PERJALANAN MEMBARA PENDEKAR PAGAR NUSA, GUS MAKRUF
-Baca Juga
Babak Baru di Gedung Demokrasi
Waktu menunjukkan pukul 12:42 siang, 3 Juni 2026. Di ruang rapat Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto, suasana terasa formal namun hangat. Gus Makruf, sosok yang tak asing lagi bagi masyarakat, kini kembali duduk tegak di kursinya. Usai menempuh ribuan kilometer dalam perjalanan "membara" yang menguji jiwa dan raganya, ia kembali menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.
Di hadapannya tumpukan dokumen Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) menanti keputusan. Diskusi demi diskusi, argumen demi argumen dilontarkan. Namun, di balik kesibukan birokrasi itu, jiwa pendekar Pagar Nusa dalam dirinya tak pernah padam. Tangannya yang terbiasa memegang senjata tradisional kini juga memegang pena, menorehkan kebijakan untuk kesejahteraan daerah.
Titik Temu di Sakinah
Sore itu, setelah rapat usai dan tugas negara selesai, Gus Makruf tidak langsung pulang. Ada janji yang harus ditepati. Sahabat lama dari Kota Probolinggo telah menunggu. Mereka sepakat menjadikan RSI SAKINAH sebagai markas pertemuan. Tempat ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol persaudaraan, titik kumpul para pendekar Pagar Nusa yang menjunjung tinggi disiplin dan nilai-nilai luhur.
Gus Makruf datang dengan tenang, selalu didampingi oleh Dhany, sahabat setia yang tak pernah jengkel menanti perintah. Mereka duduk di sudut ruangan, menanti kedatangan tokoh penting lainnya, Gus Jabib dari kepengurusan wilayah.
Tak lama kemudian, Gus Jabib hadir membawa sebuah amplop cokelat tebal. Di dalamnya tersimpan dokumen penting, Surat Keputusan (SK) Pengukuhan Kepengurusan Pagar Nusa Cabang Kabupaten Mojokerto untuk masa bakti 2026-2031.
"Alhamdulillah, akhirnya legalitas sudah di tangan," ujar Gus Jabib seraya menyerahkan dokumen itu.
Suasana menjadi haru ketika seluruh pengurus yang hadir berkumpul. Mereka berunding menyusun strategi dan jadwal acara pelantikan. Namun, di tengah tawa dan diskusi organisasi, ada topik berat yang menyelinap dan mengubah suasana menjadi lebih serius.
Duka dan Seruan Keadilan
Pembicaraan beralih pada sebuah kabar duka yang baru saja terjadi. Seorang pendekar Pagar Nusa asal Nganjuk telah meninggal dunia saat kasusnya masih bergulir di Pengadilan Negeri Nganjuk. Kepergiannya meninggalkan tanya dan luka mendalam di hati keluarga besar Pagar Nusa.
Mata para pendekar yang hadir menatap tajam. Bukan karena marah yang meledak-ledak, melainkan karena keinginan kuat akan kebenaran.
"Kami tidak menuntut balas dengan cara kami sendiri," kata salah satu pengurus dengan suara berat. "Kami hanya memohon dan berharap hukum berjalan lurus. Kami ingin keadilan benar-benar ditegakkan di Pengadilan Negeri Nganjuk."
Gus Makruf mengangguk pelan, matanya menyiratkan kesedihan bercampur tekad. "Siapa pun yang terlibat dalam pengeroyokan yang merenggut nyawa saudara kita, harus dihukum setimpal. Hukum harus adil, tidak pandang bulu. Itu adalah harga mati bagi kami," tegasnya.
Doa dipanjatkan, harap diserahkan kepada Yang Maha Kuasa, dan keyakinan pada penegak hukum menjadi pegangan mereka saat itu.
Langkah Baru Menuju Solo raya
Matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga di langit Mojokerto. Diskusi panjang lebar telah usai. SK sudah diterima, agenda pelantikan tersusun rapi, dan aspirasi keadilan telah disuarakan.
Gus Makruf bangkit dari duduknya. Ia menyalami satu per satu sahabatnya. Perjalanan di Mojokerto hari ini sudah selesai, namun jiwa pengembara tak pernah berhenti.
"Kami pamit undur diri," ucap Gus Makruf.
Ditemani Dhany, ia menyiapkan diri untuk melanjutkan pengembaraannya. Kali ini, roda perjalanan akan berputar menuju wilayah budaya dan sejarah, menuju tanah keraton: Surakarta, Solo, Jawa Tengah.
Petualangan baru, pertemuan baru, dan ujian baru telah menanti di depan mata. Perjalanan membara belum berakhir...
Tobe continue….
Writer. : Bastian Tito
Editor. : Niki Kosasih
