36 DESA, 18 KECAMATAN. MENGUJI MESIN PERANG STUNTING MOJOKERTO DARI GARIS DEPAN ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

36 DESA, 18 KECAMATAN. MENGUJI MESIN PERANG STUNTING MOJOKERTO DARI GARIS DEPAN

-

Baca Juga


PEMBEKALAN POKJA KAMPUNG KELUARGA BERKUALITAS KECAMATAN TROWULAN 

Djoni Kuswinarto Arys, SH, Penyuluh KB Ahli Madya Kecamatan Trowulan



Sentonorejo membuka langkah. Kejagan menyusul. Dari dua desa di Kecamatan Trowulan, akselerasi Kampung Keluarga Berkualitas mulai bergerak dari meja birokrasi menuju keluarga. Tantangannya kini bukan sekadar membentuk kader, tetapi memastikan data berubah menjadi tindakan dan tindakan menghasilkan generasi yang lebih sehat.



MOJOKERTO — Selasa, 1 September 2026, sebuah agenda pemerintahan berlangsung di Kantor Pemerintahan Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan.

Tidak ada yang spektakuler dari sebuah pembekalan jika hanya dilihat sebagai agenda birokrasi.

Namun dari desa inilah sebuah pekerjaan besar mulai menemukan bentuknya.

Kampung Keluarga Berkualitas.

Program yang membawa isu kependudukan, keluarga, kesehatan, pola asuh, pemberdayaan hingga pencegahan stunting ke satu titik, desa.


Djoni Kuswinarto Arys, SH, Penyuluh KB Ahli Madya Kecamatan Trowulan


Menurut Djoni Kuswinarto Arys, SH, Penyuluh KB Ahli Madya Kecamatan Trowulan, pembekalan Kampung Keluarga Berkualitas berlangsung di Sentonorejo pada Selasa, 1 September.

Agenda berikutnya dijadwalkan Kamis, 3 September 2026, di Kantor Pemerintahan Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan.

Dua desa. Dua agenda. Satu pesan, mesin Kampung KB mulai bergerak dari lapangan.


KETIKA KEBIJAKAN TURUN KE DESA

Pemerintah Kabupaten Mojokerto menempatkan penguatan Kampung Keluarga Berkualitas sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia.

Sasarannya bukan sekadar membangun kelembagaan. Ada keluarga yang harus didampingi. Ada ibu yang harus mendapatkan informasi. Ada balita yang pertumbuhannya harus dipantau. Ada keluarga berisiko yang harus ditemukan lebih awal. Dan ada data yang harus terus diperbarui. Karena itu, desa menjadi titik paling menentukan.

Di tingkat inilah kebijakan pemerintah bertemu dengan realitas masyarakat.

Sehebat apa pun desain program di tingkat kabupaten, efektivitasnya pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan aparat desa, penyuluh, kader dan masyarakat menjalankannya.

Garis depan sesungguhnya bukan kantor kabupaten. Garis depan adalah rumah keluarga.


36 DESA  ANGKA YANG HARUS BERUBAH MENJADI AKSI

Kabupaten Mojokerto memiliki 36 desa lokus yang tersebar di 18 kecamatan dalam agenda penguatan ini. Angka tersebut sekaligus menunjukkan luasnya pekerjaan.

Jika setiap desa melibatkan 10 personel kunci, maka terdapat sekitar 360 ujung tombak yang menjadi bagian dari ekosistem intervensi.

Mereka bukan sekadar peserta kegiatan. Mereka harus menjadi sistem deteksi dini. Sistem pendampingan. Sistem edukasi. Dan sistem penghubung antara keluarga dengan layanan pemerintah. Karena itu, pembekalan hanyalah titik awal.

Pertanyaan sesungguhnya muncul setelah kegiatan selesai. Apa yang dilakukan para peserta ketika kembali ke desanya? Di sinilah keberhasilan program mulai diuji.


DASHAT DAPUR YANG HARUS MELAHIRKAN PERUBAHAN

Salah satu instrumen yang mendapat perhatian adalah Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).

Konsep pangan berbasis potensi lokal memiliki relevansi besar dengan karakter masyarakat desa.

Tetapi DASHAT tidak boleh berhenti sebagai kegiatan memasak.

Ukuran keberhasilannya harus bergerak lebih jauh. siapa yang menerima, apa kandungan gizinya, bagaimana pendampingannya dan apakah terjadi perubahan status gizi.

Sebab makanan yang baik adalah intervensi. Tetapi perubahan perilaku keluarga adalah keberlanjutan. Dan perbaikan status gizi anak adalah hasil yang harus dikejar.


RUMAH DATAKU OTAK DI BALIK INTERVENSI

Jika DASHAT adalah dapur, maka Rumah Data Kependudukan atau Rumah Dataku seharusnya menjadi otak sistem.

Data harus menjawab, siapa yang membutuhkan bantuan, mengapa membutuhkan, intervensi apa yang diperlukan dan apakah kondisi mereka membaik setelah intervensi. Di titik ini, akurasi menjadi sangat penting.

Data yang terlambat diperbarui dapat membuat kebijakan terlambat. Data yang tidak lengkap dapat membuat sasaran meleset. Dan data yang tidak digunakan hanya akan menjadi arsip.

Maka prinsipnya sederhana. Data tidak boleh berhenti di Rumah Dataku. Data harus bergerak menuju tindakan.


TRIBINA MEMPERBAIKI KELUARGA DARI DALAM

Stunting juga tidak selesai hanya dengan intervensi pangan. Keluarga adalah lingkungan pertama seorang anak. Karena itu, edukasi pola asuh menjadi bagian penting dari ekosistem Kampung Keluarga Berkualitas. Di sinilah pendekatan Tribina mempunyai ruang strategis.

Pengetahuan keluarga mengenai kesehatan, pengasuhan, tumbuh kembang dan kebutuhan anak harus berjalan seiring dengan intervensi gizi.

Sebab, anak tidak tumbuh hanya dari apa yang dimakannya, tetapi juga dari bagaimana keluarganya merawatnya.


TROWULAN MEMULAI

Sentonorejo pada 1 September menjadi salah satu titik awal. Kejagan pada 3 September menjadi agenda berikutnya. Dari dua desa ini, kita dapat melihat bagaimana kebijakan Kampung Keluarga Berkualitas diterjemahkan ke tingkat paling bawah.

Dan justru di sinilah tantangannya, untuk melihat jarak antara kebijakan dan realitas. Apakah materi pembekalan dipahami? Apakah kader benar-benar aktif? Apakah Rumah Dataku diperbarui? Apakah keluarga berisiko terpetakan? Apakah DASHAT berjalan berkelanjutan? Dan apakah ada indikator yang dapat menunjukkan perubahan?


OUTPUT, OUTCOME, IMPACT

OUTPUT, Kegiatan terlaksana. Personel mendapatkan pembekalan. Kelembagaan bergerak.

OUTCOME, Keluarga mendapatkan pendampingan. Perilaku berubah. Intervensi menjadi lebih tepat sasaran.

IMPACT, Anak tumbuh lebih sehat. Risiko stunting menurun. Kualitas manusia meningkat. Jangan sampai berhenti di output. Karena kegiatan yang banyak belum tentu menghasilkan perubahan yang besar.


BONUS DEMOGRAFI DIMULAI DARI BALITA

Di balik seluruh agenda Kampung Keluarga Berkualitas terdapat agenda yang lebih besar, masa depan manusia Mojokerto.

Bonus demografi bukan sekadar semakin banyak penduduk usia produktif. Bonus demografi membutuhkan manusia yang sehat, terdidik, terampil dan produktif.

Karena itu, pencegahan stunting hari ini merupakan bagian dari investasi terhadap tenaga produktif masa depan. Anak yang hari ini dipantau pertumbuhannya kelak menjadi generasi yang akan mengisi sekolah, dunia kerja, pemerintahan, dunia usaha dan berbagai ruang pembangunan.

Menyelamatkan satu anak berarti menjaga satu masa depan. Dan jika dilakukan terhadap ribuan anak, ia menjadi strategi pembangunan manusia.


DARI DESA UNTUK MASA DEPAN MOJOKERTO

Sentonorejo telah membuka langkah. Kejagan segera menyusul. Kemudian desa-desa lain. Satu demi satu.

Jika seluruh sistem bekerja, 36 desa lokus tidak lagi hanya menjadi angka dalam dokumen.

Ia berubah menjadi 36 titik pertahanan kualitas manusia. Dari penyuluh KB hingga kader. Dari Rumah Dataku hingga DASHAT. Dari kantor desa hingga rumah keluarga.

Semuanya mempunyai satu tujuan, memastikan anak-anak Mojokerto tumbuh sehat, keluarga semakin berkualitas dan bonus demografi tidak sekadar menjadi slogan.

Sebab perang melawan stunting memang dimulai dari kebijakan. Tetapi kemenangan sesungguhnya hanya bisa terlihat di rumah. di keluarga. di tubuh anak-anak yang tumbuh sehat.

Dan pada suatu hari nanti, ketika generasi itu memasuki usia produktif, hasilnya akan kembali kepada Mojokerto. Dari desa hari ini, untuk manusia unggul Bumi Majapahit esok hari.




Writer : Dara Jingga 

Editor : Pamugas Dharmapraja 

Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode