang.
Mereka mengikuti sidang sejak pagi hingga malam.
Berpindah dari ruang komisi ke pleno.
Dari forum bahtsul masail ke diskusi organisasi.
Tubuh tentu membutuhkan istirahat.
Di situlah para relawan ingin mengambil bagian.
LAYANAN PIJAT GRATIS
Jumlah Relawan ±100 orang
Biaya Gratis
Lokasi
MAN 3 Jombang
MTsN 3 Tambakberas
Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha)
Durasi ±15 menit
Jenis Layanan Pijat Tradisional Refleksi
LEBIH DARI SEKADAR PIJAT
Di dunia kesehatan, pijat tradisional dikenal membantu meredakan ketegangan otot dan memberi rasa rileks.
Namun di Tambakberas, makna pijat menjadi lebih luas.
Ia berubah menjadi bahasa pengabdian.
Para relawan memahami bahwa tidak semua orang mampu menyampaikan khidmah melalui pidato atau keputusan organisasi.
Sebagian memilih jalan yang sunyi.
Melayani tanpa terlihat.
Menguatkan tanpa banyak bicara.
Menyegarkan tubuh mereka yang lelah agar dapat kembali mengikuti musyawarah dengan pikiran yang jernih.
Yang menarik, para relawan dilarang meminta bayaran.
Apabila ada peserta yang secara sukarela memberikan uang sebagai ungkapan terima kasih, itu boleh diterima sebagai rezeki.
Namun tidak boleh diminta.
Tidak boleh dipatok.
Tidak boleh menjadi syarat pelayanan.
Di tengah kehidupan modern yang hampir semua jasa memiliki tarif, prinsip ini menghadirkan pesan yang sederhana tetapi kuat, pelayanan dapat lahir dari keikhlasan, bukan semata-mata transaksi.
CATATAN DETAK INSPIRATIF
Barangkali inilah wajah Nahdlatul Ulama yang paling jarang menjadi berita utama.
Bukan tentang perebutan jabatan.
Bukan tentang dinamika pemilihan.
Melainkan tentang orang-orang biasa yang memilih menjadi bagian dari Muktamar melalui cara yang sangat sederhana.
Ada yang memasak di dapur umum.
Ada yang berjaga di pos kesehatan.
Ada yang mengatur lalu lintas.
Ada yang membersihkan lingkungan.
Dan ada pula yang mengabdikan sepasang tangannya untuk mengusir lelah ribuan tamu.
Ketika Keikhlasan Memiliki Sentuhan
Mungkin nama mereka tidak akan tercatat dalam risalah Muktamar.
Mungkin wajah mereka tidak akan menghiasi halaman depan surat kabar.
Namun setiap sentuhan yang mengurangi letih seorang peserta sesungguhnya ikut menopang jalannya musyawarah.
Di Tambakberas, pengabdian tidak selalu lahir dari ruang sidang.
Kadang ia hadir dalam genggaman tangan seorang pemijat yang bekerja tanpa meminta imbalan.
Dan di situlah nilai khidmah menemukan maknanya yang paling sederhana sekaligus paling mendalam, melayani dengan ikhlas agar orang lain mampu melanjutkan ikhtiarnya.
Catatan Redaksi
"Pasukan Sunyi Muktamar"
Mereka bukan pengambil keputusan, tetapi tanpa mereka, Muktamar sebesar apa pun tidak akan berjalan dengan baik. Itulah sisi kemanusiaan yang membuat agenda Muktamar NU tetap gayeng, hangat, dan membekas di hati.
Writer: Dion
Editor: Djose
