Gus Makruf Ketua DPC PERGURUAN PENCAK SILAT PAGAR NUSA MOJOKERTO JUGA ANGGOTA DPRD KABUPATEN MOJOKERTO DARI FRAKSI PAN dan Rombongan Pendekar Pagar Nusa dari Lirboyo Kediri Besuk di RSI SAKINAH Sooko Mojokerto
Musim Kemarau dengan Bedidingnya menyelimuti bumi Majapahit.
Langit Mojokerto masih kelabu ketika iring-iringan kendaraan hitam meninggalkan sekretariat Pimpinan Cabang Pagar Nusa di Ngoro. Dari sana mereka bergerak menuju Dawar Blandong. Setelah silaturahmi selesai, rombongan seharusnya kembali pulang.
Namun lelaki berambut perlente yang dipanggil Gus Makruf justru meminta kendaraan berbelok.
"Ada anak muda sedang sakit."
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya.
Tak seorang pun bertanya lagi.
Mereka tahu...
Bila seorang pendekar memutuskan menolong seseorang, maka perjalanan itu bukan lagi urusan jarak. Melainkan panggilan hati.
Di sebuah rumah sederhana, seorang pemuda bernama Widodo terbaring lemah.
Tubuhnya panas.
Ibunya duduk di samping ranjang dengan mata sembab.
Tak ada uang.
Tak ada kendaraan.
Tak ada sanak saudara yang mampu membantu.
Mereka hanya bisa berdoa.
Saat itulah pintu rumah diketuk.
"Assalamu'alaikum..."
Suara itu terdengar lembut.
Sang ibu membuka pintu.
Beberapa lelaki berseragam hitam berdiri dengan wajah teduh.
Di depan mereka, Gus Makruf hanya berkata,
"Mari... kita bawa anak ini ke rumah sakit."
"Maaf Gus... kami tidak punya biaya."
Gus Makruf tersenyum.
"Kalau menolong harus menunggu kaya, mungkin dunia sudah lama kehilangan orang baik."
RSI Sakinah Sooko.
Lorong rumah sakit terasa sunyi.
Widodo akhirnya mendapatkan penanganan medis.
Infus mulai menetes perlahan.
Sementara para pendekar berdiri tanpa suara.
Tidak ada yang sibuk mengambil gambar.
Tidak ada yang berlomba menunjukkan jasa.
Bagi mereka...
Membantu manusia bukanlah pertunjukan.
Melainkan laku hidup.
Salah seorang murid muda bertanya pelan.
"Gus... kenapa panjenengan begitu peduli kepada orang yang bahkan bukan keluarga?"
Gus Makruf menatap jendela.
Angin kencang dan dingin diluar begitu terasa semriwing.
Lalu beliau menjawab pelan.
"Dalam ilmu silat, kita diajari memukul bila harus membela kebenaran. Tapi sebelum tangan belajar memukul, hati harus lebih dulu belajar mengasihi."
Semua terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun menghantam lebih keras daripada seribu jurus.
Malam mulai turun.
Widodo mulai tersenyum.
Demamnya berangsur reda.
Ibunya menggenggam tangan Gus Makruf.
Air mata kembali jatuh.
"Kami tidak tahu bagaimana membalasnya."
Gus Makruf menggeleng.
"Doakan saja agar kami tetap menjadi manusia."
Bukan menjadi orang hebat.
Bukan menjadi pendekar yang ditakuti.
Melainkan manusia yang masih memiliki belas kasih.
Angin malam berembus pelan.
Rombongan Pagar Nusa meninggalkan rumah sakit.
Tak ada sorak kemenangan.
Tak ada tepuk tangan.
Yang terdengar hanya langkah-langkah perlahan para pendekar yang kembali menyusuri jalan Majapahit.
Mereka sadar...
Musuh terbesar seorang pendekar bukanlah orang yang membawa pedang.
Melainkan kesombongan di dalam dirinya sendiri.
Dan kemenangan terbesar...
Bukan ketika mampu menjatuhkan lawan.
Tetapi ketika mampu mengangkat orang lain yang sedang jatuh.
Di bawah langit Mojokerto yang mulai cerah, Gus Makruf berjalan paling depan.
Bayangannya memanjang diterpa lampu jalan.
Seorang murid berbisik,
"Gus... apakah ini juga bagian dari ilmu silat?"
Beliau tersenyum.
"Inilah jurus yang paling sulit."
"Namanya... Ikhlas."
Tobe continue…….
Writer: Bastian Tito
Editor: Citra Vilanovia