17 PESILAT PAGAR NUSA KABUPATEN MOJOKERTO BERANGKAT KE BUMI BLAMBANGAN BANYUWANGI. Membawa Nama Bumi Majapahit ke Gelanggang Kejurwil
-
Baca Juga
MOJOKERTO — Dari lantai dua Kantor PCNU Kabupaten Mojokerto, perjalanan itu dimulai. Bukan perjalanan wisata. Bukan pula sekadar kunjungan organisasi.
Sebanyak 17 orang atlet dan pelatih Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto diberangkatkan menuju Kabupaten Banyuwangi untuk mengikuti Kejuaraan Wilayah Pencak Silat Pagar Nusa Jawa Timur.
Gus Makruf, Ketua Umum Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto ( Seragam Silat Pagar Nusa) mendampingi Ketua Umum PCNU kabupaten Mojokerto, H. Muchid Dalam Rangka Pelepasan Atlit Pagar Nusa di Kejurwil Banyuwangi. Rabu 23 September 2026.
Ketua Umum Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto, Gus Makruf, mengatakan kontingen tersebut diberangkatkan setelah menjalani persiapan untuk menghadapi ajang tingkat Jawa Timur tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Gus Makruf kepada DETAK INSPIRATIF, Rabu (23/9/2026), seusai pelepasan atlet Pagar Nusa di Kantor PCNU Kabupaten Mojokerto.
Pelepasan tersebut juga didampingi Ketua Umum PCNU Kabupaten Mojokerto, H. Muchid.
Ada sesuatu yang berbeda dari perjalanan 17 orang tersebut. Mereka tidak hanya membawa perlengkapan pertandingan. Mereka membawa nama Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto ke salah satu panggung kompetisi pencak silat tingkat Jawa Timur. Dan di balik nama itu, ada nama yang lebih besar, Kabupaten Mojokerto.
DARI PELANTIKAN KE GELANGGANG
Kurang lebih sebulan sebelumnya, tepatnya 23 Agustus 2026, kepengurusan baru Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto masa khidmat 2026–2031 dilantik di Kantor PCNU Kabupaten Mojokerto.
Saat itu, pesan Pimpinan Pusat Pagar Nusa Gus Edy Junaedy cukup jelas. Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto diminta memperbanyak kejuaraan untuk meningkatkan jam terbang atlet, mencari talenta baru dan membangun padepokan yang representatif.
Kini pesan tersebut mulai menemukan bentuknya. Sebanyak 17 atlet dan pelatih diberangkatkan ke Banyuwangi. Artinya, kepengurusan baru tidak hanya berbicara tentang struktur organisasi. Mereka mulai masuk ke ruang yang lebih konkret, gelanggang prestasi.
SATU GELANGGANG, BANYAK PERGURUAN
Pencak silat memiliki akar panjang dalam kebudayaan Nusantara. Di dalamnya terdapat teknik bela diri, seni gerak, disiplin, penghormatan kepada guru dan nilai persaudaraan.
Pagar Nusa sendiri tumbuh dalam lingkungan Nahdlatul Ulama dan menjadi salah satu wadah pembinaan pencak silat.
Namun ketika memasuki arena pertandingan, identitas organisasi bertemu dengan identitas olahraga daerah.
Seorang pesilat tidak hanya diuji oleh lawan di depannya. Ia diuji oleh latihan yang telah dijalani, keberanian mengambil keputusan, ketahanan fisik, kedisiplinan dan kemampuan mengendalikan diri.
Karena itu, Kejurwil Banyuwangi bukan hanya soal menang atau kalah. Ia juga menjadi ruang untuk mengukur sejauh mana proses pembinaan Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto berjalan.
MOJOKERTO MENCARI TEMPAT DI PETA JAWA TIMUR
Ketua Pagar Nusa Jawa Timur Gus Solahuddin sebelumnya menyebut kekuatan atlet Pagar Nusa Jawa Timur masih banyak didominasi daerah seperti Surabaya, Sidoarjo dan Gresik.
Pernyataan itu sekaligus menjadi tantangan bagi daerah lain, termasuk Kabupaten Mojokerto.
Kehadiran 17 atlet dan pelatih Pagar Nusa Mojokerto di Banyuwangi menjadi bagian dari upaya untuk membangun kekuatan baru. Bukan dengan retorika. Tetapi dengan mengirim atlet ke gelanggang.
Dari sana akan terlihat sejauh mana kemampuan teknik, mental bertanding dan kualitas pembinaan mereka.
DARI BUMI MAJAPAHIT KE BANYUWANGI
Ada simbolisme menarik ketika pesilat Kabupaten Mojokerto berangkat ke Banyuwangi.
Kabupaten Mojokerto dikenal kuat dengan jejak sejarah Kerajaan Majapahit. Namun sejarah tidak pernah hidup hanya karena diceritakan.
Ia hidup ketika generasi sesudahnya mampu mengambil nilai dari masa lalu dan membawanya ke masa kini.
Pencak silat memiliki jalan yang sama. Tradisi tidak cukup disimpan dalam ingatan. Ia harus diwariskan melalui latihan. Dipelajari melalui disiplin. Diuji melalui pertandingan. Dan dijaga melalui etika.
Maka perjalanan 17 atlet dan pelatih Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto ke Banyuwangi sesungguhnya bukan sekadar perjalanan sebuah kontingen olahraga. Ia adalah perjalanan kecil sebuah tradisi menuju panggung prestasi.
UJIAN PERTAMA KEPENGURUSAN BARU
Kejurwil Banyuwangi juga dapat menjadi salah satu ujian awal bagi kepengurusan Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto yang baru.
Sebab target pembinaan telah diletakkan. Jam terbang atlet harus ditambah. Talenta baru harus ditemukan. Padepokan representatif harus diperjuangkan. Dukungan kesehatan atlet mulai dibangun melalui kerja sama dengan RSI Sakinah Sooko. Dan kini atlet dikirim bertanding.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pembinaan olahraga membutuhkan proses panjang. Tidak ada medali yang lahir dari satu malam. Tidak ada juara yang muncul hanya karena sebuah pelantikan.
Di balik medali selalu ada latihan yang panjang, jatuh-bangun, keringat dan keberanian untuk kembali berdiri.
PESAN DI DEPAN GELANGGANG
Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto H. Muchid sebelumnya telah mengingatkan agar pesilat Pagar Nusa tidak terjebak dalam sekat dengan perguruan lain. Pesan tersebut penting. Sebab pencak silat memiliki banyak perguruan, aliran dan tradisi.
Perbedaan itu merupakan bagian dari kekayaan pencak silat Indonesia. Ketika masuk gelanggang, persaingan harus berjalan dalam koridor sportivitas. Dan ketika pertandingan selesai, persaudaraan tetap kembali menjadi rumah. Di titik inilah pencak silat berbeda dari sekadar pertarungan.
Ia mengajarkan bagaimana seseorang mampu mengendalikan kekuatan yang ada di dalam dirinya.
17 ORANG, SATU NAMA
Kini 17 orang itu menuju Banyuwangi. Mereka membawa seragam. Membawa perlengkapan. Membawa bekal latihan. Tetapi yang paling berat sebenarnya bukan barang bawaan. Yang mereka bawa adalah harapan.
Harapan pelatih. Harapan keluarga. Harapan perguruan. Dan tentu saja harapan Kabupaten Mojokerto. Di gelanggang nanti, nama-nama itu akan bertanding satu per satu. Tetapi ketika mereka memasuki arena, ada satu nama yang melekat di dada, KABUPATEN MOJOKERTO.
Dari Bumi Majapahit menuju Bumi Blambangan Banyuwangi.
Dari padepokan menuju gelanggang. Dari tradisi menuju prestasi. Dan dari 17 orang itu, Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto sedang mencoba menulis babak baru dalam perjalanan panjang pencak silat di tanah Jawa.
“Pertandingan boleh selesai dalam hitungan menit. Tetapi membangun seorang juara membutuhkan bertahun-tahun”.