PERJUANGAN BARA API GUS MAKRUF
-Baca Juga
KABAR DARI IBUKOTA
Angin berhembus pelan menyapa pagi di tanah Majapahit, Kota Mojokerto. Namun di kediaman Gus Makruf, suasana tak biasa. Ada semangat yang membara, layaknya api yang siap menyala terang menembus langit.
Sebuah pesan penting telah tiba. Dari Surakarta, Solo, Jawa Tengah, titah datang menyapa. Dua hari lagi, perjalanan suci dan penting harus dilaksanakan. Menuju Jakarta, Ibu Kota Negara.
"Gus, waktu telah menentukan. RAKERNAS dan BIMTEK besar bagi para pejuang legislatif Partai Amanat Nasional se-Indonesia segera digelar," bisik hati kecilnya.
Gus Makruf menatap peta perjalanan. Bukan dengan pedang atau keris, tapi dengan semangat dan visi yang tajam. "Aku harus berangkat. Demi rakyat, demi bangsa!" tegasnya.
KILAT DI ATAS REL
Hari yang dinanti tiba. Dengan gagah berani, Gus Makruf melangkah menuju stasiun. Bukan menunggang kuda sakti atau kereta kencana, melainkan menaiki Kereta Api Cepat yang melesat bagaikan kilat menyambar bumi.
Suara gemuruh kereta membelah jalanan Jawa. Dari timur ke barat, pemandangan berubah secepat kilat. Namun pikiran Gus Makruf tetap tenang, fokus pada misi yang diemban. Di dalam sana, di Jakarta, ribuan mata akan bertatap muka. Saudara seperjuangan dari Sabang sampai Merauke, dari ujung utara sampai selatan Nusantara, akan berkumpul menjadi satu.
"Seluruh penjuru Nusantara akan bersatu. Satu visi, satu misi," gumamnya sambil menatap langit dari balik jendela kereta yang membelah angin.
Gus Makruf & Santoso Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto Jawa Timur Dalam Agenda Workshop di Jakarta PARPOL PAN
PERTEMUAN PARA PEMBAWA AMANAH
Di Jakarta, gedung pertemuan bagaikan padepokan besar yang megah. Para sesepuh dan ksatria legislatif berkumpul. Di sana, Gus Makruf bukan hanya hadir, tapi menyatu.
Ia bertemu kawan-kawan seperjuangan dari berbagai daerah. Namun yang paling mengharukan, ketika ia bersalaman dan berdiskusi dengan para Senior-nya. Para tokoh yang duduk di kursi DPRD Provinsi Jawa Timur, hingga para petinggi di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Mereka bagaikan sesepuh perguruan yang bijaksana, dan Gus Makruf adalah murid yang penuh semangat namun tetap menjunjung tinggi hormat.
MUSUH BERSAMA - RACUN PEMUSNAH GENERASI
Di tengah hangatnya diskusi dan silaturahmi, wajah Gus Makruf berubah serius. Ada topik berat yang harus diangkat. Sebuah bahaya maha dasyat yang sedang mengintai.
"Para Sesepuh, Para Senior yang saya hormati," suara Gus Makruf lantang namun penuh penekanan, layaknya juru silat yang mengeluarkan suara batin.
"Bangsa kita sedang dalam bahaya! Musuh tak terlihat telah menyebarkan racun mematikan. NARKOBA!"
Suasana hening sejenak.
"Para gembong kejahatan ini memiliki niat jahat yang sangat dalam. Mereka tidak hanya mencari keuntungan, tapi berniat merusak tulang punggung bangsa. Target mereka adalah generasi muda! Mulai dari Sekolah Dasar, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Bahkan, tempat suci seperti Pondok Pesantren pun kini menjadi incaran mereka," urai Gus Makruf dengan mata berapi-api.
"Kita tidak bisa diam! Jika generasi penerus hancur, siapa yang akan memimpin negeri ini esok?"
Gus Makruf memohon dan berharap, para senior yang memiliki pengaruh besar dapat menjadi jembatan. Berkoordinasi erat dengan BNN (Badan Narkotika Nasional) dan Kepolisian Republik Indonesia. Membuat strategi hebat, bagaikan menyusun formasi perang, untuk menjaga setiap pintu gerbang pendidikan dan tempat belajar.
SATU NADA, SATU TEKAD
Kekhawatiran Gus Makruf tidak jatuh ke tanah. Tidak seperti suara yang bergaung sendiri di lembah sepi.
Para senior mengangguk setuju. Wajah mereka menunjukkan kesepahaman yang mendalam.
"Kau benar, Makruf. Bahaya ini nyata," sahut salah satu sesepuh.
"Kita sepakat! Anak bangsa harus diselamatkan! Darah daging kita, masa depan negeri ini tidak boleh hancur dimakan racun," seru yang lain.
Ide dan gagasan Gus Makruf diterima dengan tangan terbuka. Sebuah kesepakatan kuat terjalin. Bahwa perang melawan narkoba adalah perang suci yang harus dimenangkan.
AKHIR PERKUMPULAN, AWAL PERJUANGAN
Dua hari berlalu bagaikan sekejap mata. RAKERNAS dan BIMTEK telah usai. Banyak ilmu didapat, banyak strategi disusun.
Gus Makruf bersiap pulang. Hatinya penuh. Bukan hanya membawa kenangan, tapi membawa bekal ilmu dari para tokoh pelosok Nusantara. Setiap cerita, setiap pengalaman, menjadi pelajaran berharga bagaikan ilmu yang baru saja dikuasai setelah bertapa dan belajar di tempat suci.
Kereta cepat kembali membawanya pulang ke Mojokerto. Pikirannya tenang, namun semangatnya kini berkali-kali lipat membara.
"Terima kasih Tuhan, pertemuan ini memberiku kekuatan. Masukan-masukan ini akan aku jadikan pelita untuk mengabdi lebih baik lagi kepada rakyat," batinnya.
Perjalanan kali ini mengajarkannya, bahwa meski terpisah oleh jarak dan pulau, jika niatnya tulus untuk rakyat dan bangsa, maka seluruh Nusantara akan menjadi satu kekuatan yang tak terkalahkan.
Dan di tanah kelahirannya kembali, Gus Makruf siap melangkah, dengan wawasan yang lebih luas, untuk mengabdi pada negeri yang dicintainya.
Writer. : Bastian Tito
Editor. : Niki Kosasih
